Sri Sultan HB X saat meninjau jembatan yang rusak di Wijirejo, Pandak, Kamis (30/11/2017). (Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo) Sri Sultan HB X saat meninjau jembatan yang rusak di Wijirejo, Pandak, Kamis (30/11/2017). (Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo)
Selasa, 5 Desember 2017 06:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

BENCANA JOGJA
Masih Tanggap Darurat, Sultan Minta Sungai Dibersihkan

Gubernur DIY Sri Sultan HB X meminta kabupaten dan kota untuk memaksimalkan masa tanggap darurat

Solopos.com, JOGJA–Gubernur DIY Sri Sultan HB X meminta kabupaten dan kota untuk memaksimalkan masa tanggap darurat bencana dengan membersihkan segala macam sampah yang terapung di sungai.

Karena jembatan yang penuh dengan batang kayu, bambu dan sampah lain berpotensi membuat infrastruktur itu ikut hanyut terbawa aliran kali.

“Pada masa tanggap darurat bencana ini saya minta [kabupaten dan kota] untuk membersihkan sungai karena kayu, bambu, dan sebagainya temangsang di jembatan. Kalau bambu besar enggak dibersihkan terus hujan lagi kayak kemarin, bisa larut [hanyut] lagi jembatannya,” katanya kepada wartawan di Kompleks Kepatihan, Senin (4/12/2017).

Pemerintah Daerah (Pemda) DIY telah menaikkan status dari siaga darurat bencana menjadi tanggap darurat bencana banjir, tanah longsor dan angin kencang mulai tanggal 1 Desember hingga 14 Desember 2017.

Sri Sultan HB X menyebut upaya bersih-bersih harus dilakukan semaksimal mungkin karena diprediksi musim hujan akan semakin memuncak pada Bulan Januari 2018. Jika tak segera dilakukan, ia khawatir sampah akan menumpuk di jembatan. Kondisi demikian akan mengakibatkan air merembes kemana-mana dan akhirnya terjadilah banjir.

Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu pun meminta pemerintah tingkat dua untuk memakai dana yang dimiliki untuk menjadikan sungai asri kembali. Bahkan ia meminta dana yang ada dihabiskan saja untuk membersihkan sungai dan jembatan.

“Wong ini sudah akhir tahun. Dalam artian harus membersihkan jabatan juga. Meskipun jembatan yang harus nangani itu adalah BBWSO [Balai Besar Wilayah Serayu Opak]. Mereka belum tentu ada dana untuk bersihkan bambu dan sebagainya. Lantas masak engga dibersihkan?” ucapnya.

Tindakan tersebut, sambungnya, sangat dibutuhkan karena kerugian yang ditimbulkan jembatan yang ambruk jauh lebih besar dari uang yang diperlukan untuk bersih-bersih sungai.

Sri Sultan HB X juga menyatakan Pemda DIY telah menyiapkan dana tak terduga sebesar Rp 14,7 miliar. Kabupaten dan kota yang hendak memanfaatkan uang tersebut harus mengajukan permintaan ke provinsi untuk mengetahui mana saja yang bisa dibantu oleh Pemda DIY.

lowongan pekerjaan
PT.SEJATI CIPTA MEBEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sekaten, Ritual dan Dakwah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (2/12/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Ilmu Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Awal Desember ini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan…