Para pembicara dalam Talkshow GNNT bertajuk Pembaharuan Kegiatan Bertransaksi di Era Digitalisasi Keuangan, di Gedung Heritage Bank Indonesia, Minggu (3/12/2017). (Harian Jogja/Holy Kartika N.S) Para pembicara dalam Talkshow GNNT bertajuk Pembaharuan Kegiatan Bertransaksi di Era Digitalisasi Keuangan, di Gedung Heritage Bank Indonesia, Minggu (3/12/2017). (Harian Jogja/Holy Kartika N.S)
Senin, 4 Desember 2017 09:20 WIB Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja Ekonomi Share :

Inilah Kenapa Generasi Milenial Harus Bijak Manfaatkan Produk Keuangan Digital

Yang perlu diperhatikan adalah dalam penggunaan layanan-layanan yang disediakan penyedia jasa keuangan

Solopos.com, JOGJA-Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) terus disosialisasikan Bank Indonesia dan menyasar segala lapisan masyarakat, salah satunya generasi milenial. Generasi ini diharapkan dapat lebih bijak dalam menyikapi tumbuhnya berbagai penyedia layanan jasa keuangan berbasis digital yang saat ini semakin menjamur.

“Generasi milenial sudah sangat akrab dengan teknologi saat ini. Namun, yang perlu diperhatikan adalah dalam penggunaan layanan-layanan yang disediakan penyedia jasa keuangan,” ujar Asisten Analisis Payment System Bank Indonesia Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DIY, Irmika Ngesti Handayani seusai mengisi Talkshow GNNT bertajuk Pembaharuan Kegiatan Bertransaksi di Era Digitalisasi Keuangan, di Gedung Heritage Bank Indonesia, Minggu (3/12/2017).

Mika, demikian biasa disapa, mengatakan, produk layanan keuangan digital semakin beragam. Namun, pada prinsipnya semua penyedia jasa tersebut menawarkan kemudahan akses dan kecepatan dalam bertransaksi keuangan.

Kendati demikian, generasi muda ini perlu bijak dalam menyikapi hal tersebut, terutama terkait fitur keamanan yang ada dalam setiap platform jasa keuangan yang ditawarkan. Mika menambahkan, sejauh ini penetrasi penggunaan platform keuangan digital sudah semakin baik.

“Secara persentase mungkin kami belum punya datanya. Namun, kalau melihat dari aktivitas agen bank di DIY ini cukup tinggi, bahkan tertinggi dibandingkan Sleman dan daerah lainnya. Hanya saja kalau dari sisi e money, contohnya kartu mahasiswa yang sudah terintegrasi dengan e-money, banyak yang belum dipahami oleh mahasiswa,” ungkap Mika.

Lebih lanjut Mika memaparkan, dalam sebuah survei yang dilakukan Bank Indonesia, KTM mahasiswa UGM sudah terintegrasi sebagai kartu e-money. Namun, ternyata tidak banyak mahasiswa yang memahami jika kartu tersebut dapat digunakan sebagai alat pembayaran, transaksi keuangan maupun perbankan.

Dalam talkshow yang diikuti sejumlah mahasiswa dan pelajar Kota Jogja ini juga turut menghadirkan narasumber dari Gojek dan Dompet Sehat. Vice President Gojek Jawa Tengah dan DIY Delly Nugraha memaparkan, gerakan nontunai sangat erat hubungannya dengan teknologi. Melalui layanan Go Pay yang awalnya hanya disediakan bagi pengguna aplikasi ojek online ini, kini menjadi aplikasi pembayaran yang semakin memudahkan berbagai transaksi.

“Penetrasi pengguna Go Pay ini tumbuh cukup pesat, dari sebelumnya hanya 14 persen pengguna Gojek yang menggunakan Go Pay, hanya dalam setahun sudah mencapai 53 persen,” ungkap Delly saat menyampaikan presentasi dalam talkshow tersebut.

lowongan pekerjaan
Impressions Body Care Center, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Tanggung Jawab Kesehatan Masyarakat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (29/11/2017). Esai ini karya Muhammad Sholahuddin, dosen di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan kandidat doktor bidang ekonomi di International Islamic University Malaysia. Alamat e-mail penulis adalah muhammad.sholahuddin@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO¬†— Beberapa waktu terakhir ini beredar…