Mujono, pengrajin genteng di Beran, Margodadi, Seyegan menata hasil produknya di atas lahan miliknya dengan maksud memanfaatkan sinar matahari yang ada, Kamis (30/11/12). (Harian Jogja/ Sekar Langit Nariswari) Mujono, pengrajin genteng di Beran, Margodadi, Seyegan menata hasil produknya di atas lahan miliknya dengan maksud memanfaatkan sinar matahari yang ada, Kamis (30/11/12). (Harian Jogja/ Sekar Langit Nariswari)
Senin, 4 Desember 2017 06:55 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Hujan Berkepanjangan Ganggu Produksi Genting dan Batu Bata Godean

Ketiadaan panas matahari menyulitkan proses penjemuran genting di wilayah sentra genting di Sleman itu

Solopos.com, SLEMAN-Hujan berkepanjangan yang terjadi pekan lalu mengganggu proses produksi genting yang banyak dilakukan perajin di sekitar wilayah Kwagon, Sidorejo, Godean. Ketiadaan panas matahari menyulitkan proses penjemuran genting di wilayah sentra genting di Sleman itu.

Widodo, salah satu perajin genting yang ditemui di Kwagon mengatakan, terpaksa memperlambat proses produksi yang biasa
dilakukannya untuk membuat genting dan batu bata. Pasalnya, hujan terus-menerus disertai dengan ancaman banjir di desanya selama pekan ini menghambat pekerjaannya.

“Enggak bisa kerja, enggak bisa jemur sama sekali, hujan terus tidak ada sinar matahari, mendung,” katanya ditemui Harian Jogja di bengkel kerjanya, Kwagon pada Kamis (30/11/2017) lalu.

Biasanya, ia membutuhkan waktu sekitar dua hari untuk menjemur batu bata hasil bikinannya hingga padat dan keras sehingga siap dijual. Dua hari itupun hanya akan berhasil apabila matahari bersinar terik. Proses serupa juga dialaminya untuk pembuatan genting meskipun waktu penjemurannya lebih pendek.

Batu bata dan genting bikinannya biasanya didiamkan selama dua sampai tiga hari dulu sebelum akhirnya dijemur. “Biar mulus,” ucapnya singkat ketika ditanya alasan pendiaman itu.

Faktanya, sudah beberapa waktu belakangan ia terpaksa menyesuaikan diri karena faktor alam yang tidak mendukung. Ia tetap bisa mencetak dan mendiamkan komoditasnya namun tak bisa menjemur sehingga pekerjaannya terbengkalai.

Dampak paling parah dirasakannya ketika Badai Cempaka memuncak awal pekan lalu. Akibatnya, ia harus menanggung kerugian setidaknya Rp400.000 akibat tiga hari tidak bekerja. Biasanya, ia menjual gentingnya dengan harga Rp150 per buah, sebagian besar merupakan pesanan dari Muntilan. Biasanya, dalam sehari ia bisa mencetak sekitar 300 genting yang kemudian menjadi sumber penghasilannya.

Musim penghujan juga membuat pengambilan tanah lempung, sebagai bahan baku genteng dan batu bata, lebih sulit. Bahan yang didapatkan juga tidak sebaik biasanya. Selain itu, proses pembakaran juga terganggu karena kayu bakarnya dalam keadaan lembab sehingga hasilnya tidak sempurna.

Hal serupa juga dialami Mujono, warga Beran, Margodadi, Seyegan yang juga memproduksi batu bata dan genting sejak puluhan tahun lalu. Musim hujan membuatnya tak bisa menjemur genting dan batu bata sementara proses cetak tetap jalan terus. Akhirnya, hasil produksinya tetap coba dijemur namun ditutupi plastik kala hujan turun.

Meski demikian, hasilnya juga tak memuaskan karena batu batanya yang sudah dicetak malah ada yang rusak akibat terkena hujan. Selain itu, ia juga mulai kehabisan lahan sebagai tempat menjemur hasil produksinya. Sebabnya, dengan sistem adaptasi ini setidaknya butuh seminggu agar gentengnya kering sempurna.”Per hari ya rugi Rp500.000,” keluhnya.

lowongan pekerjaan
PT.SEJATI CIPTA MEBEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Tanggung Jawab Kesehatan Masyarakat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (29/11/2017). Esai ini karya Muhammad Sholahuddin, dosen di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan kandidat doktor bidang ekonomi di International Islamic University Malaysia. Alamat e-mail penulis adalah muhammad.sholahuddin@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO¬†— Beberapa waktu terakhir ini beredar…