Pemandangan saat banjir merendam permukiman termasuk pusat kota di Pacitan, Jawa Timur, Rabu (29/11/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Destyan Sujarwoko)
Senin, 4 Desember 2017 13:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

Catatan Perjalanan Menembus Lokasi Bencana Pacitan

Bencana banjir dan tanah longsor sebagai dampak siklon tropis Cempaka menerjang sebagian wilayah Kabupaten Pacitan, Selasa (28/11/2017). Wartawan madiunpos.com, Abdul Jalil, berjibaku dengan genangan air dan timbunan material longsor untuk menembus lokasi bencana di kabupaten yang dijuluki Kota 1.001 Gua itu. Berikut kisah perjalanannya.

Solopos.com, PACITAN — Hujan mengguyur deras di wilayah Madiun, Selasa (28/11/2017) siang. Beberapa informasi dari grup Whatsapp mengenai berbagai bencana mulai bermunculan. Salah satunya informasi bencana alam di Pacitan Jawa Timur. Saat itu terkonfirmasi korban jiwa di Pacitan sebanyak 11 orang.

Abdul Jalil (Facebook)

Abdul Jalil (Facebook)

Setelah menerima informasi itu, saya langsung berkemas menyiapkan bekal untuk beberapa hari selama liputan bencana di Pacitan. Tidak lupa perlengkapan liputan seperti laptop, kamera DSLR, smartphone, dan powerbank masuk dalam tas ransel. Beberapa potong kaus dan celana pun turut dibawa.

Saat hendak berangkat, hujan masih terus mengguyur dengan intensitas cukup deras. Dengan membulatkan niat, saya bersama seorang kawan nekat menembus guyuran hujan yang amat deras dengan sepeda motor dan mengenakan jas hujan.

Saya mengalokasikan waktu tempuh dari Madiun ke Pacitan selama empat jam. Tetapi, alokasi waktu yang saya prediksikan ternyata tidak tepat.

Sesampainya di Desa Wates, Kecamatan Slahung, Ponorogo, saya harus menghentikan laju kendaraan karena jalan tertutup tanah longsor. Kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melewati jalur tersebut.

Dalam kondisi demikian, saya sudah hampir menyerah untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi bencana di Pacitan. Hingga akhirnya ada dua warga Desa Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo, Pacitan, yang hendak ke Pacitan melalui jalur alternatif.

Saya bersama beberapa warga memutuskan menerabas longsor melalui jalur alternatif di Desa Gemaharjo. Salah satunya, Wondo, warga Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo, Pacitan.

Wondo saat itu kaget dengan tanah longsor yang terjadi di Desa Wates dan memutus jalan utama Ponorogo-Pacitan. Dia bersama rekannya sehabis berkebun di hutan Perhutani di wilayah Slahung dan hendak pulang ke rumahnya di Gemaharjo.

Wondo kemudian mengajak saya untuk ikut melewati jalur alternatif yang ada di hutan. Namun, sebelum melaju, Wondo sudah menjelaskan dirinya tidak pernah lewat jalur tersebut karena memang selama ini tidak pernah dihadapkan dengan kondisi longsor yang demikian parahnya.

“Saya lewat jalur ini terakhir tiga tahun lalu. Jadi sudah lupa jalannya seperti apa. Tapi karena keadannya seperti ini. Mau tidak mau ya harus lewat sini,” ujar dia.

Jalan yang kami lewati berada di tengah hutan dengan medancukup terjal dan menanjak. Beberapa titik jalan terlihat tergenang air dan kanan jalan adalah jurang dan persawahan. Hal itu diperparah dengan padamnya listrik sehingga tidak ada penerangan sama sekali kecuali dari lampu sepeda motor.

Saat dalam perjalanan, ada seorang pengendara dan yang dibonceng terpaksa jalan kaki karena rantai sepeda motornya putus. Wondo pun membantu kedua pemuda itu dengan mendorong sepeda motornya hingga ke jalan raya.

Setelah berpeluh dan penuh kekhawatiran melewati jalan berbukit sekitar 40 menit, akhirnya kami sampai di pusat Desa Gemaharjo. Karena hujan semakin deras, saya memutuskan untuk beristirahat dan bermalam di Masjid Agung Gemaharjo.

 

Empat pemuda mengangkat sepeda motor untuk melewati material longsoran di Jalan Pacitan-Ponorogo kilometer 34, Dusun Gamping, Desa Ngreco, Kecamatan Arjosari, Rabu (29/11/2017) pagi. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Empat pemuda mengangkat sepeda motor untuk melewati material longsoran di Jalan Pacitan-Ponorogo kilometer 34, Dusun Gamping, Desa Ngreco, Kecamatan Arjosari, Rabu (29/11/2017) pagi. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Ada beberapa sukarelawan dari Ponorogo yang juga bermalam di Masjid Agung Gemaharjo. Mereka mengaku membawa obat-obatan dan pakaian serta selimut untuk korban bencana di Pacitan.

“Tadi berangkat dari Ponorogo sore sebelum longsor di Wates. Kemudian masuk di Pacitan ada informasi kalau jalur di Tegalombo dan Arjosari tidak dapat dilalui kendaraan bermotor. Jadi kita bermalam di masjid,” ujar salah satu sukarelawan.

Keesokan harinya, Rabu (29/11/2017), setelah Salat Subuh dan bersih-bersih badan, saya pun melanjutkan perjalanan menuju Pacitan. Hujan masih mengguyur meski dalam intensitas kecil. Perjalanan ke Pacitan disambut dengan udara dingin. Belasan titik longsor terjadi di sepanjang wilayah Tegalombo.

Di Desa Ngreco, Kecamatan Arjosari, saya harus meminta tolong pemuda desa setempat yang menyediakan jasa angkut sepeda motor untuk melewati material longsoran sepanjang sekitar 50 meter. Dalam satu kali angkut, kami harus merogoh kocek Rp25.000. Pemanfaatan jasa ini karena jalan yang tertutup longsoran tidak mungkin dilewati karena kedalaman lumpur mencapai sekitar 70 cm.

Tidak hanya tertutup longsor, jalan di Desa Gegeran, Kecamatan Arjosari, Pacitan, justru ada titik yang hampir separuh jalannya ambrol. Sehingga jalan tersebut berhadapan langsung dengan Sungai Grindulu.

Sesampainya di Desa Arjosari, tumpukan material berupa pasir dan lumpur tebal berserakan di jalan utama menuju Pacitan. Daerah tersebut merupakan yang terparah dalam bencana banjir pada Selasa lalu. Di sepanjang jalan di sisi kiri maupun kanan terlihat warga membersihkan rumah mereka dari lumpur yang masih menggenangi rumah.

Kondisi jalan Ponorogo-Pacitan yang tergerus arus Sungai Grindulu di Pacitan, Rabu (29/11/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Solopos)

Kondisi jalan Ponorogo-Pacitan yang tergerus arus Sungai Grindulu di Pacitan, Rabu (29/11/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Solopos)

Sesampainya di wilayah kota yang merupakan titik paling parah bencana banjir bandang itu, sepeda motor yang saya naiki mogok karena kemasukan air. Saya pun harus segera memperbaikinya, beruntung saat itu ada warga yang baik hati membantu untuk memulihkan kendaraan saya.

Saat itu bahan bakar sepeda motor sudah mendekati habis. Beberapa SPBU di Pacitan tutup karena terdampak banjir dan beberapa lagi stok bahan bakarnya habis. Selain itu, untuk menuju ke titik longsor maupun titik utama banjir perlu kendaraan yang khusus seperti motor cross karena ketinggian air masih di atas 50 cm dan sepeda motor bebek tidak mungkin bisa menerjangnya.

Pada hari Rabu malam, tampak aktivitas pereknomian di Pacitan masih lumpuh. Hal itu dibuktikan hanya beberapa warung makan yang buka. Itupun stok nasi dan lauknya sangat terbatas sehingga dalam beberapa saat sudah habis. Beberapa wilayah di Kecamatan PAcitan juga masih mengalami pemadaman listrik.

Bencana alam di Pacitan ini bisa dikatakan terbesar dalam 50 tahun terakhir, berdasarkan informasi dari warga. Bencana Pacitan ini juga bisa dikatakan sebagai bencana terbesar di wilayah Madiun Raya selama tahun 2017 selain tanah longsor di Desa Banaran Ponorogo awal tahun 2017.

Berdasarkan data dari BPBD Pacitan hampir seluruh wilayah Pacitan dilanda bencana dengan intensitas beragam. Namun, ada enam kecamatan di Pacitan yang sampai memakan korban jiwa. Yaitu paling parah di Kecamatan Kebonagung dengan korban jiwa sebanyak 12 orang, Kecamatan PAcitan lima orang, Tulakan tiga orang, Arjosari dua orang, Nawangan dua orang, dan Tegalombo satu orang.

Titik bencana antarkecamatan lokasnya juga cukup jauh. Semisal titik lokasi di Desa Klesem, Kecamatan Kebonagung, berjarak sekitar 20 km dari Pacitan kota. Perjalanan ke titik ini juga membutuhkan tenaga ekstra karena kondisi jalan yang cukup ekstrem dengan beberapa titik longsor.

Pasar Arjosari yang berlokasi di Desa Arjosari, Kecamatan Arjosari, Pacitan, terendam lumpur dan air, Rabu (29/11/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Pasar Arjosari yang berlokasi di Desa Arjosari, Kecamatan Arjosari, Pacitan, terendam lumpur dan air, Rabu (29/11/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Lain Kebonagung lain di Kecamatan Nawangan. Di Kecamatan Nawangan, jarak dari kota mencapai 35 km dengan kondis jalan yang lebih ekstrem. Pada Sabtu (2/12/2017), saya menuju ke lokasi longsor di Kecamatan Nawangan, saya berkali-kali melewati jalan yang dipenuhi material longsoran. Saya pun harus meminta bantuan pemuda setempat untuk membantu mengangkat sepeda motor supaya bisa melewati jalan yang dipenuhi tanah dan lumpur.

Korban meninggal dunia bencana alam di Pacitan sebanyak 25 jiwa itu tersebar di enam kecamatan. Sampai saat ini masih ada lima korban yang belum ditemukan. Tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian di beberapa titik.

Sembari masih melakukan pencarian korban, kondisi Kota Pacitan juga sudah mulai ada kehidupan. Pusat-pusat perekonomian mulai buka. Pemilik toko mulai membersihkan lumpur yang masuk di dalam toko. Pedagang-pedagang pasar tradisional juga telah membuka dasaran meski hanya di trotoar pasar.

Pacitan kini bangkit dari keterpurukan karena bencana. Warga dan sukarelawan yang datang dari berbagai daerah mulai membenahi Pacitan supaya menjadi semula dan bahkan lebih baik sebagai daerah yang memiliki potensi wisata.

LOWONGAN KERJA
PAUD EL-MEDINA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sekaten, Ritual dan Dakwah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (2/12/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Ilmu Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Awal Desember ini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan…