Pemeran dukun (kiri) mencoba mengobati Putri (naiki balok kayu) yang pura-pura gila karena divonis terinfeksi HIV/AIDS dalam salah satu fragmen teater komedi berjudul Kembang Desa Sidoluhur di Taman Krido Anggo Sragen, Minggu (3/12/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Pemeran dukun (kiri) mencoba mengobati Putri (naiki balok kayu) yang pura-pura gila karena divonis terinfeksi HIV/AIDS dalam salah satu fragmen teater komedi berjudul Kembang Desa Sidoluhur di Taman Krido Anggo Sragen, Minggu (3/12/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Minggu, 3 Desember 2017 14:45 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Seniman dan Diskominfo Sragen Sosialisasikan Bahaya HIV/AIDS Lewat Teater

Pentas teater untuk menyosialisasikan bahaya HIV/AIDS digelar di Sragen.

Solopos.com, SRAGEN — Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) Sragen bersama Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sragen menggelar pementasan teater komedi bertajuk Kembang Desa Sidoluhur, Minggu (3/12/2017) pagi, di kolosium mini tengah Taman Krido Anggo Jl. Raya Sukowati, Kauman, Sragen Wetan, Sragen  

Dalam pertunjukan yang disutradarai Pine Wiyatno itu, sepasang suami-istri tampil mengawali lakon. Martabat dan istrinya merupakan keluarga kaya yang memiliki anak perempuan tunggal di Desa Sidoluhur. Putri, anak gadis mereka tumbuh menjadi kembang desa.

Dengan kekayaan yang dimiliki Martabat, Putri dikuliahkan ke kota besar. Putri pun larut dengan kehidupan hedonisme di kota, seperti dugem, mabuk-mabukan di diskotik, bahkan sampai mengenal narkoba. Putri mengikuti tes kesehatan di klinik kampusnya dan hasilnya mengarah pada terjangkitnya penyakit HIV/AIDS.

Putri pun pulang ke desanya dan berlagak seperti orang gila karena beban penyakit tersebut. (baca: 4 Wanita PSK Gunung Kemukus Sragen Positif Idap HIV/AIDS)

Piye ta pak, anake dewe kae? Kok tambah ora karuan. [Bagaimana pak, anak kita itu? Kok bertambah tidak karuan?]” ujar Bu Martabat kepada suaminya.

Tiba-tiba Ny. Martabat ingat pada mimpinya semalam. Hanya seorang paranormal di pinggir Sungai Progo yakni Eyang Progo yang bisa menyembuhkan Putri. Martabat pun memanggil Pardi, pembantunya, untuk mencari Eyang Progo.

Di pinggiran Sungai Progo, hidup seorang kakek-kakek bersama anak laki-lakinya yang setiap hari hanya memancing di sungai. Pardi datang ke rumah itu dan mengira kakek-kakek itu Eyang Progo. Si kakek mengelabuhi Pardi agar menemui anaknya yang suka mancing dan memaksanya menjadi Eyang Progo. Pardi pun membawa anak kakek itu ke Desa Sidoluhur untuk mengobati kegilaan Putri.

Pada akhirnya, Eyang Progo mengaku bukanlah dukun dan mengetahui bila Putri hanya pura-pura gila dengan beban penyakit HIV/AIDS. “Iya, saya begini karena takut dimarahi orang tua kalau saya terkena virus mematikan itu. Saya tidak berani bilang,” kata Putri.

Eyang Progo menyampaikan apa yang dialami Putri kepada Martabat dan istrinya. Di tengah penjelasan itu, tiba-tiba ada seorang petugas Dinas Kesehatan datang dan menyampaikan hasil tes darah Putri dari kampusnya keliru. Petugas Dinas Kesehatan itu menyatakan putri sehat dan negatif dari virus HIV/AIDS. Mendengar penjelasan itu, Putri girang dan menyatakan bertaubat.

“Jadi pertunjukan ini sebagai sarana hiburan tetapi di dalamnya dibungkus dengan pesan-pesan moral untuk peringatan Hari AIDS Sedunia. Para generasi muda jangan mudah terjerumus dalam pergaulan bebas dan harus pandai memilih kawan. Penyakit HIV/AIDS itu penyakit mematikan tetapi penderitanya tidak harus dikucilkan,” ujar Kasi Media Komunikasi Diskominfo Sragen, Suratno.

 

lowongan pekerjaan
PT.MERAPI ARSITA GRAHA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Tanggung Jawab Kesehatan Masyarakat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (29/11/2017). Esai ini karya Muhammad Sholahuddin, dosen di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan kandidat doktor bidang ekonomi di International Islamic University Malaysia. Alamat e-mail penulis adalah muhammad.sholahuddin@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu terakhir ini beredar…