Kondisi jalan di Desa Gondang, Kecamatan Nawangan, Pacitan, yang dipenuhi material longsoran, Sabtu (2/12/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Kondisi jalan di Desa Gondang, Kecamatan Nawangan, Pacitan, yang dipenuhi material longsoran, Sabtu (2/12/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Minggu, 3 Desember 2017 10:15 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

BENCANA PACITAN
Nawangan Terisolasi Akibat Longsor, Bantuan Dikirim dengan Helikopter

Bencana Pacitan, Kecamatan Nawangan terisolasi lima hari setelah bencana longsor.

Solopos.com, PACITAN — Akses menuju Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, terisolasi sekitar lima hari terakhir. Seluruh jalan menuju wilayah Nawangan tertutup tanah longsor.

Ada dua jalur utama yang menghubungkan Kecamatan Nawangan yaitu Jalan Raya Arjosari-Nawangan dan Jalan Raya Nawangan-Purwantoro, Wonogiri. Untuk jalur Arjosari-Nawangan hingga Sabtu siang masih tertutup tanah longsor di beberapa titik.

Perjalanan Madiunpos.com ke wilayah Nawangan terkendala soal akses jalan, Sabtu (2/12/2017). Selama perjalanan dari wilayah Arjosari ke Nawangan ada sekitar 20 titik longsor dengan besaran timbunan tanah yang berbeda.

Tercatat ada dua tanah longsor yang material longsorannya menutupi jalan raya. Pertama di Dusun Krajan dan Dusun Klepu, Desa Gondang, Kecamatan Nawangan, sepeda motor dan kendaraan roda empat tidak bisa melintas. Namun, untuk kendaraan roda dua masih bisa melintas dengan dibantu warga sekitar.

Selain itu, akses masuk Kecamatan Nawangan melalui Kabupaten Wonogiri yaitu Jalan Raya Purwantoro-Nawangan tepatnya di Desa Ngromo juga tertutup longsor. Sepeda motor masih bisa lewat dengan melewati gundukan material longsoran setinggi 2 meter. Sedangkan kendaraan roda empat tidak dapat melintas.

Padahal di Kecamatan ini ada sembilan desa yang mengalami bencana tanah longsor dan mengakibatkan seribuan orang mengungsi. Selain itu, penduduk di wilayah itu yang sebanyak 51.301 jiwa terputus akses untuk menuju ke luar wilayah. (baca: 1.709 Rumah Rusak, Pemprov Jatim Gelontor Rp100 Miliar)

Selain memutus akses jalan, bencana tanah longsor yang terjadi pada Selasa (28/11/2017) itu juga memutus jaringan listrik dan komunikasi. Praktis selama lima hari puluhan ribu warga di kecamatan itu tidak dapat mengakses dunia luar baik melalui fisik maupun jaringan seluler.

Kasi Sosial Kecamatan Nawangan, Hasan Rosidi, 52, mengatakan seluruh desa di Nawangan mengalami bencana tanah longsor dengan intensitas yang beragam. Sejak Selasa, tanah longsor telah memutus jalan darat yang menjadi akses utama keluar masuk wilayah itu.

“Listrik dan jaringan telekomunikasi juga putus total. Kecamatan Nawangan pada malam hari gelap gulita. Kami hanya mengandalkan genset dari pengusaha yang ada di sini,” terang dia saat ditemui Madiunpos.com di posko bencana di Kecamatan Nawangan.

Ada dua posko bencana di Kecamatan Nawangan yaitu posko utara yang membawahi empat desa yaiti Tokawi, Pakis Baru, Penggung, dan Ngromo. Sedangkan pos selatan untuk Sempu, Nawangan, Mujing, Gondang, dan Jetis Lor.

Rumah Rusak

Di Kecamatan Nawangan, tanah longsor paling parah terjadi di Desa Penggung dan Desa Tokawi. Di Penggung satu orang warganya meninggal dunia setelah tertimbun material longsoran.

Lebih dari seribu warga masih mengungsi karena rumah mereka mengalami kerusakan. Mereka mengungsi di tempat pengungsian dan rumah tetangga yang dianggap lebih aman.

Kepala Desa Penggung, Bolo Winarso, menuturkan di Desa Penggung ada 689 pengungsi yang berada di 11 titik. Rumah yang mengalami kerusakan dan tidak dapat dihuni lagi sebanyak 221 rumah.

Dia menuturkan selama lima hari di Desa Penggung aliran listrik padam. Warga hanya bisa menunggu perbaikan jaringan listrik di desa tersebut.

Mengenai bantuan makanan dan pakaian, kata Winarso, saat ini baru sedikit yang masuk. Sedangkan bantuan dari pemerintah daerah baru masuk ke Desa Penggung pada Sabtu pagi. Itu pun jumlahnya tidak banyak karena distribusi menggunakan helikopter.

Penggunaan helikopter untuk mengangkut barang bantuan ini dilakukan karena jalur darat tidak bisa dijangkau. Sampai saat ini seluruh akses menuju ke desa tersebut masih terputus lantaran jalan tertutup material longsoran.

“Bantuan dari pemkab baru masuk tadi pagi. Bantuan dikirim melalui jalur udara dengan helikopter,” ujar dia.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan, Ratna Budiono, mengatakan ada satu helikopter dari BNPB yang disiagakan di Pacitan untuk menyalurkan bantuan ke lokasi bencana yang tidak dapat dijangkau angkutan darat.

Untuk di Kecamatan Nawangan, kata Ratna, bantuan baru dapat didistribusikan Sabtu pagi dengan menggunakan helikopter. Bantuan yang diberikan pun terbatas karena memang helikopter kapasitasnya tidak terlalu banyak.

“Helikopter tidak bisa mengangkut banyak. Kami mengirim makanan dan obat-obatan,” jelas dia.

Kolom

GAGASAN
Tanggung Jawab Kesehatan Masyarakat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (29/11/2017). Esai ini karya Muhammad Sholahuddin, dosen di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan kandidat doktor bidang ekonomi di International Islamic University Malaysia. Alamat e-mail penulis adalah muhammad.sholahuddin@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu terakhir ini beredar…