Pengendara melintas di jembatan Dengkeng Ngoreyan di Desa Ngandong, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, Sabtu (2/12/2017). Penyangga jembatan putus karena tergerus air. (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos) Pengendara melintas di jembatan Dengkeng Ngoreyan di Desa Ngandong, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, Sabtu (2/12/2017). Penyangga jembatan putus karena tergerus air. (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos)
Minggu, 3 Desember 2017 11:25 WIB Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos Klaten Share :

BANJIR KLATEN
Penyangga Jembatan Ngoreyan Gantiwarno Putus, Truk Dilarang Lewat!

Banjir Klaten berdampak pada kerusakan infrastruktur.

Solopos.com, KLATEN — Banjir yang melanda Klaten beberapa hari lalu juga mengakibatkan tiang penyangga jembatan Kali Dengkeng Ngoreyan di Desa Ngandong, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, putus.

Untuk sementara, jembatan penghubung Klaten dengan Gunungkidul, DIY, itu tak bisa dilintasi truk dan kendaraan bertonase tinggi.

Kepala Desa Ngandong, Surat, mengatakan putusnya penyangga jembatan itu diduga terjadi pada Selasa (28/11/2017) pukul 22.00 WIB karena tergerus derasnya aliran air.  Selain itu, penyangga-penyangga lainnya juga tidak center di posisi semula atau bergeser.

“Itu satu-satunya akses penghubung Gunungkidul ke Klaten khususnya kendaraan besar,” kata dia, saat ditemui wartawan di rumahnya, Sabtu (2/12/2017). (baca: Pulang, Korban Banjir Klaten Masih Bergantung Dapur Umum)

Pada Rabu (29/11/2017) pagi, Surat mengaku sempat menutup akses jembatan itu untuk menghindari dampak susulan. Jembatan itu hanya boleh dilalui kendaraan roda dua.

Ia juga melaporkan kejadian itu kepada instansi-instansi lain baik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), Polsek, Koramil, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan lainnya.

“Menurut DPUPR, jembatan bisa dilalui mobil asal jangan truk, bus, dan kendaraan besar. Saya pasang rambu peringatan di empat lokasi tadi pagi,” beber dia.

Banjir yang menerjang Ngandong mengakibatkan selokan Jetis Bulu jebol. Luapan air yang awalnya merendam 16 hektare sawah meluas menjadi 25 hektare sawah dengan tanaman berumur 2-3 pekan. Persawahan di selatan Kali Dengkeng seluas 16 hektare juga terendam.

Surat menyatakan Ngandong membutuhkan sekitar 3.000 karung untuk perbaikan darurat sejumlah saluran yang jebol. Sebelumnya, ia mendapatkan 500 karung pinjaman dari Desa Sawit. “Saya masih butuh 3.000 karung lagi. Saya kontak BPBD, katanya karung didrop di Kecamatan. Saya kontak PU SDA belum ada hasil,” kata dia.

Hal senada juga disampaikan Much Nasir, Camat Cawas. Ia menyatakan di Cawas memerlukan 2.000 karung untuk untuk gotog royong di Desa Baran. Karung itu bakal dikirim hari ini [Minggu] oleh SDA Provinsi.

Kukuh Riyadi, Camat Wedi, menuturkan untuk perbaikan darurat tanggul yang jebol di Desa Melikan membutuhkan sekitar 3.000 karung.

 

Kolom

GAGASAN
Tanggung Jawab Kesehatan Masyarakat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (29/11/2017). Esai ini karya Muhammad Sholahuddin, dosen di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan kandidat doktor bidang ekonomi di International Islamic University Malaysia. Alamat e-mail penulis adalah muhammad.sholahuddin@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu terakhir ini beredar…