Bangunan TPI Baron terlihat rusak akibat terjangan gelomban tinggi yang terjadi pada Jumat (1/12/2017) malam. (IST/Dok Satlinmas Rescue Isttmewa Wilayah II Gunungkidul) Bangunan TPI Baron terlihat rusak akibat terjangan gelomban tinggi yang terjadi pada Jumat (1/12/2017) malam. (IST/Dok Satlinmas Rescue Isttmewa Wilayah II Gunungkidul)
Sabtu, 2 Desember 2017 16:20 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Teras TPI Pantai Baron Runtuh Diterjang Gelombang Tinggi

Para nelayan dan pelaku usaha di pesisir Gunungkidul harus tetap waspada

Solopos.com, GUNUNGKIDUL-Gelombang tinggi di kawasan Pantai Selatan pada Jumat (1/12/2017) malam mengakibatkan kerusakan fasilitas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Pantai Baron, Desa Kemadang, Tanjungsari. Selain itu, dilaporkan sebuah kapal nelayan di Pantai Ngrenehan, Desa Kanigoro, Saptosari.

Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Gunungkidul Marjono mengatakan, gelombang tinggi di kawasan Pantai Selatan sudah terlihat sejak Jumat siang. Namun, puncak gelombang terjadi pada Jumat malam sekitar pukul 19.00 WIB dengan ketinggian mencapai 15 feet atau sekitar 4,5 meter. “Kalau saat ini [Sabtu pagi] kondisinya sudah kembali normal,” kata Marjono saat dihubungi Harian Jogja, Sabtu (2/12/2017).

Menurut dia, dalam peristiwa itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Namun, akibat terjangan gelombang membuat kondisi Pantai Baron mengalami abrasi sedalam 1-2 meter. Selain itu, teras di TPI mengalami kerusakan karena terkikis oleh air laut. “Awalnya memang cuma talut yang rusak, tapi lama-kelamaan teras TPI juga ikut rusak karena diterjang gelombang,” ujarnya.

Secara umum, sambung Marjono, naiknya tinggi gelombang tidak menimbulkan banyak kerusakan. Dari catatan yang dihimpun personel Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Gunungkidul, kerusakan hanya terjadi di dua lokasi, yakni di Pantai Baron dan Ngrenehan. Di pantai Ngrenehan dilaporkan sebuah kapal rusak karena terhempas gelombang air laut. “Sisanya daerah pantai lain aman terkendali,” ungkapnya.

Minimnya jumlah kerusakan akibat terjangan gelombang tinggi tidak lepas dari antisipasi yang dilakukan oleh anggota Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Gunungkidul. Dua hari sebelum terjadinya puncak gelombang, petugas sudah rutin melakukan sosialisasi terhadap potensi naiknya gelombang di pantai selatan.

“Kami bersyukur sosialisasi tentang peringatan dini naiknya gelombang direspons baik. Nelayan pun dengan sukarela memindahkan kapal ke tempat yang lebih tinggi. Jadi saat puncak, kerugiannya bisa dikurangi,” tutur Marjono.

Terpisah, Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Sutaryono mengaku sudah mendapatkan laporan terkait naiknya gelombang di pantai selatan. Dia pun bersyukur fenomena alam ini dapat diantisipasi dengan baik sehingga kerusakan yang terjadi dapat dikurangi.

Kendati demikian, sambung dia, para nelayan dan pelaku usaha di pesisir Gunungkidul harus tetap waspada. Pasalnya cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini masih sangat mungkin terjadi lagi. “Harus tetap waspada karena ini untuk menghindarkan dari hal-hal yang tak diinginkan,” ujar dia.

Kolom

GAGASAN
Tantangan Guru pada Era Digital

Gagasan ini dipublikasikan Harian Solopos edisi Sabtu (25/11/2017). Esai ini karya Novy Eko Permono, alumnus Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah novyekop@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Krisis multidimensional yang dihadapi bangsa Indonesia semakin pelik mana kala arus…