Penampilan salah satu anggota komunitas keroncong dalam program musik Golden Memories di Etnik Cafe Ayola Tasneem Convention Hotel, Jumat (1/12/2017). (Harian Jogja/Holy Kartika N.S) Penampilan salah satu anggota komunitas keroncong dalam program musik Golden Memories di Etnik Cafe Ayola Tasneem Convention Hotel, Jumat (1/12/2017). (Harian Jogja/Holy Kartika N.S)
Sabtu, 2 Desember 2017 22:20 WIB Holy Kartika N.s/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Tampil Baru, Golden Memories Ayola Tasneem Sajikan Musik Keroncong

Kali ini, suasana berbeda dihadirkan dengan nuansa keroncong

Solopos.com, JOGJA-Ayola Tasneem Convention Hotel menghadirkan musik-musik keroncong kenangan dalam program reguler Golden Memories. Musik khas Indonesia ini tampil perdana dan sekaligus menandai peluncuran satu komunitas keroncong baru di Etnik Cafe, Jumat (1/12/2017).

General Manager Ayola Tasneem Convention Hotel Eko Yulianto mengatakan, hotel ini dulunya berada di kawasan bagi komunitas pencinta tembang kenangan. “Untuk membangkitkan kembali momen-momen itu, kami ingin kenangan mereka tetap dapat dinikmati dengan program Golden Memories di Etnik Cafe ini,” ujar Eko, Jumat (1/12/2017).

Eko mengatakan, sebelumnya Golden Memories yang selalu digelar setiap Jumat malam menyajikan musik-musik kenangan bergenre pop. Kali ini, suasana berbeda dihadirkan dengan nuansa keroncong.

“Kami membidik segmen komunitas, memberikan ruang bagi para generasi di atas 60 tahunan ini untuk bisa berkumpul dengan sebayanya sambil bercengkerama dan menikmati musik zaman mereka,” ungkap Eko.

Food and Beverage Manager Ayola Tasneem Convention Hotel Yuli Ginting menambahkan, program Golden Memories kali ini memberikan hiburan bagi penikmat atau penggemar musik keroncong. Melalui program ini, Ayola Tasneem berupaya juga untuk melestarikan musik ini.

Selain itu, dalam gelaran musik keroncong perdana ini, juga diluncurkan komunitas keroncong di Etnik Cafe. Yuli memaparkan, selain memfasilitasi komunitas, hotel ini juga mewadahi paguyuban dan komunitas lainnya yang ingin menyelenggarakan kegiatan.

“Kami berharap, hotel ini semakin dikenal dan dapat menjadi ruang berekspresi, ruang nongkrong bagi komunitas. Selain musik, kami juga menghadirkan varian menu tradisional untuk bisa dinikmati dengan harga terjangkau baik bagi tamu, maupun pengunjung yang hanya ingin menikmati musik kenangan di cafe ini,” jelas Yuli.

Kolom

GAGASAN
Tantangan Guru pada Era Digital

Gagasan ini dipublikasikan Harian Solopos edisi Sabtu (25/11/2017). Esai ini karya Novy Eko Permono, alumnus Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah novyekop@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Krisis multidimensional yang dihadapi bangsa Indonesia semakin pelik mana kala arus…