Mushaf Alquran dari Banyuwangi di Malaysia (LPMQ) Mushaf Alquran dari Banyuwangi di Malaysia (LPMQ)
Sabtu, 2 Desember 2017 18:10 WIB JIBI/Solopos/Newswire Sains Share :

Ratusan Manuskrip Alquran Kuno Indonesia Ternyata Ada di Luar Negeri

Ratusan manuskrip Alquran kuno Indonesia ada di luar negeri.

Solopos.com, JAKARTA – Indonesia menjadi salah satu tempat perburuan manuskrip Alquran dan manuskrip lainnya oleh negara-negara serumpun Melayu. Fakta tersebut terungkap pada seminar Migrasi Munuskrip Alquran di Asia Tenggara yang diselenggarakan Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Kementerian Agama, di Jakarta.

Indonesia menjadi tujuan utama karena memiliki sebaran manuskrip merata dari Aceh hingga Nusa Tenggara Barat dan Maluku. “Kurang lebih sudah 700 manuskrip Alquran kuno Aceh keluar ke negara tetangga. Itu baru manuskrip Alquran, belum manuskrip Islam lainnya. Dan itu baru dari Aceh, belum lagi dari daerah lainnya di Indonesia,” ungkap Hakim Syukrie yang meneliti Mushaf Nusantara di Malaysia, Kamis (30/11/2017), seperti dilansir Kemenag.go.id.

Di Malaysia, ungkapnya, sebagian besar manuskrip Alquran-nya berasal dari Indonesia. Beberapa tempat penyimpanan manuskrip Alquran nusantara antara lain di Islamic Art Museum of Malaysia, Perpustakaan Negara, museum-museum, serta kolektor naskah.

Selain di Malaysia, manuskrip Alquran Indonesia juga banyak berada di Pattani. Hal tersebut diungkap oleh Ali Akbar, pakar mushaf kuno yang meneliti di Thailand. “Thailand Selatan, selain menjadi tempat “perburuan”, juga melakukan “perburuan” naskah dari negara kawasan, di antaranya Indonesia,” ungkapnya.

Ali Akbar mengungkapkan bahwa 90% manuskrip Alquran di Pattani dan Yala Thailand Selatan diduga kuat berasal dari Indonesia. “Berdasarkan perbandingan atas ragam hias dan informasi dari tetua masyarakat di sana, mushaf yang ada di Thailand selatan berasal dari Indonesia,” ujarnya.

Mushaf-mushaf tersebut awalnya dibawa oleh masyarakat Indonesia yang menyebar ke Thailand Selatan. Selain itu, ada juga yang dibeli dari Indonesia oleh para kolektor naskah. Uniknya, manuskrip Tailand Selatan juga diperjualbelikan ke negara lain, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.

Manuskrip Alquran menyimpan sejarah perkembangan ilmu kequranan, seperti ilmu rasm, tanda baca, tanda wakaf, dan perbedaan qiraat. Tentunya, selain kandungan ilmu kodikologinya. Dengan adanya mushaf kuno Alquran, umat Islam zaman sekarang mengetahui bagaimana orang membaca Alquran pada masa lalu.

Hal tersebut, menurut Ali Akbar, bisa menelisik akar tradisi baca Alquran masyarakat Indonesia. Jika manuskrip-manuskrip itu berada di negeri orang, maka para pelajar Indonesia akan kesulitan mengakses data tersebut. Pada gilirannya, hal itu bisa memutus mata rantai sejarah Islam di Indonesia.

Temuan yang sama disampaikan peneliti lainnya, Musaddad. Bahkan, dia harus membayar hanya untuk sekedar memfoto naskah mushafnya.

“Untuk sekali mengambil gambar foto naskah di salah satu tempat, kami diharuskan membayar 5 Sen. Itu sama saja kami harus membayar tiga ribu Sen untuk bisa meneliti satu mushaf. Padahal itu naskah berasal dari Indonesia,” ungkap Musadad yang melakukan penelitian mushaf Alquran Nusantara di Brunei.

Menurutnya, untuk memperkuat akar Identitas Melayu, Sultan Brunei sudah memberikan titah untuk mengumpulkan manuskrip Alquran.

Kolom

GAGASAN
Tantangan Guru pada Era Digital

Gagasan ini dipublikasikan Harian Solopos edisi Sabtu (25/11/2017). Esai ini karya Novy Eko Permono, alumnus Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah novyekop@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Krisis multidimensional yang dihadapi bangsa Indonesia semakin pelik mana kala arus…