Konferensi pers Kongres Nasional Alumni 212 di Aula Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Minggu (26/11/2017). (Suara.com) Konferensi pers Kongres Nasional Alumni 212 di Aula Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Minggu (26/11/2017). (Suara.com)
Sabtu, 2 Desember 2017 07:43 WIB Bantul Share :

Ponpes Sunan Kalijaga Minta Alumni 212 Bijaksana

Alumni 212 diharapkan batasi jumlah peserta
Solopos.com, BANTUL-Ponpes Sunan Kalijaga Bantul meminta agar alumni 212 yang berencana mengadakan reuni pada Sabtu (2/12/2017) di Jakarta bersikap sahaja dan bijaksana.
Pengasuh Ponpes Sunan Kalijaga, Gesikan, Bantul Beny Susanto mengatakan, perlu dibatasi berapa orang yang akan hadir karena tidak bijak jika massa terlalu banyak dalam suasana kebatinan bangsa dan negara hari ini. “Musibah banjir, tanah longsor, erupsi Gunung Agung, dan badai yang melanda sejumlah daerah seperti DIY, Bali, dan Pacitan, Jawa Timur lebih membutuhkan uluran, sentuhan, dan kearifan seluruh elemen bangsa,” ungkap dia dalam rilis yang diterima Harian Jogja, Sabtu (2/12/2017).
Ia menjelaskan, keluarga besar Ponpes Sunan Kalijaga mengapresiasi dan menghormati hak berkumpul, berpendapat, dan berpolitik reuni alumni 212 yang dijamin dalam konstitusi dan UU. Namun, ekspresi, artikulasinya tetap disertai fatsun politik, terutama dalam kerangka berdemokrasi yang lebih arif, cerdas dan dewasa.
“Dalam konteks politik Pilkada 2018, Pemilu 2019 ada timing yang lebih tepat, media, dan diatur dengan jelas. Hal ini sekaligus menghindari politik yang gaduh dan tumbuhnya apatisme politik publik akibat ketidakjelasan berdemokrasi,” papar dia.
Reuni alumni 212 jelas membutuhkan anggaran yang tidak sedikit dari warga untuk transportasi, akomodasi, dan dari negara untuk keamanan serta pelayanan lainnya. “Tidakkah lebih elok bila sebagian biaya dari alumni 212 yang tidak perlu hadir dan anggaran negara karena tidak perlu pengaman, pelayanan besar, dialihkan untuk meringankan beban, derita korban musibah?” kata dia.
Ponpes Sunan Kalijaga berpendapat, reuni alumni 212 meskipun mengumpulkan bukan menyatukan ribuan umat Islam, dihadiri para tokoh bangsa, ustadz, dan ulama yang lebih alim tentu bukanlah perintah agama dan larangan. “Ini day to day politik yang dibutuhkan atau tidak? Umat Islam nusantara dan berbagai umat lainnya, lebih berhajat pada politik dengan demokrasi yang makin dewasa, bertumbuhnya kesejahteraan dan keadilan sosial,” tutur dia.
Oleh karena itu, Ponpes Sunan Kalijaga bertausiyah agar alumni 212 membatasi diri, bersikap sahaja, dan bijaksana. Menurutnya, bagi kaum muslimin di DIY dan daerah yang tertimpa musibah, lebih utama, manfaat dan maslahah jika tinggal di tempat untuk meringankan beban, derita korban dengan doa, pikiran, tenaga dan harta. Ia menilai, cukuplah perwakilan saja, tidak perlu dalam jumlah besar karena juga berpotensi mengganggu hak orang lain, terutama sesama pengguna jalan.
“Kita bersama seluruh elemen bangsa dan negara, sudah saatnya bergandengan tangan berpolitik yang cerdas, arif, dan dewasa. Tidak lain semata harapan, ikhtiar bersama NKRI yang lebih hebat, adil, dan sejahtera dalam koridor Pancasila dan UUD 1945. Semoga berkah, rahmat dan ridho Allah SWT senantiasa tercurahkan bagi kita semua,” tutur dia.

 

Kolom

GAGASAN
Tantangan Guru pada Era Digital

Gagasan ini dipublikasikan Harian Solopos edisi Sabtu (25/11/2017). Esai ini karya Novy Eko Permono, alumnus Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah novyekop@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Krisis multidimensional yang dihadapi bangsa Indonesia semakin pelik mana kala arus…