Para pedagang di Pasar Rogobangsan memilih meninggalkan lapaknya untuk duduk dan bercengkerama bersama karena pasar sepi, Selasa (28/11/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja) Para pedagang di Pasar Rogobangsan memilih meninggalkan lapaknya untuk duduk dan bercengkerama bersama karena pasar sepi, Selasa (28/11/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Sabtu, 2 Desember 2017 01:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

PASAR TRADISIONAL SLEMAN
Pasar Rogobangsan, Riwayatmu Kini...

Pasar Rogobangsan merupakan pasar tradisional yang terletak di kawasan Jl. Cangkringan

Solopos.com, JOGJA-Pasar Rogobangsan merupakan pasar tradisional yang terletak di kawasan Jl. Cangkringan Km. 6 atau tepatnya di Dusun Rogobangsan, Bimomartani, Ngemplak, Sleman.

Pasar yang sempat ramai saat memasuki tahun 2000 ini, sekarang terlihat sepi. Pedagang yang masih bertahan di situ tidak lebih dari 10 orang.

“Kalau dulu 50 [pedagang] ada,” kata Sri, salah satu pedagang kebutuhan pangan yang masih bertahan sampai saat ini di pasar tersebut, Selasa (28/11/2017).

Ia mengatakan, posisi Pasar Rogobangsan sebenarnya sangat strategis karena jauh dari pasar tradisional lainnya. Lokasinya pun bisa menjangkau dua kecamatan yaitu Kecamatan Ngemplak dan Kalasan sehingga potensi warga yang berbelanja cukup tinggi.

Namun seiring perkembangan zaman, pasar ini banyak ditinggalkan konsumennya. Selain karena beberapa pedagang ada yang datang siang hari, semakin banyaknya pedagang sayur keliling membuat pasar ini sepi. Para pedagang keliling tersebut bahkan beroperasi sejak pukul 05.00 WIB, sama seperti waktu operasional Pasar Rogobangsan.

Sri menceritakan, dulu para konsumen datang dari berbagai dusun. Karena posisi Pasar Rogobangsan yang terletak di tepi jalan raya alternatif Prambanan-Magelang ini, membuat pasar ini mudah dijangkau oleh warga yang melintas di jalan tersebut. Namun konsumen saat ini hanya dari kalangan warga sekitar dan para petani yang akan pergi ke sawah.

“Dulu buka dari lima sampai seharian. Kalau sekarang jam sebelas [11.00 WIB] saja sudah kukut [tutup], apalagi kalau hujan begini,” kata Sri.

Pedagang yang berasal dari Manisrenggo, Klaten, ini memilih bertahan di Pasar Rogobangsan karena enggan mencari pelanggan lagi. “Kalau pindah ke pasar besar saingannya besar. Kalau pindah ya harus cari pasar lagi” tuturnya.

Saat Harianjogja.com berkunjung ke Pasar Rogobangsan, hanya terlihat lima pedagang yang berjualan. Dua pedagang berjualan sembako, satu pedagang menjual sayuran, dan sisanya makanan kecil.

Dua diantara mereka bahkan memilih meninggalkan lapaknya dan duduk di lincak untuk bercengkerama bersama karena pasar sepi. Lapak di pasar tersebut banyak yang kosong. Begitu pula dengan puluhan kios yang terlihat tutup.

Pedagang lainnya, Dari, mengatakan saat ini Pasar Rogobangsan hanya terlewati warga begitu saja. “Kita cuma nenggo kliwatan,” katanya.

Kolom

GAGASAN
Pertanian Maju, Petani Sejahtera

Gagasa ini dimuat Harian Solopso edisi Kamis (16/11/2017). Esai ini karya Budi Sutresno, anggota staf Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karanganyar. Solopos.com, SOLO–“Maju Pertaniannya, Sejahtera Petaninya” adalah semacam doa yang diilhami dari tagline Pemerintah Kabupaten Karanganyar menjelang perayaan seabad Kabupaten…