Sejumlah peserta mengikuti Pelatihan Tenun Pelangi Sejati di Sumber Arum Moyudan, 18 November 2017. (Foto istimewa) Sejumlah peserta mengikuti Pelatihan Tenun Pelangi Sejati di Sumber Arum Moyudan, 18 November 2017. (Foto istimewa)
Sabtu, 2 Desember 2017 07:20 WIB Abdul Hamied Razak/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Menenun, Membangun Ekonomi Warga Sumberarum

Sebagai desa pinggiran yang jauh dari keramaian kota, warga Sumberarum lebih kreatif untuk menggerakkan sektor ekonomi di sekitarnya.

Solopos.com, SLEMAN- Kelompok Usaha Bersama “Pelangi Sejati” Desa Sumberarum, Moyudan Sleman mampu mengembangkan potensi masyarakat. Desa yang berada di ujung Barat, berbatasan antara dengan Kulonprogo itu menyimpan potensi lainnya yaitu stagen tenun.

Kerajinan tenun yang dilakukan secara turun temurun itu terus ditata sedemikian rupa agar bermanfaat lebih bagi warga.

Pendamping Usaha Bersama (UB) Pelangi Sejati, Sumberarum Anindityo Dwiprakoso mengatakan, menenun sudah menjadi tradisi turun menurun dari warga.

Hampir setiap rumah memiliki alat tenun bukan mesin (ATBM). Menyadari potensi yang dimiliki, warga pada 19 Desember 2015 mendirikan sebuah usaha bersama. “UB ini berbasis koperasi kemudian dinamakan Pelangi Sejati,” katanya kepada Harianjogja.com, Minggu (26/11/2017).

Awalnya, lembaga yang dibentuk itu melayani simpan pinjam. Lambat laun nan pasti, pengelola UB mulai memberanikan untuk memasarkan produk tenunnya sendiri. Tentu saja itu dilakukan setelah berbagai pembekalan dan pendampingan dilakukan oleh sejumlah pihak. Tidak hanya produksi dan pemasaran, Oktober tahun ini pengelola UB memberanikan diri membuka kelas untuk kegiatan worskhop.

Angkatan pertama workshop dibuka 15 Oktober lalu. Untuk angkatan kedua digelar 18 Oktober lalu. Peserta diberi wawasan dan praktek budaya menenun. Tujuan membuka kelas praktek ini untuk melestarikan dan mengenalkan tenun yang secara turun-temurun sudah ada di sini.

“Selain itu, kami ingin memberi kesadaran kepada masyarakat untuk lebih mengetahui bagaimana tahap-tahap proses tradisional menenun yang panjang dan mengasyikkan untuk diikuti,” katanya.

Melihat antusisme peserta workshop tinggi, pihaknya bertekad untuk membuka angkatan ketiga yang akan digelar pada Januari 2018 mendatang. Hanya saja, peserta akan dikenai biaya Rp100.000 untuk peserta umum dan Rp80.000 untuk pelajar dan mahasiswa.

Selain untuk menyediakan bahan-bahan tenun, dana yang diberikan peserta digunakan untuk perawatan peralatan. “Peserta mendapat workshop untuk menenun dan hasilnya bisa dibawa pulang,” katanya.

Kreatif
Dia mengatakan, anggota UB ini sebanyak 45 ibu rumah tangga. Dalam sebulan, rata-rata omzetnya antara Rp2 juta hingga Rp3 juta. Itu belum termasuk pembelian insidental jika wisatawan mendatangi lokasi tersebut.

Berkat kreatifitas yang dimiliki para IRT tersebut, produksi tenun cukup beragam. Tidak hanya kain, tetapi beberapa barang dan aksesoris hasil tenun juga diproduksi. Tas, gelang, gantungan kunci, tempat ponsel, dompet dan produk lainnya secara kreatif dibuat oleh anggota UB.

Perkembangan tersebut, lanjutnya, seperti mengikuti perkembangan zaman. Jika dulu stagen tenun hanya berwarna hitam saja, saat ini diubah menjadi warna-warni. Perubahan warna ini yang menjadi asal mula Stagen Tenun Pelangi. “Desain yang membuat mereka sendiri. Hasil olahan rumah itu kemudian dikirim ke koperasi,” katanya.

Kedepan pihaknya akan terus mengembangkan pemasaran. Salah satunya dengan bekerjasama dengan sejumlah hotel untuk menjual produk-produk tenun UB tersebut.

Untuk menarik pengunjung, pihaknya juga akan bekerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan. “Kami akan gaet institusi pendidikan untuk peningkatan jumlah pengunjung,” katanya.

Menurut Bendahara UB Pelangi Sejati Harjiyah, hampir semua IRT di wilayahnya memiliki mesin tenun sendiri. Dengan begitu, mereka dapat membuat dan memproduksi kain tenun di rumah masing-masing. “Hasil tenun dihargai berbeda tergantung dari model dan biaya produksinya,” ujarnya.

Menurutnya, selain wisatawan nusantara lokasi tersebut juga banyak dikunjungi wisatawan mancanegara untuk melihat proses produksi kain tenun secara langsung. Sekali produksi panjang tenun mencapai 20 hingga 30 meter kain tenun.

Bahan yang digunakan dari bahan alami seperti kulit mahoni, kulit secang dan daun indigo. “Kami juga terus meningkatkan keahlian, kualitas dan kuantitas kain tenun agar tidak mengecewakan konsumen,” katanya.

Kolom

GAGASAN
Tantangan Guru pada Era Digital

Gagasan ini dipublikasikan Harian Solopos edisi Sabtu (25/11/2017). Esai ini karya Novy Eko Permono, alumnus Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah novyekop@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Krisis multidimensional yang dihadapi bangsa Indonesia semakin pelik mana kala arus…