Anggota Tim SAR gabungan beserta warga membersihkan material longsoran di titik lokasi longsor di Dusun Duren, Desa Klesem, Kecamatan Kebonagung, Pacitan, Jumat (1/12/2017). Empat jasad korban tanah longsor belum ditemukan. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Sabtu, 2 Desember 2017 20:40 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

LONGSOR PACITAN
Berniat Selamatkan Perhiasan di Rumah, Kakek Ini Tertimbun Longsor

Satu-satunya korban jiwa dalam bencana longsor Pacitan di Desa Penggung, Nawangan, ditemukan.

Solopos.com, PACITAN — Jenazah korban bencana tanah longsor di Dusun/Desa Penggung, Kecamatan Nawangan, Pacitan, bernama Satiman, 65, ditemukan warga di lokasi titik longsor pada Sabtu (2/12/2017) siang. Warga bersama petugas dari TNI dan Kepolisian mencari korban secara gotong royong menggunakan alat seadanya di lokasi longsor.

Kepala Desa Penggung, Bolo Winarso, 45, mengatakan jenazah Satiman telah ditemukan warga setelah lima hari tertimbun material longsor. Jenazah kemudian langsung dibersihkan dan dimakamkan di permakaman umum desa setempat.

Winarso menyampaikan warga bersama anggota TNI dan polisi mencari korban sejak longsor terjadi. Lantaran tak alat berat, warga hanya mencari dengan peralatan seadanya.

“Sudah ketemu tadi siang. Jenazah yang ditemukan atas nama Satiman. Itu satu-satunya korban jiwa di Desa Penggung,” ujar dia di Kantor Desa Penggung, Sabtu.

Winarso menceritakan bencana longsor di Dusun Penggung terjadi pada Selasa (28/11/2017) malam sekitar pukul 20.00 WIB. Saat itu, Satiman bersama keluarganya yang terdiri dari istri, anak, menantu, dan cucunya berada di rumahnya.

Hujan deras disertai angin kencang menerjang Desa Penggung malam itu. Tiba-tiba terdengar suara tanah longsor di belakang rumah Satiman. Satiman beserta keluarganya kemudian keluar dari rumah.

Namun, kata Winarso, Satiman kemudian kembali lagi ke rumah tersebut. Keterangan dari keluarga, Satiman ingin mengambil perhiasan yang tertinggal di dalam rumah. Hingga akhirnya sebelum berhasil keluar dari rumah, rumah tersebut telah tertimbun longsor.

“Informasinya mau mengambil perhiasan di dalam rumah. Tapi belum sampai keluar rumah sudah longsor,” jelas dia.

Tidak hanya Satiman, istri dan anaknya beranama Tinah dan Darsi juga mengalami patah tulang setelah tertimpa tanah longsor. Keduanya saat itu masih berada di dekat rumah saat material longsor datang.

Tinah dan Darsi mengalami patah tulang di bagian tangan dan kaki. Saat ini keduanya menjalani perawatan di RSUD Moewardi Solo. “Sedangkan menantu dan cucu Satiman selamat karena berhasil meloloskan diri,” ujar Winarso.

Kolom

GAGASAN
Tantangan Guru pada Era Digital

Gagasan ini dipublikasikan Harian Solopos edisi Sabtu (25/11/2017). Esai ini karya Novy Eko Permono, alumnus Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah novyekop@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Krisis multidimensional yang dihadapi bangsa Indonesia semakin pelik mana kala arus…