Talut yang berada di lingkup RT 06/03 Jali, Gayamharjo lonsgor yang membuat rumah warga jebol, Selasa (28/11/2017). (IST/FPRB Prambanan) Talut yang berada di lingkup RT 06/03 Jali, Gayamharjo lonsgor yang membuat rumah warga jebol, Selasa (28/11/2017). (IST/FPRB Prambanan)
Sabtu, 2 Desember 2017 09:42 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Lereng Prambanan Tetap Rawan

Warga di lokasi rawan bencana diminta wapada.

Solopos.com, SLEMAN— Masyarakat yang tinggal di lereng atas Prambanan diminta tetap waspada selama musim penghujan. Pasalnya, banyak rumah warga yang letaknya sangat dekat dengan tebing yang rawan longsor.

Hal itu disampaikan oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo pada Kamis (30/11/2017). “Karena banyak karakter rumah yang sedikit datar belakangnya langsung tebing, itu sangat labil terjadi ketika hujan deras,” katanya Kamis. Ia mengatakan ada sejumlah KK yang sudah bersedia direlokasi jika kemudian terjadi hujan berkepanjangan lagi.

Rencana relokasi ini bisa dilakukam di atas tanah kas desa dengan mekanisme yang sudah direncanakan selama ini. Meski demikian, ia berharap badai yang menyebabkan banjir tidak lagi terjadi di DIY. Selain itu, Pemkab Sleman kini sedang mengumpulkan data jumlah kerugian akibat cuaca buruk tersebut.

Pemerintah Kabupaten Sleman, lanjut Sri, telah mempersiapkan bantuan untuk masyarakat yang terdampak bencana, serta memperbaiki fasilitas umum yang rusak. Masyarakat diminta untuk menjauhi tempat yang dianggap bahaya menghindari timbul kerugian, timbul korban termasuk binatang peliharaan.

Sementara itu, Joko Supriyanto selaku Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman juga berharap masyarakat tetap waspada meskipun bencana yang diakibatkan oleh Badai Cempaka tersebut telah usai. Meurutnya musim hujan dengan cuaca ekstrem masih akan terjadi hingga beberapa bulan ke depan. “Tetap kita himbau untuk siaga. Puncaknya musim hujan ini kan sampai sekitar Februari, meski musim hujannya mungkin sampai April. Jadi sampai bulan Februari diperkirakan masih akan terjadi hujan lebat disertai angina kencang,” ujarnya.

Hingga saat ini, Prambanan merupakan titik terparah di Kabupaten Sleman yang terkena bencana yang dipicu Badai Cempaka tersebut. BPBD Sleman telah mengerahkan lebih dari 200 personelnya untuk melakukan evakuasi di kecamatan tersebut.

Kolom

GAGASAN
Tantangan Guru pada Era Digital

Gagasan ini dipublikasikan Harian Solopos edisi Sabtu (25/11/2017). Esai ini karya Novy Eko Permono, alumnus Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah novyekop@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Krisis multidimensional yang dihadapi bangsa Indonesia semakin pelik mana kala arus…