Sulistyo duduk didepan posko pengungsian di Kebonagung, Imogiri, Rabu (29/11/2017). (Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo) Sulistyo duduk didepan posko pengungsian di Kebonagung, Imogiri, Rabu (29/11/2017). (Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo)
Sabtu, 2 Desember 2017 09:20 WIB Herlambang Jati Kusumo/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

BADAI CEMPAKA
Bikin Trenyuh, Seperti Ini Kesulitan Difabel saat Harus Mengungsi

Badai cempaka memaksa warga untuk mengungsi, termasuk penyandang disabilitas

Solopos.com, BANTUL– Ratusan orang dengan wajah cemas dan penuh harap membaur dalam ruangan gedung dengan kisaran luas 20 x 10 meter yang terletak di sebelah selatan kelurahan Kebonagung, Imogiri.

Baca juga : BADAI CEMPAKA : Hingga Rabu Petang, 4.693 Jiwa di Bantul Masih Mengungsi

Hanya beralaskan tikar mereka membaringkan badan atau hanya sekedar duduk dan mengobrol satu dengan lainnya bercerita tentang kondisi rumahnya yang tergenang air, karena hujan yang tak kunjung berhenti dan sungai-sungai yang meluap.

Salah seorang pengungsi nampak hanya duduk termenung di atas kursi roda yang selalu menemani kehidupannya pasca dirinya lumpuh. Sulistyo namanya, divonis dokter mengalami lumpuh setelah terjatuh, dan ternyata terkena virus tulang belakang. “Sempat tidak percaya dengan vonis dokter itu,” ucapnya.

Sulistyo yang menjadi salah satu korban banjir dan terpaksa mengungsi tersebut merasa kesulitan untuk mengakses beberapa fasilitas yang memang seharusnya diperuntukan untuk penyandang difabel.

Saat dirinya ingin mengakses kamar mandi, perlu waktu lebih lama, karena gedung yang memiliki kamar mandi untuk penyandang difabel berada sekitar 100 meter dari tempatnya berlindung sementara dari kepungan banjir dengan sejumlah warga lainnya.

Akses untuk menuju toilet penyandang difabel pun tidak bisa dibilang gampang. Sesekali guyuran hujan masih datang, jalan-jalan lubang yang juga masih digenagi air hujan menjadi kendala tersendiri. Kursi roda yang membantu berjalannya sesekali harus melintasi genangan air.

Toilet ramah difabel sendiri memiliki beberapa syarat toilet umum yang aksesibel harus lengkap dengan tampilan rambu/ simbol dengan sistem cetak timbul “Penyandang Disabilitas” pada bagian luarnya.

Lalu toilet harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk keluar masuk kursi roda, ketinggian kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna kursi roda 45-50 cm.

Toilet harus dilengkapi dengan pegangan rambat/handrail yang punya posisi dan ketinghian disesuaikan dengan pengguna kursi roda dan penyandang disabilitas yang lain. Pegangan juga disarankan memiliki bentuk siku-siku mengarah ke atas untuk membantu pergerakan pengguna kursi roda.

Letak perlengkapan tissu, air, kran air atau pancuran/shower dan perlengkapan- perlengkapan seperti tempat sabun dan pengering tangan harus dipasang sedemikian hingga mudah digunakan oleh orang yang memiliki keterbatasan fisik dan dapat terjangkau pengguna kursi roda.

Selain itu juga perlu disediakan tombol bunyi darurat (emergency sound button) bila sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, pada tempat-tempat yang mudah dicapai, seperti pada daerah pintu masuk, dianjurkan untuk menyediakan tombol bunyi darurat.

Selain itu kunci juga dipilih yang mudah dibuka dari luar. Semua kran disarankan dengan menggunakan sistem pengungkit dipasang pada wastafel, dan lain sebagainya. Bahan lantai harus tidak boleh licin.

Tidak hanya fasilitas kamar mandi bagi difabel yang masih belum menjadi perhatian. Perlengkapan tidur bagi penyandang difabelpun masih belum menjadi perhatian. Ketika malam tiba Sulistyo harus pergi ketempat rekannya untuk sekedar memejamkan matanya dan merebahkan badannya.

Namun Sulistyo masih bersyukur dirinya selamat dari terjangan banjir yang menimpanya. Rasa mindernya yang telah hilang, membuat dirinya dekat dengan para pemuda yang seumuran dengannya.

Sempat tidak mau dievakuasi karena merasa aman, akhirnya mau dievakuasi karena rasa kedekatannya dengan rekan-rekannya itu dan takut semakin merepotkan nanti jika banjir semakin parah.

Dengan digendong salah seorang pemuda dan pemuda lainnya membawakan alat bantu berjalannya, mereka menerabas banjir yang mencapai ketinggian paha orang dewasa. Dengan menggunakan mobil angkutan terbuka mereka menuju tempat pengungsian yang jauh dari musibah.

Dirinya berharap agar ditempat pengungsian terpenuhi untuk fasilitas umum penyandang difabel. Sulistyo juga bersedih ketika banjir melanda membuat motor yang biasa dia kendarai macet karena genangan air. Usaha sablon yang ia tekunipun terpaksa berhenti sejenak karena cuaca yang tidak mendukung.

Kolom

GAGASAN
Tantangan Guru pada Era Digital

Gagasan ini dipublikasikan Harian Solopos edisi Sabtu (25/11/2017). Esai ini karya Novy Eko Permono, alumnus Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah novyekop@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Krisis multidimensional yang dihadapi bangsa Indonesia semakin pelik mana kala arus…