Warga Desa Bogor, Kecamatan Cawas, Klaten, mengangkut barang berharga menggunakan getek setelah rumah mereka terendam banjir, Kamis (30/11/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Warga Desa Bogor, Kecamatan Cawas, Klaten, mengangkut barang berharga menggunakan getek setelah rumah mereka terendam banjir, Kamis (30/11/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Jumat, 1 Desember 2017 23:30 WIB Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos Klaten Share :

Pulang, Korban Banjir Klaten Masih Bergantung Dapur Umum

Para korban banjir Klaten masih bergantung pada makanan dari dapur umum karena rumah mereka belum siap dihuni.

Solopos.com, KLATEN — Kendati warga pulang ke rumah masing-masing pada Jumat (1/12/2017) pagi, kebutuhan makan mereka masih bergantung pada dapur umum. Rumah mereka belum sepenuhnya siap digunakan seusai direndam air ketinggian sepinggang orang dewasa.

Sukiyem, 60, warga RT 002/RW 010, Dukuh Mandungan, Desa Brangkal, Wedi, mengatakan sejak semalam ia berulang kali mengecek rumahnya saat air mulai surut. Namun, ia baru bisa membersihkan rumahnya pagi hari.

Di rumahnya, satu unit kulkas rusak, satu set sound system juga dipastikan tak berfungsi akibat terendam air. Barang dagangan di warung kecilnya menyisakan beberepa bungkua mi instan dan minuman kemasan.

“Semuanya hanyut terbawa air. Kalau mau buka warung lagi nunggu uangnya ngumpul,” kata dia, saat ditemui wartawan, Jumat (1/12/2017). Pagi itu, ia baru saja membersihkan lumpur di lantai rumahnya yang berbahan plester semen.

Sukiyem menuturkan untuk keperluan makan sehari-hari seusai mengungsi, ia masih bergantung kepada dapur umum yang dibangun tak jauh dari rumahnya. Hal serupa juga hampir dialami seluruh warga satu dukuh. “Pompa air mati. Kami juga enggak punya bahan makanan karena akibat banjir,” ujar dia.

Saat jam makan, sukarelawan dapur umum bakal menghubungi warga apakah warga harus datang ke dapur umum atau makanan diantar ke rumah masing-masing. Jika diantar ke rumah masing-masing, warga menerima nasi bungkus. “Ada kodenya nanti. Jam-jam tertentu saat jadwal makan,” kata dia.

Kendati demikian, pakan untuk ternak termasuk lima ekor sapu miliknya terbilang aman. Untuk pakan, warga bisa membabat rumput yang ada di tanggul-tanggul. “Kemarin sapi saya sempat diungsikan ke tempat yang lebih tinggi karena kandang mulai tergenang,” urai dia.

LOWONGAN PEKERJAAN
SMK CITRA MEDIKA SRAGEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pertanian Maju, Petani Sejahtera

Gagasa ini dimuat Harian Solopso edisi Kamis (16/11/2017). Esai ini karya Budi Sutresno, anggota staf Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karanganyar. Solopos.com, SOLO–“Maju Pertaniannya, Sejahtera Petaninya” adalah semacam doa yang diilhami dari tagline Pemerintah Kabupaten Karanganyar menjelang perayaan seabad Kabupaten…