Empat pemuda mengangkat sepeda motor untuk melewati material longsoran di Jalan Pacitan-Ponorogo kilometer 34, Dusun Gamping, Desa Ngreco, Kecamatan Arjosari, Rabu (29/11/2017) pagi. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Empat pemuda mengangkat sepeda motor untuk melewati material longsoran di Jalan Pacitan-Ponorogo kilometer 34, Dusun Gamping, Desa Ngreco, Kecamatan Arjosari, Rabu (29/11/2017) pagi. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Jumat, 1 Desember 2017 20:35 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

LONGSOR PACITAN
731 Pengungsi di Desa Klesem Kekurangan Makanan

Longsor Pacitan, pengungsi di Desa Klesem baru mendapatkan bantuan pada Kamis.

Solopos.com, PACITAN — Sebanyak 731 pengungsi bencana tanah longsor yang ada di Desa Klesem, Kecamatan Kebonagung, Pacitan, masih kekurangan bahan makanan dan pakaian. Para pengungsi makan hanya dua kali sehari dalam tiga hari terakhir.

Pantauan Madiunpos.com di posko pengungsian di SDN Klesem 2, Jumat (1/12/2017) sore, para pengungsi terlihat duduk-duduk dan berbincang di dalam ruang kelas maupun teras sekolahan. Di posko pengungsian itu tak terlihat nasi bungkus maupun jajanan. Air minum pun mereka membawa sendiri.

Arus listrik di desa itu putus sejak Senin (27/11/2017) sampai Kamis belum menyala. Pengungsi hanya mengandalkan satu genset yang ada di posko pengungsian. Untuk kebutuhan air bersih, warga mengandalkan pasokan air dari luar karena listrik padam sehingga tidak bisa menyalakan mesin pompa.

Kepala Dusun Blimbing, Desa Klesem, M. Tohari, 50, mengatakan sejak hari pertama pertama bencana longsor terjadi, tidak ada bantuan makanan maupun pakaian masuk ke Desa Klesem. Padahal, warga yang mengungsi di desa tersebut ada ratusan orang.

Bantuan baru masuk ke Desa Klesem pada Kamis (30/11/2017) dan itu pun jumlahnya tidak banyak. Sejak bencana terjadi, pengungsi hanya makan dua kali sehari dan itu merupakan bahan makanan dari warga sendiri.

Sedangkan bahan makanan dan nasi bungkus dari posko bantuan baru datang Kamis. Untuk air minum, warga Desa Klesem membeli sendiri dan mengambil air minum dari rumah yang terdampak longsor.

“Ini pompa airnya enggak bisa menyala karena listriknya padam. Listrik padam sudah sejak hari Senin,” ujar dia.

Bantuan pakaian, selimut, serta tikar juga sangat kekurangan. Sampai hari Kamis, posko pengungsian di Desa Klesem baru mendapatakan tiker tiga lembar dan 12 lembar selimut.

Perangkat Desa Klesem, Erna Setiawati, mengatakan jumlah pengungsi di Desa Klesem sebanyak 731 orang. Namun, diperkirakan akan bertambah 100 orang pada Jumat ini. Sebanyak 731 pengungsi itu terdiri dari 58 balita, dewasa 625 orang, dan lansia 48 orang.

Dia berharap, pemerintah setempat dapat segera memberikan bantua pasca dibukanya jalur Pacitan-Trenggalek. Beberapa kebutuhan yang diperlukan di antaranya gas elpiji untuk bahan bakar, baju, selimut, kasur, dan makanan.

LOWONGAN PEKERJAAN
SDIT AL IKHLASH COLOMADU KRA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pertanian Maju, Petani Sejahtera

Gagasa ini dimuat Harian Solopso edisi Kamis (16/11/2017). Esai ini karya Budi Sutresno, anggota staf Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karanganyar. Solopos.com, SOLO–“Maju Pertaniannya, Sejahtera Petaninya” adalah semacam doa yang diilhami dari tagline Pemerintah Kabupaten Karanganyar menjelang perayaan seabad Kabupaten…