Warga menerjang banjir yang menggenangi jalan di Bulurejo, Nguntoronadi, Wonogiri, Selasa (28/11/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos) Warga menerjang banjir yang menggenangi jalan di Bulurejo, Nguntoronadi, Wonogiri, Selasa (28/11/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos)
Kamis, 30 November 2017 22:15 WIB Ahmad Wakid/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

BENCANA WONOGIRI
2.865 Warga Masih Mengungsi, 2 Desa Karangtengah Terisolasi

Sebanyak 2.865 warga Wonogiri yang menjadi korban banjir dan longsor masih  mengungsi.

Solopos.com, WONOGIRI — Sebanyak 2.865 warga terdampak banjir dan tanah longsor di Wonogiri masih mengungsi hingga Kamis (30/11/2017). Sedangkan dua desa di Kecamatan Karangtengah masih terisolasi akibat akses jalannya terputus tanah longsor.

Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan hingga Kamis malam sejumlah daerah masih digenangi air, antara lain Girikikis, Giriwoyo; Joho, Pracimantoro; dan Bulurejo, Nguntoronadi. Warga yang terdampak banjir masih bertahan di posko pengungsian dan rumah tetangga yang aman.

“Genangan air saat ini yang masih tinggi dibanding di daerah lain ada di Girikikis,” ujarnya kepada Solopos.com, Kamis. (Baca: Ini Data Lengkap Dampak Bencana di Wonogiri 2 Hari Terakhir)

Longsor terparah terjadi di Tirtomoyo (Dlepih, Sukoharjo, dan Hargosari) dan Karangtengah (Karangtengah dan Purwoharjo). Di Kecamatan Karangantengah ada 18 lokasi longsor.

“Hingga hari ini, akses jalan menuju Purwoharjo masih terputus, tadi kami kirimkan alat berat. Hanya jalannya yang terkena longsor, warganya aman. Meski begitu kami langsung mengirimkan bantuan,” kata dia.

Jumlah total pengungsi 2.865 orang terdiri atas 1.396 warga Tirtomoyo, 800 warga Eromoko, 274 warga Nguntoronadi, 160 warga Sidoharjo, 126 warga Giritontro, dan 119 warga Giriwoyo. Sementara itu, warga Girikikis, Sriyono, mengatakan banjir mulai menggenangi rumah warga, Rabu (29/11/2017) malam.

Sebelumnya, pada Selasa (28/11/2017) hanya beberapa hektare areal sawah yang tergenang air. Menurut dia, banjir merendam 65 rumah warga dan gedung PKD, Kantor Kelurahan, PAUD dan SD.

“Lokasi pengungsian ada tiga, di Dermosito dan wilayah selatan juga ada pos pengungsian,” tuturnya. (baca: Korban Meninggal Akibat Longsor Tirtomoyo Jadi 3 Orang, 1 Lainnya Luka Berat)

Saat ini warga masih mengungsi di tempat aman di lereng bukit. Anak-anak dan ibu rumah tangga berkumpul di satu lokasi, sedangkan kaum pria membuat tenda-tenda dan gubuk di lereng bukit sambil mengawasi hewan ternak mereka.

“Kalau ketinggian air masing-masing rumah berbeda beda, tapi kalau untuk lokasi SD, PAUD, kantor kelurahan dan PKD itu kan di cekungan, jadi ketinggian air mencapai tiga meter,” jelasnya.

Dirinya hanya bisa pasrah dan berdoa menunggu surutnya genangan air yang merendam puluhan rumah warga tersebut. “Kalau dibuang lagi di luar lingkungan ini sebenarnya bisa, tapi di lokasi pembuangan ada luweng juga, nanti kalau tersumbat malah jadi repot lagi, akan bertambah banyak rumah tenggelam,” ucapnya.

lowongan pekerjaan
SALESMAN/GIRL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…