Warga Desa Bogor, Kecamatan Cawas, Klaten, mengangkut barang berharga menggunakan getek setelah rumah mereka terendam banjir, Kamis (30/11/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Warga Desa Bogor, Kecamatan Cawas, Klaten, mengangkut barang berharga menggunakan getek setelah rumah mereka terendam banjir, Kamis (30/11/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Kamis, 30 November 2017 19:15 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

BANJIR KLATEN
Tanggul Sungai Dengkeng Jebol, Warga 3 Desa Mengungsi

Warga tiga desa di Klaten mengungsi setelah rumah mereka kebanjiran akibat tanggul Sungai Dengkeng jebol.

Solopos.com, KLATEN — Tiga desa di Kecamatan Cawas, Klaten, diterjang banjir akibat tanggul Sungai Dengkeng jebol pada Rabu (29/11/2017) sore. Sebagian warga di tiga desa tersebut harus mengungsi lantaran banjir menggenangi permukiman cukup tinggi.

Ketiga desa itu yakni Bogor, Tlingsing, dan Japanan. Selain menggenangi permukiman, luapan sungai melumpuhkan akses jalan antara Desa Bogor dengan Cawas. Jalan yang menghubungkan Kecamatan Cawas dan Kecamatan Karangdowo serta jalur alternatif ke Sukoharjo dan Wonogiri itu tergenang air sepanjang 3 km.

Ketinggian air mencapai 30-50 sentimeter dari permukaan jalan. Kadus I Desa Bogor, Yunanto, mengatakan luapan air sungai memasuki permukiman pada Rabu siang. Air semakin meninggi dan sekitar pukul 19.00 WIB warga mulai dievakuasi. (Baca: Limpasan Kali Dengkeng Genangi 8 Desa di Bayat)

Perkampungan di dua dukuh Desa Bogor yakni Dukuh Pulo dan Dukuh Gumpang terendam. “Tanggul Sungai Dengkeng di wilayah Desa Japanan jebol. Dampaknya ke Desa Bogor dan Tlingsing,” kata Yunanto saat ditemui wartawan di Dukuh Pulo, Kamis (30/11/2017).

Kondisi paling parah terjadi di Dukuh Pulo dengan ketinggian air di jalan kampung mencapai 1,5 meter. Kondisi itu diperparah dengan tak lancarnya saluran air di bawah Dam Colo yang melintasi kawasan perkampungan.

Yunanto mengatakan ada sekitar 115 keluarga atau 250 jiwa di Dukuh Pulo. Sebagian besar warga di dukuh itu sudah dievakuasi sejak Rabu malam.

“Ada yang mengungsi di tempat saudara ada juga yang mengungsi di balai desa. Warga Dukuh Pulo tinggal mengevakuasi barang elektronik,” kata Yunanto. (Baca: 600 Warga Wedi Terkepung Banjir, Butuh Bantuan Evakuasi)

Selain warga, evakuasi dilakukan terhadap ternak. Jumlah total ternak berupa kambing dan sapi yang dievakuasi sebanyak 40 ekor. Kepala Desa Bogor, Joko Riyanto, mengatakan ada 44 jiwa yang mengungsi di posko Balai Desa Bogor hingga Kamis pukul 12.00 WIB.

Jumlah itu diperkirakan bertambah lantaran evakuasi warga di Dukuh Pulo dan Gumpang masih berlangsung. Jumlah total warga yang berada di dua dukuh itu diperkirakan mencapai 650 jiwa.

“Kebutuhan utama warga makanan sehari-hari dan minuman. Saya berharap dari Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo segera bertindak agar air yang menggenangi perkampungan segera surut,” katanya.

Di Desa Tlingsing, jebolnya tanggul Sungai Dengkeng menyebabkan permukiman di 14 dukuh terendam banjir yang berdampak pada sekitar 1.700 warga. Sementara 85 warga terutama ibu-ibu, anak-anak, dan warga lansia mengungsi di balai desa. (Baca: 3 Tanggul Jebol Bikin Puluhan Hektare Sawah Terendam)

“Evakuasi terus berjalan karena terkendala minimnya alat transportasi. Untuk kebutuhan yang mendesak sebenarnya tempat untuk MCK. Karena di kantor desa hanya ada satu. Kami sudah ajukan ke BPBD, tetapi tidak ada,” urai dia.

Camat Cawas, M. Nasir, mengatakan dari evakuasi yang dilakukan sejak Rabu sore hingga Kamis dini hari terdapat 112 jiwa yang diungsikan dari wilayah Dukuh Guntur dan Dukuh Turunrejo, Desa Japanan. Mereka terdiri dari anak balita, anak-anak, dewasa, serta warga lansia.

Di Kecamatan Bayat, warga Desa Beluk yang sempat mengungsi sudah kembali ke rumah mereka lantaran banjir mulai surut. “Air sudah mulai surut. Tinggal air yang menggenangi pekarangan-pekarangan,” kata Camat Bayat, Edy Purnomo.

Edy menjelaskan akibat meningkatnya debit air di Sungai Dengkeng, jembatan penghubung Desa Talang dengan Desa Planggu, Kecamatan Trucuk, untuk sementara ditutup lantaran salah satu fondasi jembatan ambles.

“Untuk sementara hanya bisa dilintasi sepeda motor. Kendaraan roda empat tidak bisa melintas,” katanya.

Di Desa Melikan, Kecamatan Wedi, 44 orang masih mengungsi di balai desa setempat hingga Kamis sore. Sebanyak 104 orang di Dukuh Muker dan 44 orang di Dukuh Melikan bertahan di rumah mereka lantaran enggan dievakuasi setelah permukiman mereka terendam luapan Sungai Dengkeng.

“Setiap saat ada yang mengirimi logistik menggunakan getek,” kata Sekretaris Desa Melikan, Sukanta.

Sukanta mengatakan saat ini stok sembako di balai desa setempat menipis dan diperkirakan hanya bisa dimanfaatkan hingga Jumat (1/12/2017) siang. “Sembako seperti beras, minyak goreng, dan sayur hanya cukup sampai Jumat siang. Saat ini, ketinggian air di permukiman mulai surut,” katanya.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, meminta setiap OPD bergerak untuk mengatasi bencana banjir yang berada di wilayah Klaten. Ia menegaskan Klaten sudah ditetapkan darurat bencana banjir, tanah longsor, serta angin puting beliung mulai Selasa.

“Memang kondisi hujan tidak bisa diprediksi ke depan seperti apa. Paling tidak warga dievakuasi dulu. Untuk OPD saya minta berkoordinasi dengan BBWSBS untuk segera diantisipasi dan diselesaikan agar nanti dampaknya tidak meluas,” ujar Mulyani saat ditemui wartawan di Desa Bogor.

 

lowongan pekerjaan
PT. BUMI AKSARA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Koes Plus dalam Peta Musik Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (08/01/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Wonogiri. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada Jumat, 5 Januari 2018, Yon Koeswoyo tutup usia. Beberapa tahun sebelumnya…