Warga Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, mengungsi di tanggul, Rabu (29/11/2017). (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos) Warga Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, mengungsi di tanggul, Rabu (29/11/2017). (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos)
Rabu, 29 November 2017 18:15 WIB Trianto Hery Suryono/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

BANJIR SUKOHARJO
Begini Suasana Mojolaban Menjelang Warga Mengungsi ke Tanggul

Warga Mojolaban, Sukoharjo, mayoritas sudah terbiasa menghadapi banjir.

Solopos.com, SUKOHARJO — Selasa (28/11/2017) pukul 15.00 WIB, handphone Ketua RT 003/RW 007, Dukuh Ngemplak, Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Sri Widodo, berdering. Ternyata ada pesan Whatsapp (WA). Isinya peringatan soal bencana banjir.

“Setelah menerima pesan WA langsung saya informasikan ke warga untuk berkemas. Pakaian dan barang elektronik serta kambing dan hewan piaraan sudah di-packing. Warga masih menunggu informasi selanjutnya walau semua barang sudah dipersiapkan. Persiapan mengemas barang-barang dilakukan dua jam. Warga baru mengungsi ke tanggul sekitar pukul 21.00 WIB,” kata Sri Widodo saat ditemui Solopos.com di sela-sela menerima kedatangan Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya, yang menengok pengungsi di tanggul Gadingan, Rabu (29/11/2017).

Warga Dukuh Ngemplak RT 003/RW 007, Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, terbiasa menderita akibat banjir. Saking terbiasa warga telah berkemas dua jam sebelum diperintahkan mengungsi oleh Ketua RT ataupun perangkat desa. (Baca: Wilayah Mojolaban Tergenang Air, Warga Mengungsi ke Tanggul)

Selain membuat rumah untuk tempat tinggal warga Dukuh Ngemplak juga membuat bedeng di tanggul sungai untuk mengungsi. Sri Widodo mengungkapkan jumlah warganya yang masih bertahan di pengungsian ada 29 keluarga atau 55 jiwa.

“Bantuan sudah cukup untuk bertahan di pengungsian. Mudah-mudahan hujan tidak turun lagi sehingga air surut dan bisa kembali ke rumah masing-masing. Warga akan bergegas membersihkan rumah jika air tinggal setinggi 10 sentimeter. Apabila pembersihan dilakukan saat air kering tidak bisa karena endapan tanah akan menumpuk di dalam rumah.”

Dia mengklaim warga di sisi timur tanggul menempati rumah di tanah hak milik. Walau sering banjir, warga tetap setia menempatinya. (Baca: Warga Tawang Weru Menandu Penderita Kanker Menerjang Banjir)

“Kami berharap badan sungai diperlebar dan sedimentasi dikeruk agar air tidak meluap ke permukiman. Jika ada kebijakan relokasi kebanyakan warga mau tetapi harus di lahan satu lokasi,” jelasnya.

Berdasarkan pemantauan Solopos.com selain manusia kambing dan ayam juga diungsikan ke tanggul Gadingan. Sri Widodo mengatakan ada 40-an anak bawah lima tahun yang ikut mengungsi.

Selain permukiman, ruas jalan ke arah Tegalmade juga tergenang. Di Dukuh Nawud, Desa Tegalmade, Mojolaban, banjir menutup jalan antardesa. Air setinggi lutut orang dewasa hingga pinggang orang desa menumpuk di sekitar jembatan Dukuh Nawud.

Akibatnya jalur transportasi ke Desa Laban, Kecamatan Mojolaban, terputus. Andi Listanto, 33, mengatakan jika surut ruas jalan sudah normal kembali. Menurutnya, air menggenang ruas jalan di dukuhnya Selasa malam dan hingga Rabu siang masih tinggi.

Informasi lain di Dukuh Gadingan RT 002/RW 007, Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari, Rabu sekitar pukul 10.30 WIB, terjadi tanah longsor menimpa dinding rumah Nardi. Tidak ada korban jiwa dan anggota TNI dan Polri sudah melakukan pembersihan lokasi.

 

LOWONGAN PEKERJAAN
SMK MUHAMMADIYAH 04 BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Meme, Tiang Listrik, dan Humor Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (21/11/2017). Esai ini karya Aris Setiawan, esais yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah segelas.kopi.manis@gtmail.com. Solopos.com, SOLO–Setelah foto dirinya terbaring sakit dengan berbagai peralatan medis menempel di tubuhnya beberapa waktu lalu…