Riwi Sumantyo Riwi Sumantyo
Selasa, 28 November 2017 06:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Populisme APBN 2018

Gagasan ini ini dimuat Harian Solopso edisi Rabu (15/11/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO–Pemerintah dan DPR telah menyepakati RAPBN 2018 menjadi APBN 2018. Beberapa indikator ekonomi makro dijadikan asumsi dalam penyusunan APBN tahun depan itu.

Indikator tersebut di antaranya adalah pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4%, inflasi 3,5%, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat 13.400, suku bunga surat perbendaharaan negara 5,2%, harga minyak 48 dolar Amerika serikat  per barel, lifting minyak 800.000 barel per hari, dan lifting gas 1,2 juta barel per hari.

Penerimaan negara ditargetkan senilai Rp1.894,7 triliun, belanja negara Rp2.220,7 triliun, sehingga defisit anggaran ditetapkan senilai Rp325,9 triliun atau sebesar 2,19% terhadap produk domestik bruto. Secara ideal, APBN diharapkan menjadi salah satu instrumen dasar untuk mencapai kesejahteraan rakyat.

APBN hendaknya bisa memberikan stimulus fiskal yang memadai bagi berputarnya roda perekonomian sehingga target-target indikatif yang telah ditetapkan bisa tercapai. Bagaimana dengan gambaran APBN 2018 yang baru saja disahkan DPR?

Sekilas APBN 2018 terlihat ekspansif sehingga harapan untuk menjadi stimulus ekonomi bisa tercapai. Fokus program pemerintahan Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Jusuf Kalla di bidang infrastruktur masih konsisten dijalankan karena ada kenaikan anggaran sebesar 2,39% dibanding APBN-P 2017, yaitu menjadi Rp410,7 triliun.

Persentase kenaikan turun dibanding di APBN-P 2017 yang naik sebesar 6,14% dibanding APBN-P 2016, namun ada fenomena yang menarik untuk dicermati dari postur APBN tahun depan, yaitu naiknya belanja pemerintah untuk alokasi subsidi dan bantuan sosial.

Anggaran subsidi dan bantuan sosial pada 2018 ditetapkan senilai Rp283,7 triliun, naik sebesar 3,65% dibanding APBN-P 2017. Jatah subsidi dialokasikan senilai Rp156,2 triliun. Yang lumayan mencolok adalah kenaikan anggaran untuk bantuan sosial.

Selanjutnya adalah: Penerima Program Keluarga Harapan

lowongan pekerjaan
PKG 39, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pelayanan Medis Olahraga

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (18/10/2017). Esai ini karya Rumi Iqbal Doewes, dosen di Program Studi Kepelatihan Olahraga Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah king.doewes@staff.uns.ac.id. Solopos.com, SOLO–Pencinta sepak bola Indonesia pantas berduka….