Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Rasyid Baswedan belajar membajak sawah di Desa Wisata Candran Museum Tani Jawa, Desa Kebonagung, Imogiri, Bantul , Rabu (19/7/2017) untuk mempromosikan pertanian kepada generasi muda. (Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja) Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Rasyid Baswedan belajar membajak sawah di Desa Wisata Candran Museum Tani Jawa, Desa Kebonagung, Imogiri, Bantul , Rabu (19/7/2017) untuk mempromosikan pertanian kepada generasi muda. (Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 28 November 2017 00:20 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Digadang-gadang Jadi Ciri Khas Wisata DIY, Desa Wisata di Bantul Malah Stagnan

Dari total 39 desa wisata di Kabupaten Bantul, 2/3 di antaranya stagnan

Solopos.com, BANTUL–Dari total 39 desa wisata di Kabupaten Bantul, 2/3 di antaranya stagnan. Padahal desa-desa wisata digadang-gadang jadi ciri khas pariwisata wilayah selatan DIY ini yang menonjolkan segi lokalitas yang ada.

Plt Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul, Kwintarto Heru Prabowo mengamini hal tersebut. Menurutnya ada beberapa kendala yang menyebabkan desa-desa wisata ini stagnan. Pertama, integrasi antar pengurus belum kuat, masing-masing pengurus belum dapat menyamakan visi mereka.

Sehingga saat Dispar menjalin komunikasi dengan ketua pengurus desa wisata melalui Forum Komunikasi (Forkom), tak jarang informasi tersebut tidak sampai di tingkat anggota. “Entah tidak sampai atau disampaikan dengan pemahaman yang berbeda,” ucapnya, Minggu (26/11/2017).

Kedua, banyak dari proses pembentukan desa wisata tersebut yang instan, asal jiplak. Menurut Kwintarto hal tersebut disebabkan banyaknya desa wisata yang sukses dan berhasil mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Desa lainnya pun akhirnya tergerak untuk ikut menciptakan desa wisata baru namun tak memiliki akar dan modal sosial budaya yang kuat. Misalnya, Desa Wisata Kasongan dengan kerajinan gerabahnya yang telah mendarah daging sebagai profesi mayoritas masyarakatnya.

Meskipun dulunya bukan dikelola sebagai desa wisata, saat diresmikan dalam kelembagaan sebagai desa wisata hal itu relatif lebih mudah dilakukan. Jika desa lain ingin meniru, akan sulit dilakukan.

“Mereka tidak punya ciri khas dan akar yang sama tapi ingin membuat hal yang sama, tentu ini sulit,” katanya.

Ketiga, Kwintarto menuturkan orientasi pengembangan desa wisata baru ini rata-rata hanya mengejar profit jangka pendek. Sehingga saat mereka mengelola selama satu hingga dua tahun pertama tidak mendapatkan hasil yang signifikan, mereka mulai jenuh.

Padahal jika menilik desa-desa wisata yang telah maju, mereka merintis capaian tersebut selama bertahun-tahun, bukan dalam waktu yang singkat.

Oleh sebab itu, Kwintarto menyebut untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, pihaknya bakal melakukan roadshow penguatan pengurus ke seluruh desa wisata di Bantul pada 2018 mendatang. Sehingga problem komunikasi yang selama ini terjadi dapat teratasi.

Selain itu, Dispar bisa mengetahui kendala yang dihadapi oleh masing-masing desa wisata. Sebab pihaknya sadar, tiap desa wisata punya tantangan pengembangan yang berbeda.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU BEJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Koes Plus dalam Peta Musik Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (08/01/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Wonogiri. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada Jumat, 5 Januari 2018, Yon Koeswoyo tutup usia. Beberapa tahun sebelumnya…