Ilustrasi pengguna media sosial (e27.co) Ilustrasi pengguna media sosial (e27.co)
Selasa, 28 November 2017 23:35 WIB Choirul Anam/JIBI/Bisnis Internet Share :

Buka Medsos 10 Jam/hari, Orang Indonesia Dinilai Kecanduan Smartphone

Penggunaan smartphone untuk medsos oleh orang Indonesia dinilai sudah tidak wajar.

Solopos.com, MALANG — Masyarakat terutama warganet sudah tergolong sudah tidak wajar dalam menggunakan smartphone untuk bermedia sosial dengan penggunaan rerata 4-5 jam/hari. Direktur Indonesia New Media Watch Agus Sudibyo mengatakan bahkan banyak warganet yang menggunakan smartphone hingga mencapai 10 jam/hari.

“Padahal di negara-negara Skandinavia, rerata hanya 2,45 jam/hari dan itu penggunaan yang wajar,” ujarnya pada Seminar Menggalakkan Etika Jurnalistik untuk Para Netizen di Malang, Selasa (28/11/2017).

Jika penggunaannya hanya 10 jam/hari, kata dia, maka sudah tergolong kecanduan. Jika hal itu terjadi, maka mereka sudah harus melakukan diet smartphone seperti layaknya diet makanan untuk orang sudah terlalu gemuk.

“Kecuali mereka yang bekerja di media maupun teknologi informasi, wajar menggunakan internet maupun smartphone selama itu,” ujarnya.

Jika diteruskan, maka nilai-nilai yang baik dan selama ini dilakukan otomatis akan terkikis seperti berkumpul dengan keluarga, teman, tetangga, dan kepentingan sosial lainnya. Di Indonesia, masyarakat bisa kecanduan medsos karena reaktif terhadap isu-isu yang dikembangkan di media baru tersebut.

Di negara maju seperti Korea Selatan, masyarakat tidak terlalu reaktif terhadap isu-isu yang muncul di medsos. Mereka selalu mengecek dan mengecek kembali kabar tersebut lewat berita di media mainstream.

Pemerintah di negara-negara maju juga menyadari pentingnya membatasi penggunaan smartphone. Karena ada pembelajaran di sekolah tentang bagaimana memanfaatkan peralatan tersebut secara bijak.

Terkait dengan aktivitas di medsos, dia mengingatkan warganet agar berhati-hati karena mereka berada di ruang publik. Apa diunggah di medsos tidak bisa dihapus, padahal isinya bisa jadi negatif yang berdampak merugikan orang, kelompok, maupun lainnya.

Dengan fenomena medsos maka semua orang adalah jurnalis sehingga mestinya warganet harus membekali diri dengan etika jurnalistik saat memposting topik-topik tertentu. “Yang paling utama, perlunya cek dan cek kembali setiap informasi sebelum diposting,” ujar Agus yang juga Direktur Riset dan Komunikasi Publik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. Djerapah Megah Plasindho, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Populisme APBN 2018

Gagasan ini ini dimuat Harian Solopso edisi Rabu (15/11/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Pemerintah dan DPR telah menyepakati RAPBN 2018 menjadi APBN 2018. Beberapa…