Warga menerjang banjir di Nguntoronadi, Wonogiri, Selasa (28/11/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos)
Selasa, 28 November 2017 20:35 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

BENCANA WONOGIRI
Total 14 Kecamatan Dilanda Banjir dan Tanah Longsor

Total ada 14 kecamatan di Wonogiri yang dilanda banjir dan tanah longsor, Selasa (28/11/2017).

Solopos.com, WONOGIRI — Tim Search and Rescue (SAR) Wonogiri mencatat total ada puluhan tempat di 14 kecamatan Kabupaten Wonogiri yang dilanda bencana alam banjir dan tanah longsor akibat hujan deras berjam-jam sejak Selasa (28/11/2017) dini hari.

Bencana berpotensi kian meluas mengingat hingga Selasa petang hujan masih terus mengguyur. Tidak ada korban jiwa akibat bencana tersebut. Lebih kurang 500 jiwa dari 200-an keluarga terdampak banjir dan tanah longsor mengungsi ke tempat aman. (Baca: Hujan Belasan Jam, Wonogiri Dilanda Banjir dan Tanah Longsor)

Warga, personel polisi, TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), search and rescue (SAR), sukarelawan, dan unsur lainnya bahu membahu menyelamatkan warga. Komandan Operasional SAR Wonogiri, Ashari Mursito Wisnu, kepada Solopos.com menginformasikan data tersebut tercatat hingga Selasa pukul 17.41 WIB.

Sebaran bencana meliputi banjir di Minggarharjo dan Malangan, Kecamatan Eromoko; banjir di Jati Sawit, Desa Pucanganom, Giritontro; banjir akibat luapan Sungai Pakem, Giriwoyo; longsor di Kelurahan Giripurwo, Gunung Belah, dan Gondang Legi, Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri; longsor di Desa Bero, Manyaran; longsor di Dawuhan, Desa Hargorejo dan banjir di Ngarjosari, Tirtomoyo.

Selain itu terjadi banjir di Bulurejo dan Kulurejo, Nguntoronadi; longsor di Purwoharjo dan Ngambarsari, Karangtengah; longsor di Sukomangu, Purwantoro; banjir di sejumlah desa di Pracimantoro; banjir di Balepanjang, Baturetno; pohon tumbang menimpa rumah di Pare, Selogiri; longsor di Padarangin, Desa Slogohimo, Kecamatan Slogohimo; dan longsor di Kebyuk, Sidoharjo. (Baca: Nguntoronadi Banjir, Jalur ke Pacitan Dialihkan lewat Pracimantoro)

“Potensi bencana meluas masih ada karena sampai petang hujan belum berhenti. Siang sebelumnya bencana terjadi di sembilan kecamatan. Sore hari bencana meluas ke tiga kecamatan lainnya, dan pada petang meluas lagi kecamatan lain,” kata Ashari.

Menurut dia, banjir di awal penghujan ini tergolong parah. Bahkan, lebih parah selama 10 tahun terakhir atau sejak 2007 silam. Pada 25-26 Desember 2017 terjadi longsor di sejumlah kecamatan hingga mengakibatkan 17 orang meninggal dunia.

Banjir di wilayah tertentu saat itu mencapai kedalaman lebih dari dua meter. Selain itu, banjir mengakibatkan arus cukup kencang. SAR memprioritaskan penyelamatan warga yang terjebak banjir menggunakan perahu karet.

Mayoritas warga terdampak banjir sudah diungsikan ke tempat aman. SAR menerjunkan 113 personel di sejumlah lokasi berdasar skala prioritas. Penanganan bencana dibantu personel SAR se-Soloraya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan hingga petang tercatat lebih kurang 500 jiwa dari 200-an keluarga mengungsi. Mayoritas mereka warga terdampak banjir.

Banjir di Bulurejo dan Kulurejo, Nguntoronadi, memutus arus lalu lintas dari Wonogiri-Pacitan, Wonogiri-Tirtomoyo, dan sebaliknya. Banjir menggenangi jalan dengan kedalaman lebih dari lutut orang dewasa. Banjir di lokasi tersebut akibat luapan Sungai Wiroko. (Baca: Luapan Sungai Wiroko Picu Banjir di Nguntoronadi)

Kades Bulurejo, Narno, menginformasikan banjir di desanya terjadi di Dusun Karangturi dan Krapyak. Banjir di tempat paling rendah mencapai lebih dari 1,5 meter.

Air sungai mulai meluap pukul 05.15 WIB. Dari waktu ke waktu luapan air semakin besar hingga mencapai jalan utama Wonogiri-Pacitan dan Wonogiri-Tirtomoyo. “Warga bersama para sukarelawan menyelamatkan warga yang terkena banjir pakai perahu karet,” kata Narno.

Camat Pracimantoro, Warsito, mengatakan hingga pukul 18.00 WIB banjir melanda 11 desa dari 18 desa/kelurahan di kecamatannya. Puluhan keluarga diungsikan para personel penyelamat ke tempat aman.

Camat menyebut di Pracimantoro belum pernah terjadi banjir separah ini. Desa yang kebanjiran meliputi Sedayu, Trukan, Pracimantoro, Joho, Gebangharjo, Glinggang, Gambirmanis, Banaran, Jimbar, Sambiroto, dan Tubukarto.

“Museum Karst aman, tapi taman di sebelahnya yang berada di dataran lebih rendah terendam. Yang terlihat pucuk gazebonya saja,” kata Warsito.

Sementara itu, Kepala Sub Divisi Jasa Air dan Sumber Air (ASA) III Perum Jasa Tirta I (ASA III/PJT I) Wilayah Sungai Bengawan Solo, Hermawan Cahyo, memastikan pintu spillway Waduk Gajah Mungkur (WGM) masih ditutup rapat. Pernyataan Hermawan sekaligus meluruskan informasi hoax yang menyebut pintu spillway WGM dibuka dengan debit outflow 320 m3/detik dan bakal ditingkatkan menjadi 500 m3/detik.

Hingga pukul 18.00 WIB tinggi muka air (TMA) atau elevasi WGM masih aman di angka 132,10 meter di atas permukaan laut (mdpl). Pada kondisi itu hanya pintu turbin PLTA yang dibuka dengan debit outflow 33,9 m3/detik.

“Kondisi masih aman meski TMA terus naik karena air yang ditampung kian meningkat,” kata Hermawan mewakili Kepala Divisi ASA III/PJT I Wilayah Sungai Bengawan Solo, Taufiqurrahman.

Data yang diperoleh Solopos.com dari Kantor Sub Divisi ASA III/PJT I di Wonogiri, elevasi WGM meningkat sejak Selasa dini hari. Pada pukul 03.00 WIB elevasi tercatat 129,55 mdpl, pukul 06.00 WIB 129,60 mdpl, pukul 09.00 WIB 129,71 mdpl, pukul 12.00 WIB 130 mdpl, pukul 15.00 WIB 130,90 mdpl, dan pukul 18.00 WIB 132,10 mdpl.

lowongan pekerjaan
Juara Karakter Indonesia, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Populisme APBN 2018

Gagasan ini ini dimuat Harian Solopso edisi Rabu (15/11/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Pemerintah dan DPR telah menyepakati RAPBN 2018 menjadi APBN 2018. Beberapa…