Pekerja proyek DI Winong memperbaiki papan tempat besi dinding jaringan irigasi di Desa Tunggul, Kecamatan Gondang, Sragen, Sabtu (25/11/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Pekerja proyek DI Winong memperbaiki papan tempat besi dinding jaringan irigasi di Desa Tunggul, Kecamatan Gondang, Sragen, Sabtu (25/11/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Minggu, 26 November 2017 12:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

PERTANIAN SRAGEN
Masa Tanam Padi Gondang Mundur lantaran Rehab DI Winong Belum Kelar

Perbaikan saluran irigasi Winong di Kecamatan Gondang, Sragen, menghambat pasokan air ratusan hektare sawah.

Solopos.com, SRAGEN — Ratusan hektare lahan tanaman padi di wilayah Desa Tunggul, Glonggong, dan Gondang, Kecamatan Gondang, Sragen, tak bisa memulai tanam secara serentak karena pasokan air dari Daerah Irigasi (DI) Kedung Duren Winong pampat sejak Agustus lalu.

Pampatnya aliran air DI tersebut disebabkan adanya pekerjaan rehabilitasi jaringan DI yang menelan dana Rp1.777.711.000. Ratusan petani di tiga desa tersebut gerah akibat dampak perbaikan jaringan DI yang ambrol pada 2016 lalu.

Mereka tak bisa memulai tanam karena tidak cukup air. Hujan yang mengguyur beberapa hari terakhir tak bisa diandalkan petani untuk memulai tanam.

Suyono, 53, petani asal Dukuh Tawang RT 021, Desa Tunggul, Gondang, Sragen, saat ditemui Solopos.com, Sabtu (25/11/2017), mengaku memiliki empat patok lahan pertanian. Satu patok ditanami cabai dan 1,25 patok ditanami bawang merah. Selebihnya masih dibiarkan bera karena menunggu proses rehabilitasi jaringan DI Winong itu.

“Jelas perbaikan jaringan DI Winong yang tak kunjung selesai itu mengganggu kami. Air dari DI Winong itu menjadi sumber air irigasi bagi tiga desa, yakni Tunggul, Glonggong, dan Gondang. Di Tunggul ada 343 hektare lahan yang terpaksa belum diolah karena menunggu air irigasi. Padahal di daerah lain sudah mulai pemupukan kedua tetapi di tiga desa itu terlambat,” ujarnya.

Pampatnya air dari DI Winong itu membuat tanaman bawang merah dan cabainya hancur. Dia mengungkapkan tanama bawang merah saya sudah berumur 50 hari.

“Sebelumnya kekurangan air. Lalu hujan mengguyur, akhirnya tanamannya jadi pupus semua. Jadi rugi sampai Rp50 juta. Kalau cabai mulai tumbuh tunas baru setelah habis karena kekurangan air. Saat mulai tumbuh daun baru malah datang hama. Pusing,” katanya.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen Suratno yang tinggal di Tunggul juga merasakan dampak perbaikan jaringan DI Winong itu. Dia mengatakan beberapa hari lalu sempat ada sejumlah petani yang menggeruduk DI itu tetapi sampai sekarang belum bisa mengalir.

Dia menyebut di Glonggong itu ada 400 hektare dan di Gondang ada 200 hektare yang terkena dampaknya. “Saya lihat sendiri progres pekerjaannya lambat. Tenaganya hanya ada enam orang. Hari ini [Sabtu] dijadwalkan ngecor tetapi ditunda lagi pada Senin besok. Mestinya kalau bisa dipercepat kenapa harus diperlambat. Kalau bisa 3-4 bulan kenapa harus menunggu enam bulan. Masalahnya banyak petani yang sambat karena masa tanamnya jadi terhambat,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Pengairan Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) Sragen, Pardi, mengatakan progresnya sudah di atas 80% dan ditargetkan rampung pada Desember. Untuk masalah petani, kata dia, akan dikoordinasikan lebih lanjut.

lowongan pekerjaan
SOCIAL KITCHEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ayah, Spirit Cinta, dan Kepahlawanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (13/11/2017). Esai ini karya Vida  Robi’ah Al-Adawiyah, ibu rumah tangga yang aktif di Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) Benih di Kota Solo sekaligus konselor keluarga. Alamat e-mail penulis adalah mbakvida@gmail.com.  Solopos.com, SOLO—Father…