Para pelajar SMAN 3 Wonogiri mengikuti sekolah siaga bencana BPBD Wonogiri di SMAN 3 Wonogiri, Sabtu (25/11/2017). (Istimewa/BPBD Wonogiri) Para pelajar SMAN 3 Wonogiri mengikuti sekolah siaga bencana BPBD Wonogiri di SMAN 3 Wonogiri, Sabtu (25/11/2017). (Istimewa/BPBD Wonogiri)
Minggu, 26 November 2017 22:35 WIB Ahmad Wakid/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

BPBD Wonogiri Rekrut 500 Pelajar Jadi Sukarelawan Sekolah Siaga Bencana

BPBD Wonogiri merekrut 500 pelajar untuk menjadi sukarelawan sekolah siaga bencana.

Solopos.com, WONOGIRI — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri membentuk sekolah siaga bencana di SMK Pancasila 1 dan SMAN 3 Wonogiri, Sabtu (25/11/2017). Sebanyak 500 pelajar dari dua sekolah tersebut disiapkan sebagai sukarelawan sekolah siaga bencana.

Pembentukan sekolah siaga bencana ditandai apel di sekolah masing-masing dilanjutkan pendidikan dan pelatihan dasar (diklatsar) tentang kebencanaan, khususnya banjir, tanah longsor, dan puting beliung. “Ketiga bencana tersebut kami prediksi sering terjadi musim penghujan ini,” kata Ketua Pelaksana BPBD, Bambang Hariyadi, Sabtu.

Dia mengungkapkan pada awal musim penghujan ini sudah terjadi puting beliung di Kompleks GOR Giri Mandala Wonogiri yang menyebabkan pohon tumbang dan merusak fasilitas umum, beberapa pekan lalu. Sementara tanah longsor terjadi di Kismantro yang merusak dinding rumah seorang warga, pekan lalu.

Oleh karena itu, melalui sekolah siaga bencana, BPBD Wonogiri mengajak warga untuk waspada menghadapi bencana. “Kegiatan ini merupakan kesiapan pelajar untuk menghadapi bencana. Kami tidak tahu kapan bencana terjadi. Bencana tidak perlu ditakuti, tapi harus diantisipasi,” ujarnya.

Diharapkan melalui kegiatan itu, para pelajar melakukan tindakan konkret untuk menjaga lingkungan sebagai upaya antisipasi agar tidak terjadi bencana. Menurut Bambang, dua hal tersebut merupakan langkah awal sekolah siaga bencana. Nantinya di harapkan semakin banyak sekolah yang ikut terlibat dalam program sekolah siaga bencana.

“Sekolah siaga bencana yang terpenting ada komitmen dari penanggung jawab sekolah dulu. Setelah itu, kami bentuk komunitas penanganan kebencanaan, harapannya di bawah OSIS,” jelasnya.

Meski sekolah siaga bencana baru dibentuk, BPBD gencar sosialisasi dan penyuluhan ke sekolah-sekolah terkait pengurangan risiko bencana, salah satunya di SDN 1 Kepatihan dan SDN 2 Kepatihan. Di dua SDN itu, para siswa diajak agar suka menanam pohon sejak dini.

“Antisipasi bencana akan lebih tepat jika dilakukan hal-hal yang berkaitan dengan pengurangan bencana, seperti penghijauan, tidak buang sampah sembarangan, dan kegiatan edukatif lainnya,” bebernya.

Sementara itu, Kepala SMK Pancasila 1 Wonogiri, Joko Prihanto, menilai positif adanya sekolah siaga bencana. Menurutnya, para pelajar perlu dibekali pengetahuan kebencanaan, khususnya untuk mengatisipasi terjadinya bencana. Oleh karena itu, dia mendukung penuh program tersebut.

“Ini langkah positif dan perlu direspons dalam upaya menyiapkan keterlibatan aktif para pelajar. Mereka nantinya diharapkan menjadi pelopor pengurangan risiko bencana,” tutur Joko.

lowongan pekerjaan
PT. Monang' Sianipar Abadi ( MSA KARGO ), informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ayah, Spirit Cinta, dan Kepahlawanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (13/11/2017). Esai ini karya Vida  Robi’ah Al-Adawiyah, ibu rumah tangga yang aktif di Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) Benih di Kota Solo sekaligus konselor keluarga. Alamat e-mail penulis adalah mbakvida@gmail.com.  Solopos.com, SOLO—Father…