Ilustrasi aktivitas buruh tani di sawah. (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra) Ilustrasi aktivitas buruh tani di sawah. (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra)
Sabtu, 25 November 2017 09:35 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

PERTANIAN BOYOLALI
Sulitnya Mencari Buruh Tani di Ngemplak

Para petani di Ngemplak, Boyolali, kesulitan mencari buruh tani sehingga Masa Tanam (MT) I mundur hingga sebulan.

Solopos.com, BOYOLALI — Musim tanam (MT) I di wilayah Ngemplak, Boyolali, molor 15 hari hingga 30 hari dari jadwal semula awal November lalu. Salah satu pemicunya karena petani kesulitan mencari tenaga buruh tani.

“Secara umum, MT I di wilayah Ngemplak mundur 15 hari. Bahkan, ada sejumlah lahan yang belum memulai MT I hingga kini karena kesulitan mendapatkan tenaga buruh tani,” terang Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pengguna Air (GP3A) Tri Mandiri, Samidi, kepada Solopos.com, Jumat (24/11/2017).

Sejumlah wilayah yang belum memulai MT I antara lain Desa Sawahan dan sebagain Desa Giriroto. Menurut Samidi, di dua lokasi tersebut ada puluhan hektare lahan yang belum memulai MT I. (Baca: 34 Kelompok Tani Boyolali Dapat Bantuan Traktor dari Kementan)

“Mestinya awal November sudah mulai tanam. Namun, hingga saat ini masih ada yang belum memulai MT I. Salah satu alasannya sulit mencari tenaga buruh,” terangnya.

Samidi tak menampik adanya kelangkaan tenaga buruh tani sebab memang generasi penerus petani setiap tahun kian sulit didapatkan. Anak-anak generasi saat ini lebih memilih bekerja sebagai buruh pabrik, karyawan kantor, atau sektor industri lainnya, ketimbang melanjutkan pekerjaan petani dari orang tuanya.

“Petani dan buruh tani sekarang tinggal yang tua-tua dan lambat laun jumlahnya berkurang. Makanya, kenapa sekarang program tanam serentak sulit dilakukan,” tambahnya.

Saat ini, imbuhnya, luas lahan pertanian di Ngemplak juga terus menyusut. Di Desa Sawahan misalnya, lahan pertanian menyusut hampir 50% dalam dua dekade terakhir. Begitu pun lahan pertanian di Giriroto yang kini diperkirakan hanya tersisa 156 hektare. (Baca: Bandara Adi Soemarmo Dilebarkan, Petani 3 Wilayah Ini Waswas)

Selain beralih fungsi jadi permukiman, menyusutnya lahan pertanian juga disebabkan susahnya mencari kader petani. “Ini mestinya jadi perhatian pemerintah pusat sebab ketahanan pangan kita sedang dalam ancaman besar,” jelasnya.

Salah satu petani Ngemplak, Slamet Wiyono, meminta agar para petani difasilitasi dalam kebutuhan mesin penanam padi atau transplanter. Menurutnya, mesin transplanter bisa menjadi solusi atas kelangkaan buruh tani saat ini. “Jika tak ada mesin transplanter, MT susah dilakukan serentak. Biaya juga mahal,” paparnya.

Sayangnya, imbuhnya, jumlah mesin transplanter di Boyolali saat ini sangat terbatas dan belum bisa memenuhi kebutuhan dunia pertanian. “Harapan kami, petani dipermudah dalam penggunaan mesin transplanter. Mungkin mulai dengan penambahan alatnya dahulu,” jelasnya.

lowongan pekerjaan
PT. JATIM BROMO STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Bersenang-Senang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (13/11/2017). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini terjadi perubahan secara radikal pada lanskap ekonomi dan bisnis di Indonesia. Sektor bisnis konvensional…