Ilustrasi pembangunan jalan Ilustrasi pembangunan jalan
Kamis, 23 November 2017 20:15 WIB Trianto Hery Suryono/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

INFRASTRUKTUR SUKOHARJO
Lahan Diserobot untuk Jalan, Warga Gentan Mengadu ke Polisi

Warga Gentan, Kecamatan Bulu, Sukoharjo, mengadu ke polisi karena lahannya diserobot untuk jalan.

Solopos.com, SUKOHARJO — Sejumlah warga Desa Gentan, Kecamatan Bulu, Sukoharjo, mengadu ke Polsek Bulu karena lahan mereka diserobot untuk pembuatan jalan tembus. Aparat kepolisian masih mengkaji dan mengumpulkan bukti sertifikat tanah warga.

Kapolsek Bulu AKP Sarwoko mewakili Kapolres Sukoharjo AKBP Iwan Saktiadi kepada wartawan, Kamis (23/11/2017), mengatakan warga mengadukan kepala Desa Gentan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas penyerobotan lahan itu. “Pemilik tanah merasa tidak diajak bicara mengenai pembuatan jalan tembus yang mengenai lahan milik. Warga mengadukan Kades Gentan ke Polsek Bulu. Kami sampai sekarang masih melengkapi bukti-bukti dan ini juga masih tahap pengaduan, belum pelaporan,” jelasnya.

Kepala Desa Gentan, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, Kardaya, saat dihubungi Solopos.com mengaku sudah tahu adanya pengaduan tersebut, bahkan sudah diminta keterangan oleh polisi. Pekerjaan pembuatan jalan tembus itu saat ini dihentikan.

“Lokasi tersebut memang ada jalan tetapi saat pengerjaan belum ada pengukuran sehingga ada pemilik lahan yang merasa keberatan dan melapor ke polisi. Kami sudah dimintai keterangan dan sementara waktu dihentikan proses pembuatan jalan tembus tersebut,” katanya.

Kardaya menjelaskan warga sudah membuat surat pernyataan yang intinya tidak akan menuntut. “Kesalahan waktu itu belum ada pengukuran lahan dan perintah pengerukan sudah dilakukan pengerukan sehingga batas-batas jalan dan tanah milik warga belum ada. Untuk itu pengerukan tanah jalan tembus dihentikan.”

Kabar yang beredar, urukan tanah itu dijual Rp180.000 hingga Rp200.000 per rit. Uang hasil penjualan tanah tidak diketahui masuk ke kantong siapa. Jalan cor yang dibuat itu lebarnya 2,5 meter.

Jalan cor rabat semen itu terlihat putih memanjang membelah permukiman warga. Semakin ke pedalaman atau ke arah perbukitan jalan kampung tak lagi terlihat cor semen tetapi berubah menjadi tanah dengan bebatuan di sela-selanya.

Kepala Urusan Pemerintahan (Kaurpem) Desa Gentan, Sunardi, yang tinggal sekitar 50 meter dari lokasi awal pengerukan tanah, menjelaskan jalan baru itu akan menghubungkan Dukuh Gentan dengan Dukuh Kesungsang. “Warga sudah menginginkan pembukaan jalan antardukuh sejak 15-an tahun lalu tetapi baru terwujud sekarang. Sudah dua kali pergantian kepala desa pembukaan jalan antardukuh baru terlaksana,” ujarnya.

Sunardi bercerita pembukaan jalan antardukuh sudah menjadi program Desa Gentan. Namun, ujarnya, karena keterbatasan anggaran program pembukaan jalan antardukuh terus tertunda.

“Jarak Dukuh Kesungsang dengan Dukuh Gentan sejauh 700 meter. Peta jalan ada tetapi berubah menjadi jalan setapak karena tak bisa dilalui kendaraan. Hanya pejalan kaki yang melintas jalan antardukuh tersebut. Lebar jalan antardukuh empat meter tetapi akan dibuka selebar enam meter agar jalan antardukuh bisa dilalui kendaraan roda empat.”

Lebih lanjut, Sunardi mengatakan dibutuhkan anggaran senilai Rp300 juta hingga Rp500 juta untuk mewujudkan jalan antardukuh itu. “Kebutuhan anggaran tergantung jenis jalan, apakah akan dicor rabat semen ataukah diaspal. Jika diaspal dibutuhkan dana sekitar Rp300 juta sedangkan jalan cor semen lebih mahal senilai Rp500 juta. Warga tidak memungkinkan kerja bakti karena tidak ada orang sehingga digunakan alat berat backhoe.”

Warga enggan menyebutkan biaya sewa backhoe itu. Berdasarkan informasi yang diperoleh Solopos.com, backhoe itu bantuan dari seseorang dengan kompensasi tanah yang tak digunakan diambil untuk tanah uruk. Warga Gentan lainnya, Hartono, 65, berharap dibukanya jalan penghubung akan memperlancar transportasi ekonomi dan pertanian.

Dia berharap lokasi wisata Batu Seribu juga semakin ramai dengan adanya jalan alternatif itu. “Jalan Dukuh Gentan ini bisa tembus ke objek wisata Batu Seribu. Pada 1970-an hingga 1980-an jalan setapak ini sudah pernah dilalui truk pengangkut batu. Mayoritas warga sini [Gentan] memilih merantau ke NTB, Sukabumi, Bogor, Lampung, dan daerah lain untuk berjualan bakso dan mi ayam,” jelasnya.

lowongan pekerjaan
Fila Djaya Plasindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…