Warga Baleharjo Gunungkidul serukan anti-pernikahan dini. (JIBI/Harian Jogja/David Kurniawan) Warga Baleharjo Gunungkidul serukan anti-pernikahan dini. (JIBI/Harian Jogja/David Kurniawan)
Kamis, 23 November 2017 17:20 WIB Herlambang Jati Kusumo/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Banyak Anak di Bantul Pilih Menikah Gara-Gara Mengalami Ini

Permasalahan perekonomian keluarga dan hamil diluar nikah menjadi penambah angka pernikahan usia dini di tengah masyarakat di Bantul

Solopos.com, BANTUL--Permasalahan perekonomian keluarga dan hamil diluar nikah menjadi penambah angka pernikahan usia dini di tengah masyarakat di Bantul.

Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Bencana Nasional (BKKBN), DIY, Bambang Marsudi mengatakan permasalahan ekonomi tersebut menjadi faktor utama pendorong pernikahan dini.

“Kendala utama pencegahan pernikahan dini karena faktor ekonomi, kondisi ekonomi yang tidak mapan membuat orang tua gampang menikahkan anaknya. Mereka beranggapan beban tanggungan keluarga berkurang,” ujarnya.

Dirinya mengatakan biasanya anak tersebut lulus SLTA segera dinikahkan. Bambang mengatakan hal tersebut mungkin berbeda dengan keluarga yang berkecukupan, yang biasanya menyekolahkan anaknya setinggi mungkin.

Selain karena faktor ekonomi, Bambang juga mengatakan penyebab sulitnya menekan angka pernikahan dini karena banyak anak yang belum menikah secara resmi namun sudah hamil duluan. “Hal tersebut mau tidak mau kan harus dinikahkan,” katanya.

Untuk di Bantul sendiri Bambang mengatakan belum dapat memastikan pemicu lain pernikahan dini. Namun indikasi yang muncul diantaranya pergaulan sekolah tidak terkontrol, masuk wilayah wisata yang dimungkinkan banyak pengaruh sikap dari luar.

Dia juga mengatakan dampak pernikahan dini banyak sekali seperti ketidaksiapan secara ekonomi, secara psikologis, maupun secara kesehatan.

Pihak BKKBN sendiri dikatakan olehnya membentuk konseling remaja untuk menghindari tiga hal yang utama, yaitu sex pranikah, nikah dini, dan menghindari narkoba.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat Desa, Mahmudi membenarkan berbagai faktor mendorong remaja untuk nikah dini dan telah berupaya mengurangi.

“Pihak pemerintah daerah menurutnya telah berupaya menekan angka itu mulai dari pemberian modal usaha, peningkatan ekonomi sejahtera, Komunikasi Informasi Edukasi [KIE], mencegah hamil diluar nikah dengan kerjasama dengan para pemuka agama,” katanya.

Humas pengadilan agama, Bantul, Yuniati Faizah mengatakan Pengadilan Agama, Bantul telah mengurusi pengajuan perkara dispensasi menikah sebanjak 74 terhitung dari Januari hingga Oktober.

“Ditahun ini dari Januari hingga akhir Oktober 74 perkara rata-rata usia perempuan 15 tahun dan laki-laki 17-18 tahun, yang kebanyangan karena hamil duluan,” ujarnya.

lowongan pekerjaan
Toko Cat Warna Abadi (WAWAWA), informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…