Anggota TNI dan sukarelawan bencana alam mengevakuasi korban banjir saat simulasi penanganan banjir di Dusun Kesongo, Desa Tegalmade, Kecamatan Mojolaban, Rabu (22/11/2017). (Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos) Anggota TNI dan sukarelawan bencana alam mengevakuasi korban banjir saat simulasi penanganan banjir di Dusun Kesongo, Desa Tegalmade, Kecamatan Mojolaban, Rabu (22/11/2017). (Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos)
Rabu, 22 November 2017 22:35 WIB Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

Sering Kebanjiran, Warga Tegalmade Sukoharjo Diajari untuk Evakuasi Mandiri

Puluhan warga Tegalmade, Sukoharjo, mengikuti simulasi penanganan bencana banjir.

Solopos.com, SUKOHARJO — Teriakan menggema dari pengeras suara, “Banjir…banjir…banjir… cepat mengungsi.” Teriakan itu disertai suara kentongan yang dipukul bertalu-talu.

Sontak, puluhan warga yang tengah tertidur pulas langsung berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Mereka lari tunggang langgang sambil membawa harta benda dan pakaian. Beberapa anak-anak digendong orang tua mereka sementara para warga lanjut usia (lansia) dipapah tetangga.

Hujan lebat dengan intensitas tinggsi selama berjam-jam mengakibatkan ketinggian air Sungai Bengawan Solo bertambah signifikan. Imbasnya, air sungai meluap merendam ratusan rumah penduduk dan puluhan hektare lahan pertanian hanya dalam hitungan jam. Ketinggian banjir mencapai dada orang dewasa atau lebih dari satu meter.

Ada beberapa warga yang terjebak di dalam rumah saat luapan air sungai merendam rumah penduduk. Mereka langsung dievakuasi tim gabungan dari Kodim 0726/Sukoharjo, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo ke balai desa setempat.

Itulah gambaran penanganan bencana banjir dalam simulasi yang digelar Kodim 0726/Sukoharjo di Dusun Kesongo, Desa Tegalmade, Kecamatan Mojolaban. “Simulasi penanganan banjir dilakukan riil sesuai kondisi saat terjadi banjir. Warga dievakuasi menggunakan truk ke lokasi pengungsian yang telah didirikan tenda untuk mereka,” kata Kepala Staf Kodim (Kasdim) 0726/Sukoharjo, Mayor (Inf) Nurul Muntahar, saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu (22/11/2017).

Ada tiga lokasi simulasi penanganan banjir yakni Desa Wirun dan Tegalmade di Kecamatan Mojolaban dan Desa Pranan di Kecamatan Polokarto. Ketiga lokasi itu menjadi daerah langganan banjir saat musim penghujan.

Kali terakhir, luapan Sungai Bengawan Solo dan Kali Samin merendam ribuan rumah penduduk pada pertengahan 2017. Simulasi penanggulangan bencana banjir merupakan program kerja yang dilaksanakan secara rutin.

Simulasi dilaksanakan agar para warga yang berdomisili di bantaran sungai dapat melaksanakan tanggap darurat ketika terjadi banjir. “Warga dilatih melakukan evakuasi dini sebelum sukarelawan bencana alam sampai di lokasi. Ini sangat penting agar tak menimbulkan korban jiwa,” papar dia.

Sementara itu, seorang warga Dusun Kesongo, Desa Tegalmade, Kecamatan Mojolaban, Sutrisno, mengatakan warga setempat telah terbiasa dengan genangan air yang merendam rumah saat air Kali Samin meluap. Biasanya, hanya sebagian warga yang mengungsi ke balai desa atau rumah tetangga.

Sementara sebagian warga lainnya memilih tinggal di rumah sembari menunggu banjir surut. Selama ini, pasokan bantuan makanan kerap terlambat saat terjadi banjir. Padahal, warga tak bisa beraktivitas saat luapan air sungai merendam rumah penduduk.

“Bantuan makanan sering telat, kadang baru ada beberapa jam setelah warga mengungsi ke lokasi aman,” kata dia.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…