Boks hydrant dan apar terpasang di beberapa sudut Pasar Klewer Solo, Kamis (4/5/2017). (Bayu Jatmiko Adi/JIBI/Solopos) Boks hydrant dan apar terpasang di beberapa sudut Pasar Klewer Solo, Kamis (4/5/2017). (Bayu Jatmiko Adi/JIBI/Solopos)
Rabu, 22 November 2017 15:35 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Solo Share :

PASAR TRADISIONAL SOLO
APAR Pasar Klewer Barat Baru Separuh dari Kebutuhan Ideal

Alat pemadam api ringan (APAR) di Pasar Klewer Barat baru separuh dari kebutuhan ideal.

Solopos.com, SOLO — Ketersediaan alat pemadam api ringan (APAR) di Pasar Klewer masih jauh dari kebutuhan ideal. Jumlah APAR di Pasar Klewer saat ini baru berkisar 101 unit sedangkan kebutuhannya mencapai dua kali lipatnya.

Melihat luas Pasar Klewer, idealnya ada lebih dari 200 unit APAR . Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Solo sudah memberikan tanda di setiap jarak minimal di masing-masing koridor kios Pasar Klewer namun belum semua lokasi yang diberi tanda itu dipasangi APAR. (Baca: Pemkot Solo Pasang 600 APAR di Pasar Tradisional)

“Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan disebutkan setiap jarak 23 meter harus ada APAR. Di Pasar Klewer sudah kami tandai titik-titik mana yang harus ditempatkan APAR, tapi mungkin karena keterbatasan anggaran jadi belum semuanya tercukupi,” kata anggota Staf Seksi Humas dan Pelatihan Dinas Damkar Kota Solo, Suharyanto, saat berbincang dengan Solopos.com di sela-sela Pelatihan Pemadaman Kebakaran Tingkat Dasar Bagi Komunitas Pasar di Pasar Klewer, Rabu (22/11/2017).

Kabid Pasar Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Solo, Sigit Prakoso, membenarkan ketersediaan APAR di Pasar Klewer baru separuh dari kebutuhan ideal. “Di Klewer ada sekitar 101 APAR. Idealnya memang harus ditambah dua kali lipatnya,” kata Sigit.

Tahun depan, melalui APBD 2018 Disdag berencana membeli 25 unit APAR yang tidak semuanya dipasang di Klewer tetapi di pasar lain yang baru selesai direvitalisasi seperti Pasar Sidodadi, Pasar Sangkrah, dan Pasar Kadipolo.

Sementara itu, Kepala Disdag Solo Subagiyo menjelaskan saat ini Disdag memiliki 2.000-an unit APAR yang tersebar di 44 pasar tradisional di Kota Solo. “Secara bertahap akan terus kami tambah 500 APAR lagi,” kata dia. (Baca: Antisipasi Kebakaran, Pasar Klewer Solo Dilengkapi Sprinkler dan Hidran)

Penambahan 500 APAR ini untuk memenuhi target setiap luas area pasar 100 meter persegi harus tersedia APAR. Menurut dia, pemenuhan jumlah alat pemadam kebakaran harus diimbangi kemampuan sumber daya manusia di pasar.

Oleh sebab itu, Disdag menggandeng Dinas Damkar menggelar pelatihan pemadam kebakaran bagi petugas keamanan pasar, perwakilan pedagang, dan perwakilan paguyuban pedagang pasar. Sedikitnya 54 orang dari komunitas pasar tradisional di Kota Solo mendapatkan pelatihan mengoperasikan APAR, hydrant, dan dilatih memanfaatkan alat sederhana seperti karung atau kain daster untuk memadamkan api.

Ke-54 petugas keamanan dan perwakilan pedagang itu berasal dari Pasar Mebel Ngemplak, Cinderamata, Kembang, Gilingan, Nongko, Kadipolo, Ngemplak, Rejosari, Harjodaksino, Jongke, Ngarsopuro, Sangkrah, Sidodadi, Elpabes, dan Klewer. “Pasar adalah aset bersama yang harus dijaga semua pihak. Jadi baik pedagang maupun petugas keamanan harus terlatih mencegah agar dampak kebakaran tidak meluas, mereka juga harus tahu cara cepat menghubungi petugas kebakaran hingga cara mengevakuasi korban kebakaran,” imbuh Suharyanto.

Berdasarkan catatan Disdag Kota Solo, sepanjang tahun ini kebakaran terjadi di tiga pasar yakni Pasar Mojosongo, Pasar Depok, dan Pasar Ayu. Di masing-masing pasar, kebakaran hanya menghabiskan satu kios yang menjadi lokasi sumber api.

“Kami berharap tidak ada lagi kebakaran besar seperti Pasar Klewer akhir 2014 lalu.”

Di sejumlah pasar yang sedang direvitalisasi, Pemkot Solo menambahkan sejumlah fasilitas seperti sprinkler dan hydrant serta penggunaan bahan bangunan tahan api untuk mencegah dampak kebakaran yang lebih luas.

 

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…