Salah seorang warga sedang melintas di Jembatan Jeruklegi, di Dusun Jeruklegi, Katongan, Nglipar. Foto diambil beberapa waktu lalu. (Harian Jogja/David Kurniawan) Salah seorang warga sedang melintas di Jembatan Jeruklegi, di Dusun Jeruklegi, Katongan, Nglipar. Foto diambil beberapa waktu lalu. (Harian Jogja/David Kurniawan)
Rabu, 22 November 2017 13:55 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Nasib Jembatan Jeruklegi di Tangan Pemda DIY

“Kondisinya sangat sempit sehingga untuk melintas harus mengantre”

Solopos.com, GUNUNGKIDUL-Masyarakat Dusun Jeruklegi, Katongan, Nglipar ingin memiliki jembatan yang representatif. Namun, pembangunan jembatan tersebut merupakan kewenangan Pemda DIY.

Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul Eddy Praptono mengakui tidak memiliki kewenangan untuk memperbaiki Jembatan Jeruklegi di Desa Katongan. Menurut dia, keberadaan jembatan yang berada di atas aliran Sungai Oya ini merupakan kewenangan pemerintah daerah, sehingga pemkab tidak bisa mengalokasian untuk pembangunan. “Itu ranah provinsi dan perbaikan bukan jadi kewenangan kami,” kata dia, Selasa (21/11/2017).

Menurut dia, keberadaan Jembatan Jeruklegi hampir mirip dengan Jembatan Wonolagi yang ada di Dusun Wonolagi, Desa Ngleri, Playen. “Untuk perbaikan kami hanya sebatas mengusulkan ke provinsi dan perbaikannya pun juga menunggu keputusan dari Pemerintah DIY,” ungkap Eddy.

Baca juga : Perbaikan Jembatan Jeruklegi Belum Ada Kepastian

Sebelumnya, masyarakat di Dusun Jeruklegi, Katongan resah dengan kondisi Jembatan Jeruklegi yang tidak memenuhi standar. Kondisi itu terjadi karena jembatan akan bergoyang saat dilalui pengendara bermotor. “Kondisinya sangat sempit sehingga untuk melintas harus mengantre,” kata Ketua RT04/RW05 Jeruklegi, Ari Sudarsono.

Menurut dia, permintaan warga tidak muluk-muluk karena hanya ingin agar jembatan dibuat permanen dan bukan beruwujud jembatan gantung. “Tidak perlu besar-besar yang penting cukup untuk melintas. Kalau jembatan gantung saat ini, warga harus berhati-hati saat melintas karena sering goyang saat dilalui,” ungkapnya.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Darmanto Jatman Bercerita Jawa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (15/01/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, seorang kritikus sastra. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Rumah dalam pemahaman peradaban Jawa adalah ruang hidup untuk menjadikan manusia ada dan berada. Pemahaman itu menunjukkan konstruksi…