Seorang pelajar SMP mengendarai motor melewati jalur Tangkil-Kedungupit yang masih dalam proses perbaikan, Senin (20/11/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Seorang pelajar SMP mengendarai motor melewati jalur Tangkil-Kedungupit yang masih dalam proses perbaikan, Senin (20/11/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Selasa, 21 November 2017 07:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Pemkab Sragen Utang Rp200 Miliar untuk Infrastruktur, Begini Tanggapan Warga

Warga Sragen tidak peduli dengan rencana Pemkab utang senilai Rp200 miliar untuk perbaikan infrastruktur.

Solopos.com, SRAGEN — Lalu lintas di jalur Tangkil-Kedungupit, Kecamatan Sragen Kota, Sragen, cukup ramai, Senin (20/11/2017) siang. Para warga melewati jalur rusak tersebut dengan mengendarai motor.

Hujan deras menyambut mereka dari arah Kedungupit yang bergerak perlahan dari arah barat laut. Kondisi jalan yang masih dalam proses perbaikan tak memungkinkan mereka melaju kencang.

Satu lajur jalan itu sudah dibeton dengan wiremesh sebagai tulangnya. Sementara lajur satunya masih rusak parah. Para pengemudi mobil memilih melewati lajur yang rusak. Sementara pengendara motor nekat menggunakan lajur beton. (Baca: Pemkab Sragen Perbaiki Jalan dan Jembatan dengan Utang Rp200 Miliar)

Betonisasi jalur Tangkil-Kedungupit itu masih bersifat parsial. Dua unit alat berat masih beroperasi di jalan rusak. Satu unit stoom walls memadatkan jalan yang diuruk sirtu. Sementara satu unit bulldozer dioperasikan untuk meratakan material uruk.

Dua petani sibuk memangkas rumput di tepi jalur Tangkil-Kedungupit. Parjo, 52, warga Tanjang, Kedungupit, Sragen, memilih rumput di pinggir parit yang hijau dan subur.

Saat ditanya soal rencana utang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen senilai Rp200 miliar pada 2018 untuk pembangunan infrastruktur seperti di jalur Tangkil-Kedungupit, Parjo mengaku sudah tahu. Ia tak mau dipusingkan masalah pemerintahan. Ia memilih memikirkan nafkah bagi keluarganya.

“Saya ini orang yang tidak tahu apa-apa. Tahunya ya hanya jalan baik. Bagi yang tidak mampu, utang itu ya rekasa (susah). Kalau bagi yang mampu tidak rekasa. Kalau saya ya tidak setuju dengan utang. Kalau pemerintah yang utang ya tidak tahu,” katanya saat berbincang dengan Solopos.com, Senin siang.

Berbeda dengan Sikam, 60, warga Dukuh Bugel, Desa Tangkil, Sragen, yang memangkas tak jauh dari Parjo. Bagi Sikam, jalan bagus lebih disukai daripada jalan yang jelek. Ia senang jalur Tangkil-Kedungupit mulai diperbaiki.

“Bagi wong cilik yang penting jalan bagus sehingga ke mana-mana enak. Walaupun membangun jalannya dengan utang ya tidak apa-apa. Pemerintah itu kan sudah biasa dengan utang. Mulai zaman sengen [dulu] pemerintah sudah utang. Kalau sekarang menambah utang lagi ya biarkan saja,” ujarnya.

Warga Mojorejo, Kecamatan Karangmalang, Sragen, Ady Sriyono, mempertanyakan kebijakan utang daerah untuk pembangunan infrastruktur senilai Rp200 miliar itu. Ia sangsi pemerintahan Kusdinar Untung Yuni Sukowati bisa mengembalikan utang itu dalam kurun waktu tiga tahun atau sampai akhir masa jabatannya.

Ia menyatakan jalan rusak di Sragen ini banyak lokasinya dan panjang-panjang, termasuk jalan antarkecamatan. Apalagi beberapa proyek jalan pada 2017 ini diragukan kualitasnya.

“Apakah nanti utang itu bisa menjamin infrastruktur Sragen bisa berkualitas? Pengembaliannya bagaimana? Lihat dulu PAD [pendapatan asli daerah] Sragen. Pembangunan infrastruktur itu tidak asal menganggarkan tetapi menghitung biayanya. Pengembalian utang itu pasti berpengaruh pada anggaran infrastruktur di tahun berikutnya. Apalagi PAD belum meningkat signifikan. Jadi saya sangsi tentang hal itu,” ujarnya.

Ady mengatakan kalau DPRD Sragen menyetujui utang Rp200 miliar itu, rakyat akan menuntut perbaikan ekonomi kepada Pemkab Sragen. Dia menyatakan perbaikan infrastruktur itu tidak menjamin adanya pertumbuhan ekonomi.

Dia berpendapat infrastruktur itu hanya sarana untuk kegiatan ekonomi bukan menciptakan ekonomi baru. “Masih banyak UMKM yang butuh perhatian Pemkab untuk pemasaran dan seterusnya,” ujarnya.

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…