Warga Cabeankunti, Kecamatan Cepogo, Boyolali, yang tergabung dalam Komunitas Remaja Muslim Peduli Umat (KRMPU) menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam unjuk rasa di halaman balai desa setempat, Selasa (21/11/2017). (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos) Warga Cabeankunti, Kecamatan Cepogo, Boyolali, yang tergabung dalam Komunitas Remaja Muslim Peduli Umat (KRMPU) menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam unjuk rasa di halaman balai desa setempat, Selasa (21/11/2017). (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos)
Selasa, 21 November 2017 15:15 WIB Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

DEMO BOYOLALI
Prihatin Nilai Seleksi Perdes, Warga Cabekunti Berorasi di Tengah Hujan

Demo Boyolali, warga Cabekunti berunjuk rasa di tengah hujan.

Solopos.com, BOYOLALI — Belasan warga Cabeankunti, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, yang tergabung dalam Komunitas Remaja Muslim Peduli Umat (KRMPU) menggelar unjuk rasa di halaman balai desa setempat, Selasa (21/11/2017).

Aksi tersebut digelar sebagai wujud keprihatinan atas rendahnya nilai Agama dan Pancasila yang diperoleh para peserta seleksi perangkat desa (perdes) setempat, yakni berkisar pada angka 20 (skala 100). Mereka juga menuntut transparansi hasil penilaian ujian tertulis.

Ketua KRMPU M. Ihsan dalam orasinya mengatakan, aksi tersebut tidak diikuti satu pun peserta seleksi perdes. “Aksi ini hanya keprihatinan atas nilai yang sangat rendah untuk mata ujian agama dan Pancasila,” kata dia di sela-sela aksi. (baca: Gelombang Aksi Protes Hasil Seleksi Perangkat Desa Meluas di Sejumlah Kecamatan)

Sementara itu, aksi yang dimulai dengan short march dari lapangan desa hingga balai desa juga diisi dengan salat gaib.
Saat di tengah pembacaan teks orasi, hujan turun sangat deras. Meski demikian, peserta tetap bergeming mengikuti aksi hingga usai.

Aksi yang berjalan damai tanpa ekses tersebut dijaga puluhan aparat kepolisisn dan TNI dari Polres dan Kodim Boyolali.

Kepala Desa Cabeankunti, Harsiti mengatakan pihaknya memberikan rekomendasi kepada semua peserta. “Pelamar semua saya rekomendasi, semua warga [kedudukannya] sama. Tapi nilai tertinggi itu lah yang jadi [perdes],” kata dia singkat kepada wartawan,

Camat Cepogo, Agus Darmawan, yang juga memantau jalannya aksi mengatakan, tahapan perdes sudah selesai. Jika ada peserta seleksi yang merasa keberatan atau tidak puas merasa janggal dengan nilai hasil seleksi, pihaknya mempersilakan untuk membuat surat permohonan secara pribadi kepada Bupati Seno Samodro untuk melihatnya.

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…