Painem, 95, berada di dalam gubuk reyotnya di Desa Pomahan, Sambi, Boyolali, Senin (20/11/2017). (Istimewa/ Tim Sukarelawan Boyolali) Painem, 95, berada di dalam gubuk reyotnya di Desa Pomahan, Sambi, Boyolali, Senin (20/11/2017). (Istimewa/ Tim Sukarelawan Boyolali)
Senin, 20 November 2017 23:15 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

Selama 20 Tahun Perempuan Lansia Boyolali Ini Hidup Seorang Diri di Gubuk Reyot

Seorang perempuan lansia hidup sebatang kara di gubuk reyot di Sambi, Boyolali, selama 20 tahun terakhir.

Solopos.com, BOYOLALI — Painem, 95, nenek-nenek asal RT 002/ RW 002 Dukuh Pomahan, Desa Senting, Sambi, Boyolali, hidup seorang diri di gubuk reyot berukuran 1,5 meter persegi selama 20 tahun terakhir.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, aktivitas sehari-hari nenek Painem hanyalah duduk-duduk di dalam gubuk. Sesekali dengan tubuhnya yang bungkuk, ia keluar berjalan-jalan ke pekarangan di sekitarnya gubuknya.

Gubuk yang ditempati Painem sungguh memprihatinkan. Selain berukuran sempit, gubuk reyot itu hanya terbuat dari tumpukan sisa-sisa kayu, ranting, serta sampah plastik. Jika hujan, air masuk dan mengalir dari mana-mana hingga membasahi nenek Painem yang berteduh di bawahnya.

“Untuk kebutuhan makan dan minum sehari-hari dicukupi para tetangganya yang baik hati. Tapi, kelihatannya dia sudah jarang mandi,” ujar Subarjo, aktivis soal kemanusiaan Boyolali kepada Solopos.com seusai mengunjungi Painem, Senin (20/11/2017).

Saat Subarjo berkunjung, hujan lebat baru saja mengguyur. Subarjo bersama sukarelawan kemanusiaan lainnya menyaksikan langsung betapa susahnya Painem berlindung dari air hujan yang menggenangi gubuknya.

“Tadi, kami datang untuk mengukur gubuk. Kami berencana membetulkan gubuk Mbah Painem agar lebih layak,” jelasnya.

Painem menyambut semringah kedatangan sukarelawan Boyolali itu. Ia bisa berkomunikasi meski pelan. Namun, lantaran usianya yang sudah renta dan pikun, Painem kerap kali tak menjawab.

“Dia sebenarnya punya dua anak, namun sudah meninggal semua. Suaminya juga sudah meninggal,” terangnya.

Menurut keterangan warga sekitarnya, Painem menempati gubuk reyot itu sejak 20-an tahun silam. Diduga Painem depresi semasa mudanya. “Kata warga, dia dulu termasuk orang kaya,” tambahnya.

Pemdes setempat pernah membuatkan rumah sederhana untuknya. Namun, nenek itu enggan menempatinya dan memilih kembali ke gubuk yang berdiri di tanah kas desa itu. “Dulu dia sempat bikin kerajinan, namun karena sudah tua, usahanya itu tak dilanjutkan,” tambahnya.

Subarjo berharap ada perhatian dari pemerintah atas kondisi Painem. Menurutnya, solusi atas masalah itu ialah segera merawat Painem ke panti sosial khusus warga lansia. “Usia segitu, sudah saatnya dipelihara negara. Ini solusinya,” kata dia.

Mendengar informasi tersebut, Camat Sambi, Hari Harianto, mengaku segera bertindak untuk penyelamatan warganya. Ia sangat mendukung usulan agar Painem dipindahkan ke panti sosial agar di usianya yang senja itu bisa menikmati hidup dengan tenang.

“Saya segera ke lokasi untuk mengambil langkah-langkah penyelamatan. Kami berterima kasih atas informasinya ini,” ujarnya.

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…