Karcis Retribusi Waduk Cengklik (Facebook) Karcis Retribusi Waduk Cengklik (Facebook)
Senin, 20 November 2017 08:10 WIB Muhammad Rizal Fikri/JIBI/Solopos.com Boyolali Share :

Berhenti Sekitar Waduk Cengklik, Warganet Boykot Keluhkan Pungli

Dugaan pungutan liar (pungli) terjadi di obyek wisata Waduk Cengklik.

Solopos.com, SOLO – Obyek wisata seharusnya menjadi tempat bersantai dan berekreasi bagi pengunjung. Bukan menjadi tempat di mana pengunjung merasa dirampok secara halus. Namun, itulah yang terjadi pada pengunjung obyek wisata Waduk Cengklik di Boyolali.

Keluhan itu diunggah oleh pengguna akun Facebook Teddy Surakartans di grup Facebook Boyolali Kota (Boykot), Minggu (19/11/2017). Dalam keluhannya Teddy Surakartans mengunggah foto karcis retribusi Waduk Cengklik bertuliskan tarif Rp1.500.Meski tarif karcis Rp1.500, Teddy Surakartans mengaku dimintai bayar Rp5.000.

“Harga Rp1.500 tapi minta Rp5.000, daerah pinggir Waduk Cengklik sebelah selatan,” tulis Teddy Surakartans.

Dalam keterangannya Teddy Surakartans mengaku tidak masuk ke areal waduk, ia hanya berniat istirahat dan berteduh di bawah pohon. Dia didekati orang yang tak dia kenal, kemudian diberi karcis yang bertuliskan tarif masuk Rp1.500 namun diminta membayar Rp5.000.

“Cuman niat istirahat neduh di bawah pohon, didatangi orang diberi karcis, diminta bayar Rp5.000. Tolong dikondisikan, di kertas tertulis Rp1.500 dimintai Rp5.000. Itu pun tidak masuk, cuma di luar,” tambah Teddy Surakartans.

Dari informasi Teddy Surakartans, beberapa warganet malah ikut bercerita mengenai pengalaman serupa saat berkunjung ke Waduk Cengklik. Akun FajarGhofur mengaku pernah menolak saat disuruh bayar, ia malah diajak berkelahi dengan oknum penunggu Waduk Cengklik.

“Saya dulu gamau bayar, malah mau diajak berkelahi, padahal aku mau pergi. Untung dipisah sama temanku,” tulis FajarGhofur.

Akun Sabrina Sakhi Sueseno malah mengaku pernah diminta uang Rp50.000. “Kok terjadi lagi kasus seperti ini? Dulu aku pernah nyelesaiin masalah karena ditarik Rp50.000 sampai tak tantang orangnya,” tulis Sabrina Sakhir Sueseno.

Akun Puguh Siswanto mengaku dia pernah berhenti di dekat waduk hanya untuk menyalakan rokok. Namun tak lama ada oknum yang mendekatinya meminta uang parkir. Akun Erico Pasoepati dan akun Agatha RA memiliki pengalaman serupa, berhenti di dekat waduk hanya untuk mengecek ponsel, kemudian mereka dimintai uang.

Selain keluhan dugaan pungli, warganet menganggap tindakan oknum yang semena-mena meminta uang retribusi akan menurunkan pamor obyek wisata Waduk Cengklik.

“Gimana waduk mau dikenal orang, mau mampir aja udah dapat kesan jelek seperti ini, tulis Nathan.

“Kasihan yang punya usaha di sekitar waduk gara-gara oknum nakal,” tulis Ricky Skipper.

“Pungutan liar bikin mati pariwisata kita. Tindak tegas oknum-oknum yang tak bertanggung jawab,” tulis Dora Rafino Adipati.

 

 

 

 

 

 

 

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…