Warga menanti apam keong yang disebar ke arah mereka pada acara sebaran apem di depan Masjid Cipto Mulyo kawasan Umbul Pengging, Banyudono, Boyolali, Jumat (17/11/2017). (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos) Warga menanti apam keong yang disebar ke arah mereka pada acara sebaran apem di depan Masjid Cipto Mulyo kawasan Umbul Pengging, Banyudono, Boyolali, Jumat (17/11/2017). (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos)
Jumat, 17 November 2017 19:15 WIB Akhmad Ludiyanto/JIB/Solopos Boyolali Share :

WISATA BOYOLALI
 Guyuran Hujan Menambah Keseruan Berebut Apam di Pasar Pengging

Acara sebaran apam di Pasar Pengging, Boyolali, berlangsung dalam guyuran  hujan.

Solopos.com, BOYOLALI — Pasukan berkuda yang disusul barisan paskibra, kerbau Kiai Slamet, pasukan prajurit, dan abdi Keraton Solo, pasukan pembawa gunungan apam keong, serta pasukan lain sudah bersiap di depan Kantor Kecamatan Banyudono, Boyolali, Jumat (17/11/2017).

Sementara itu, ribuan warga masyarakat memadati tepi jalan sepanjang kantor kecamatan hingga kawasan Pasar Pengging sejak selepas Salat Jumat. Di langit, awan gelap menggantung pertanda akan hujan.

Rasa waswas dan khawatir terungkap dari gumanan sekelompok ibu yang berdiri di depan Balai Desa Bendan, yang menjadi jalur kirab tradisi sebaran apam itu. Beberapa menit kemudian, kekhawatiran mereka terbukti. Hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Sontak warga masyarakat berlarian mencari tempat berteduh.

Namun, antusiasme mereka tak pudar oleh hujan. Mereka hanya mencari tempat agar terlindung dari siraman hujan. Dalam sekejap, mereka sudah berpindah ke depan toko-toko di sepanjang kanan-kiri jalan.

Dari kejauhan, pasukan kirab tetap pada posisi mereka meski pakaian mulai kuyup. Sesaat kemudian mereka diberangkatkan ke arah Pasar Pengging.

Sementara itu, di ujung selatan pasar dan depan Masjid Cipto Mulyo, ratusan warga lainnya sudah menunggu kedatangan peserta kirab yang berarti akan dimulainya penyebaran apam. Ketika pasukan kirab sampai di lokasi langsung membubarkan diri.

Sedangkan gunungan apam dinaikkan petugas ke panggung yang disediakan. Di halaman masjid, Ketua DPRD Boyolali S. Paryanto mengawali penyebaran apam. Warga yang sudah menanti momen itu tak menyia-nyiakannya untuk segera berebut apam yang mengarah kepada mereka.

Seolah tak memedulikan hujan, warga mulai anak-anak hingga kaum manula berebut apam yang disebarkan hingga habis. Riuh teriakan mereka saat berebut apam menambah kemeriahan puncak acara tahunan yang berlangsung setiap Jumat terakhir bulan Safar tersebut.

S. Paryanto mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari tradisi yang perlu dilestarikan. “Ini adalah salah satu bentuk nguri-uri kebudayaan yang harus dilestarikan,” ujarnya kepada wartawan seusai acara.

Sementara itu, Totok S., salah satu panitia acara mengatakan rangkaian acara sudah dimulai sejak Kamis (16/11/2017) dengan ritual keagamaan di Masjid Cipto Mulyo dan ritual adat di salah satu umbul setempat. Sementara itu, Kepala Desa Bendan yang menjadi salah satu penanggung jawab acara mengatakan apam yang disebar berasal dari desanya dan desa lain di sekitar Umbul Pengging.

“Dari Bendan kami menyediakan 15.000 apam dan dari desa lain juga. Kami perkirakan semuanya ada 30.000 yang dibagikan di dua lokasi,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu warga yang ikut berjibaku meraih apam, Nurwati, 50 mengaku tak masalah jika harus berdesakan di tengah hujan. “Enggak apa-apa [kehujanan]. Yang penting bisa dapat apam biar dapat keberkahan,” harapnya.

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…