Virus Marburg (IST/Livescence-CDC/ Frederick Murphy) Virus Marburg (IST/Livescence-CDC/ Frederick Murphy)
Jumat, 17 November 2017 03:20 WIB Internasional Share :

Waduh, Ada Wabah Mematikan Merebak di Uganda

Dalam kasus yang fatal, kematian terjadi antara delapan dan sembilan hari setelah gejala dimulai

Solopos.com, UGANDA-Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan, ada tiga orang di Uganda dan Kenya meninggal karena penyakit yang sangat langka dan mematikan yang disebabkan virus Marburg.

Dilansir dari Live Science, WHO mengatakan, virus Marburg berhubungan dengan virus jahat lainya yakni virus Ebola. Kedua virus itu termasuk anggota dari keluarga filovirus dan memiliki angka kematian yang tinggi. Angka kematian yang disebabkan virus Marburg bisa mencapai 88%.

WHO mengungkapkan, virus Marburg ditularkan ke manusia melalui kelelawar buah Rousettus aegyptiacus atau kelelawar buah Mesir. Sekali seorang manusia terinfeksi, virus itu bisa menyebar ke manusia lainnya melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, atau bersentuhan dengan permukaan atau material yang terkontaminasi cairan ini.

WHO menjelaskan, lama waktu yang dibutuhkan untuk tanda-tanda muncul setelah seseorang terinfeksi virus (periode inkubasi) beragam dari dua hari hingga 21 hari. Namun, ketika gejala mulai muncul, gejala-gejala itu terjadi tiba-tiba dan bisa meliputi sakit dan nyeri otot.

Kira-kira tiga hari setelah gejala itu muncul, seseorang bisa mengalami gejala gastrointestinal termasuk mual, muntah, dan diare parah yang bisa bertahan seminggu. WHO menggambarkan pasien pada fase infeksi ini seperti hantu dengan mata yang dalam, wajah tanpa ekspresi, dan kelesuan ekstrem.

Seperti virus Ebola, virus Marburg menyebabkan kondisi yang disebut demam berdarah (hemoragik) parah yang memiliki gejala seperti panas tinggi dan disfungsi dalam pembuluh darah tubuh yang mengakibatkan pendarahan yang parah. Gejala hemoragik ini sering terjadi antara lima dan tujuh hari setelah gejala serangan.

Darah bisa ditemukan dalam muntahan dan tinja. Pasien juga bisa mengalami pendarahan yang keluar melalui hidung, gusi dan untuk wanita melalui vagina. WHO mengungkapkan, pendarahan di lokasi penyuntikan selama penanganan medis bisa merepotkan.

Virus ini juga bisa menyebabkan masalah dengan sistem saraf pusat yang menyebabkan kebingungan, mudah marah, dan agresi. Dalam kasus yang fatal, kematian terjadi antara delapan dan sembilan hari setelah gejala dimulai. Biasanya hal itu terjadi karena kehilangan banyak darah dan shock.

Dalam wabah yang merebak saat ini, yang diumumkan pada 19 Oktober 2017, tiga orang yang meninggal berasal dari keluarga yang sama di Distrik Kween di Uganda Timur. Salah satu orang melakukan perjalanan ke Kenya sebelum kematiannya. Lantaran hanya tiga orang yang terifeksi sejauh ini, dan semuanya telah meninggal, angka kematian dari wabah saat ini adalah 100%.

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Pembangunan yang Masih ”Hijau”

Gagasan ini dimuat Harian Solopso edisi Sabtu (11/11/2017). Esai ini karya Titis Efrindu Bawono, aktivis forum diskusi Transportologi yang bertujuan mendiseminasi transportasi berkelanjutan. Alamat e-mail penulis adalah efrindu@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Sebagai salah satu negara pemilik hutan terluas yang menjadi paru-paru dunia,…