Widodo, nelayan karamba Waduk Cengklik tengah memberi pakan ikan-ikannya, Kamis (16/11/2017). (Aries Susanto/JIBI/Solopos) Widodo, nelayan karamba Waduk Cengklik tengah memberi pakan ikan-ikannya, Kamis (16/11/2017). (Aries Susanto/JIBI/Solopos)
Jumat, 17 November 2017 13:15 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

Berharap Eceng Gondok di Waduk Cengklik Boyolali Menjadi Berkah

Eceng gondok di Waduk Cengklik Boyolali merugikan warga.

Solopos.com, BOYOLALI — Keberadaan eceng gondok di Waduk Cengklik Kecamatan Ngemplak Boyolali menjadi persoalan yang tak kunjung usai. Warga, nelayan, serta petani di kawasan waduk itu mendamba eceng gondok bisa diolah menjadi kerajinan bernilai tinggi.

“Dulu pernah ada wacana mau membuat sentra kerajinan tangan dengan bahan dasar tanaman eceng gondok. Tapi, enggak tahu kok sampai sekarang enggak terwujud,” ujar Widodo, petani karamba Waduk Cengklik, Senin (16/11/2017).

Eceng gondok selama ini memang dikenal sebagai gulma yang meresahkan petani, nelayan, dan masyarakat. Di Waduk Cengklik Boyolali, keberadaan gulma ini menjadi permasalahan serius. Bahkan, biaya untuk menyingkirkan tanaman ini ditaksir menelan Rp2 miliar.

“Beberapa waktu lalu, puluhan anggota TNI turun ke Waduk membersihkan eceng gondok. Tapi karena tak memakai alat berat, hasilnya juga tak maksimal,” ujarnya.

Data yang dihimpun menyebutkan sebaran enceng gondok di Waduk Cengklik saat ini mencapai 692.000 meter persegi. Setidaknya membutuhkan dana sekitar Rp2 miliar untuk menyingkirkannya.

Salah satu penyebab tumbuh suburnya enceng gondok ialah karena pakan ikan yang disebar nelayan karamba. Pakan-pakan ikan yang tak terolah secara sempurna oleh usus-usus ikan menjadi pemicu pertumbuhan tanaman enceng gondok.

Widodo mengaku sangat mendamba adanya ide-ide kreatif untuk menyulap tanaman eceng gondok menjadi barang bernilai guna tinggi. Meski wacana itu pernah muncul, namun hingga saat ini tak terdengar lagi.

Teknik membuat kerajinan eceng gondok ialah dengan mengambil bagian batangnya. Batang eceng gondok dipotong dari akar dan daunnya. Setelah itu dikeringkan dengan suhu panas yang tinggi. Sehingga mendapatkaan hasil yang benar-benar kering. Setelah dikeringkan, baru dimulai dengan proses anyaman. Anyaman disesuaikan dengan cetakan dan desain tas yang akan dibuat.

Sebatang eceng gondok bisa mengalami proses penyusutan saat dikeringkan hingga mencapai 90%. Sehingga, jika batang-batang eceng gondok seberat 100kg basah, bisa menyusut sampai 10 kg jika telah kering.

“Di daerah Sukoharjo juga ada pengolahan eceng gondok untuk menambah varisi kursi rotan. Nah, kalau di Boyolali ada sendiri kan bisa menyerap tenaga kerja banyak,” ujar Wiji, warga Cengklik lainnya.

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…