Ilustrasi (JIBI/Bisnis/dokumen)
Rabu, 15 November 2017 17:35 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Solo Share :

Sudah Terima Ongkos Bongkar, Warga Tergusur Proyek RSUD Semanggi Solo Masih Bingung

Pemkot Solo sudah memberikan ongkos bongkar kepada warga Semanggi yang tergusur proyek RSUD.

Solopos.com, SOLO — Penghuni tanah Hak Pakai (HP) Nomor 54 di wilayah RT 003/RW 007 Kenteng, Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, mulai menerima dana bantuan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Solo untuk biaya bongkar bangunan.

Pemilik bangunan yang sebagian adalah pedagang kayu itu mulai memindahkan barang dagangan mereka ke lokasi baru. Namun, untuk warga pemilik bangunan rumah atau tempat tinggal masih ada yang bingung mencari tempat tinggal baru.

Bangunan di kawasan tersebut harus dibongkar dan ditarget selesai akhir bulan ini karena proyek pembangunan RSUD Semanggi segera dimulai. Seperti diketahui, sedikitnya ada 19 bangunan di Kenteng yang harus digusur untuk proyek RSUD. (Baca: 19 Bangunan Kenteng Digusur untuk RSUD Semanggi, Warga Dapat hingga RP6 Juta/M2)

Pemilik bangunan rumah atau tempat tinggal mendapatkan ongkos bongkar bangunan senilai Rp4 juta-Rp6 juta, sedangkan untuk tempat usaha Pemkot memberi ongkos bongkar senilai Rp13 juta.

Warga RT 003/RW 007, Sumirah, 66, mengatakan sudah menerima dana bantuan dari Pemkot Solo untuk bongkar bangunan rumahnya senilai Rp4,5 juta. Namun dana tersebut masih tersimpan di bank karena dia masih bingung kapan akan membongkar rumahnya.

Dia baru mengantisipasi mencari tempat untuk berjualan. Dia minta izin kepada RT setempat agar dipinjami tempat berjualan.

“Alhamdulillah sudah diizinkan. Tapi untuk tempat tinggal saya masih bingung. Tidak punya tempat lain, satu-satunya alternatif ya mungkin akan ikut anak saya, tapi rasanya berat ikut anak apalagi saya masih punya tanggungan satu anak lagi,” kata Sumirah saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu (15/11/2017).

Kendati demikian, Sumirah memastikan siap menjalankan instruksi Pemkot Solo dan akan membongkar bangunan rumahnya sebelum Desember. “Tapi untuk jangka panjangnya saya akan minta kebijakan dari Pak Lurah [Lurah Semanggi Sularso].” (Baca: Anggaran Pembebasan Lahan untuk RSUD Semanggi Rp200 Juta)

Hal senada disampaikan tetangganya yang juga kena gusur, Suyati, 48. Jika bangunan rumahnya sudah dibongkar, untuk sementara dia akan tinggal di rumah anaknya. “Ini sedikit demi sedikit bangunan rumah sudah mulai kami bongkar, nyicil, karena tenggat waktunya sebentar lagi, akhir bulan ini. Enggak enak sama pemerintah,” tutur Yati, sapaannya.

Yati mendapatkan bantuan ongkos bongkar bangunan senilai Rp2,1 juta ditambah Rp2,6 juta. Warga penghuni tanah negara tersebut menerima dan pasrah dengan dana bantuan senilai itu asalkan pemerintah memenuhi janji untuk memprioritaskan warga Kenteng mengakses sumber penghasilan saat proyek RSUD berlangsung, bahkan jika RSUD sudah beroperasi nantinya.

“Ya, dulu waktu sosialisasi kan pernah dijanjikan kami bisa buka usaha, bisa ngladheni [melayani menyediakan makanan] bagi pekerja proyek, bahkan kalau rumah sakit sudah jadi kami bisa berjualan di kantin, semoga ke depan bisa jadi sumber perbaikan kehidupan warga yang terkena gusur,” tutur Yati.

Pemilik usaha jual beli kayu, Ny. Giyono, menjelaskan sudah sepekan terakhir pekerjanya bergotong-royong memindahkan barang dagangan ke kios yang baru di Jl. Nyi Ageng Serang. “Ya, karena bulan ini katanya harus sudah selesai.

Lowongan Pekerjaan
OPERATOR CETAK PT Solo Grafika Utama, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Mantu Berasa Komunikasi Budaya

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (10/11/2017). Esai ini karya Prilani, pengajar Ilmu Komunikasi di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri, Jawa Timur. Solopos.com, SOLO–Mantu adalah prosesi ritual para orang tua melepas masa lajang anak-anak mereka. Peristiwa sakral…