Manajer Divisi Pendampingan, Rifka Annisa, Indiah Wahyu Andari [berdiri] menyampaikan materi seminar pembangunan sekolah aman di Aula Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Gunungkidul, Senin (13/11/2017) (Harian Jogja/Irwan A. Syambudi) Manajer Divisi Pendampingan, Rifka Annisa, Indiah Wahyu Andari [berdiri] menyampaikan materi seminar pembangunan sekolah aman di Aula Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Gunungkidul, Senin (13/11/2017) (Harian Jogja/Irwan A. Syambudi)
Selasa, 14 November 2017 15:20 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Waduh, Ternyata Potensi Kekerasan di Lingkungan Sekolah Masih Tinggi

Kasus kekerasan di lingkungan sekolah banyak terjadi sepanjang tahun

Solopos.com, GUNUNGKIDUL-Banyaknya waktu yang dihabiskan seorang anak atau atau murid di lingkungan sekolah membuat potensi kekerasan terhadap anak semakin tinggi. Untuk itu penting untuk membangun lingkungan sekolah yang aman dan nyaman untuk belajar.

Hal itu diungkapkan Manajer Divisi Pendampingan Rifka Annisa Indiah Wahyu Andari saat seminar membangun sekolah aman, di Aula Dinas Pendidikan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupetan Gunungkidul, Senin (13/11/2017). Ia mengatakan, selama ini kekerasan di lingkungan sekolah masih kerap dijumpai.

Sebagai salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang fokus bergerak di bidang perempuan dan anak, Rifka Annisa mencatat kasus kekerasan di lingkungan sekolah banyak terjadi sepanjang tahun. “Bentuknya seperti kekerasan seksual, kekerasan fisik, kekerasan psikis, perundungan, dan juga ekploitasi,” kata dia, Senin kemarin.

Lanjutnya lagi, kasus kekerasan tersebut biasanya dilakukan karyawan sekolah, guru, dan teman sebaya kepada murid. Dan kasus tersebut banyak terjadi lantaran belum ada sistem yang jelas dalam upaya penanganan kekerasan di lingkungan sekolah. “Sering kali sekolah itu gagap dalam mengatasi kasus kekerasan yang terjadi, sehingga penanganannya jadi berbeda-beda. Ada yang malah tidak tertangani, dan situasinya malah menjadi lebih buruk,” kata Indiah.

Sementara itu, Penilik Madya Pendidikan Anak Usia Dini, UPTD Disdikpora Gunungkidul Sugiran mengakui selama ini memang belum ada standar khusus dalam penganaman kekerasan di sekolah. Dan memang selama ini belum ada himbauan khusus ke sejumlah sekolah terkait dengan penanganan kekerasan.

“Nanti saya akan menghadap kepala dinas [Disdikpora] agar dibuat surat edaran khusus supaya sekolah-sekolah melaksanakan upaya penanganan kekerasan sesuai standart,” ujarnya.

Selain itu pihaknya juga akan mendorong supaya Disdikpora dapat segera memiliki tim khusus untuk melakukan pemantauan di setiap sekolah. Kanal informasi pengaduan adanya kekerasan pun juga akan segera dibuat agar penangananya semakin cepat.

Berdasarkan pengamatannya selama ini kasus kekerasan di lingkungan sekolah memang jumlahnya masih tergolong sedikit. Namun dirinya meyakini, kasus kekerasan dilingkungan sekolah banyak terjadi, tetapi banyak diantaranya yang tidak terungkap karena tidak ada yang berani melapor.

Salah seorang murid dari SMA N 1 Wonosari Amalia Dwi Anisa mengakui potensi kekerasan di lingkungan sekolah memang sangat tinggi. Dia mencontohkan kekerasan yang sering terjadi adalah kekerasan dari teman sebaya. “Misalnya ada teman yang memiliki sikap yang tempramen karena memang memiliki latar belakang masalah yang ada di keluarganya,” ungkapnya.

Lowongan Pekerjaan
OPERATOR CETAK PT Solo Grafika Utama, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Dilema antara Pakem dan Showbiz

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/11/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Wayang yang kian dilupakan masyarakat jamak teringat kala mendekati momen…