Warga Kwagon Sidorejo Godean menggelar Saparan Kwagon, Minggu (12/11/2017). (Harian Jogja/Abdul Hamid Razak) Warga Kwagon Sidorejo Godean menggelar Saparan Kwagon, Minggu (12/11/2017). (Harian Jogja/Abdul Hamid Razak)
Selasa, 14 November 2017 14:55 WIB Abdul Hamid Razak/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Tak Sekadar Prosesi Tahunan, Ini Makna Saparan Kwagon Godean

Dukuh Kwagon Sukiman mengatakan, acara tradisi Saparan dan Merti dusun sudah dilaksanakan sejak dulu

Solopos.com, SLEMAN-Warga Kwagon Sidorejo Godean menggelar Saparan Kwagon. Kegiatan tahunan ini tidak hanya menjadi ritual semata. Ada banyak makna yang dikandung dar kegiatan tersebut.

Dukuh Kwagon Sukiman mengatakan, acara tradisi Saparan dan Merti dusun sudah dilaksanakan sejak dulu. Saat itu,¬† mata pencaharian warga Kwagon sebagai pengrajin genteng, maka sebagai wujud syukur kepada Tuhan warga mengadakan sesaji kenduri. “Biasa kami gelar setiap bulan Sapar pada tahun jawa,” katanya kepada Harian Jogja, Minggu (12/11/2017).

Sukiman menjelaskan, tradisi saparan ini mengandung maksud dan tujuan sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rejeki agar sebagian masyarakat yang berprofesi sebagai pembuat genteng melalui penggalian tanah liat di gunung-gunung sekitarnya dapat terhindar dari aral dan mara bahaya. Selain itu, acara ini juga dimaksudkan untuk melestarikan tradisi dan nilai tradisional budaya Jawa.

“Tradisi saparan dan merti dusun setiap tahunnya mengalami perubahan. Dalam arti mengalami peningkatan, baik dalam hal jenis maupun kegiatannya. Kalau dulu setiap saparan dan merti dusun hanya dengan acara kenduri saja, mulai 2006 tradisi ini dilakukan dengan mengarak gunungan. Gunungan ini kemudian diperebutkan oleh warga,” katanya.

Dia menjelaskan, tradisi itu merupakan suatu tradisi budaya yang dikemas sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan untuk wisata tradisi di pedukuhan Kwagon. Total terdapat 196 KK dengan 665 pnduduk di padukuhan ini. Sebanyak 115 KK atau 432 orang terlibat langsung dalam usaha kerajinan genteng. Sisanya bermata pencaharian sebagai petani, pegawai, warung dan pekerjaan lainya.

“Warga pendatang yang terlibat sebagai pengrajin Genteng ada sekitar 30 orang. Di sini masih ada tobong atau tempat pembakaran genteng sebanyak 57 tobong genteng,” sergahnya.

Berangkat dari itulah, tradisi Saparan menjadi acara rutin yang diakui masyarakat sebagai tradisi kejawen. Masyarakat percaya pada bulan tersebut diyakini sebagai bulan baik untuk melakukan sedekah alam atau labuhan. “Kami modifikasi dengan acara tambahan atau pendamping sebagai unsur hiburan,” jelasnya.

Sudah bertahun-tahun yang lalu setiap bulan Sapar mengadakan upacara sesaji berwujud kenduri. Lokasinya di area pertambangan lempong. Kemudian kenduri tersebut dimakan bersama agar keselamatan dan keberhasilan dari tambang lempong tersebut selalu menyertai usaha warga.

Ketua Panitia Yuli Karnomo Puncak acara Saparan Kwagon ini berupa pentas Tari Kolosal Dumadining Kwagon dilanjutkan dengan kirab budaya yang berawal dari Halaman Dukuh Kwagon menuju ke lokasi penambangan lempong di Bukit Bendo Bakungan Kwagon. Usai kirab juga dipentaskan pertunjukan Jathilan Mudho Wiromo.

Kirab budaya dalam acara puncak Saparan Kwagon tersebut diikuti oleh berbagai potensi seni budaya yang ada di Dusun Kwagon dan sekitarnya, diantaranya Bregada Kismo Kuncoro, Bregada Moyo Kusumo, kontingen FBPS UNY, kontingen SDN Kwagon, berbagai kelompok kesenian dan segenap masyarakat Kwagon dan sekitarnya.

Dia menambahkan, rangkaian acara Saparan Kwagon dimulai beberapa hari sebelumnya. Pada Jumat (10/11/2017) diadakan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk oleh dalang Ki Bayu Sugati dengan lakon Wahyu Sorenglobong dengan bintang tamu Sugiman Dwi Nurseto CS. Sedangkan Sabtu (11/11/2017) dilaksanakan sesaji nDodog Lawang delanjutkan kenduri wilujengan.

Lowongan Pekerjaan
OPERATOR CETAK PT Solo Grafika Utama, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Dilema antara Pakem dan Showbiz

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/11/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Wayang yang kian dilupakan masyarakat jamak teringat kala mendekati momen…