Sejumlah pedagang Pasar Klewer timur menata kios daruratnya di Alut Keraton Solo, Selasa (19/9/2017). (Bayu Jatmiko Adi/JIBI/Solopos) Sejumlah pedagang Pasar Klewer timur menata kios daruratnya di Alut Keraton Solo, Selasa (19/9/2017). (Bayu Jatmiko Adi/JIBI/Solopos)
Selasa, 14 November 2017 16:35 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Solo Share :

Revitalisasi Pasar Tak Jelas, Ini Tanggapan Pedagang Klewer Timur Solo

Pedagang Pasar Klewer timur Solo menanggapi soal revitalisasi pasar yang tak jelas.

Solopos.com, SOLO — Pedagang dari Pasar Klewer sisi timur yang kini menempati pasar darurat di Alun-alun Utara (Alut) Keraton Solo pasrah dengan ketidakjelasan proyek revitalisasi pasar tersebut.

Mereka masih punya keyakinan pemerintah dalam hal ini Pemerintah Kota (Pemkot) Solo maupun Kementerian Perdagangan (Kemendag) serius merealisasikan pembangunan pasar yang dialokasikan dalam APBN senilai Rp48 miliar tersebut.

“Kami yakin pemerintah serius mencari solusi agar proyek pasar bisa segera dimulai. Ini kan kebetulan ada kendala, kami kurang tahu apa itu karena bukan kapasitas kami, yang jelas pedagang tidak terlalu memikirkan masalah itu,” kata Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Klewer Timur, Sutarso, Selasa (14/11/2017).

Berdasarkan perbincangan Solopos.com dengan sejumlah pedagang, mereka tidak terlalu memusingkan hambatan revitalisasi pasar karena dengan menempati kios di Alut Keraton Solo ada keuntungan tersendiri yang dirasakan pedagang. (Baca: Konsultasi dengan Kemendag Mentok, Revitalisasi Pasar Klewer Timur Batal?)

Di pasar darurat, pedagang menempati kios yang lebih luas yakni berukuran sekitar 2,6 x 3,4 meter. Lorong antarblok kios yang menjadi lalu lalang pengunjung pun lebih longgar dengan lebar rata-rata sampai 2,5 meter.

Sementara di Pasar Klewer sebelumnya, luas kios hanya 1,5 x 2 meter dan 2 x 2 meter dengan lorongnya sempit mungkin hanya 1,5 meter. Merujuk rencana pembangunan Pasar Klewer, nantinya pedagang mendapatkan kios dengan luas yang hampir sama dengan luas kios sebelumnya.

Di pasar darurat Alut Keraton Solo, akses pengunjung juga lebih mudah apalagi ada area parkir yang memadai. Sementara di Pasar Klewer sebelumnya, pengunjung harus parkir dengan memakan badan Jl. Gajah Suranto.

Kendati demikian, saat hujan pedagang dipusingkan dengan potensi luapan air. Dalam waktu dekat pedagang mengagendakan pertemuan dengan Dinas Perdagangan (Disdag) Solo. Namun, menurut Sutarso, agenda pertemuan tidak memprioritaskan membahas masalah pembangunan pasar melainkan kondisi pasar darurat saat ini. (Baca: Lelang Pasar Klewer Gagal Lagi, Rudy Temui Mendag)

Meningkatnya curah hujan membuat sebagian pedagang ketar-ketir karena saluran pembuangan air di sekitar Alut Keraton tidak berfungsi maksimal. Saat hujan deras, muncul luapan air di komplek pasar darurat .

Beruntung air belum sampai masuk ke dalam kios pedagang. “Tapi untuk pasar darurat di bagian timur itu sudah nyaris kebanjiran karena kebetulan sebelah timur lebih rendah dari yang sisi barat,” kata Sutarso.

Sebagian pedagang mulai menutup pintu kios dengan cor-coran setebal satu batu bata dengan tujuan saat hujan deras air tidak sampai masuk kios. “Kami berharap ada perhatian dari pemerintah untuk antisipasi banjir. Kalau hanya mengandalkan inisiatif usaha dari pedagang kan sulit. Apalagi kalau ternyata kami akan lama berjualan di sini. Namun demikian kami berharap sebelum musim hujan tahun depan, proyek pasar sudah selesai,” tutur dia.

Menurut dia, dengan berlama-lama di Alut Keraton Solo beban biaya untuk keamanan semakin berat. Setiap bulan, paguyuban mengeluarkan dana Rp12 juta untuk keamanan. Padahal, uang hasil dari iuran pedagang Rp10.000/pekannya hanya Rp8 juta. “Yang Rp4 juta kami ambilkan kas paguyuban dulu.”

Hampir dua bulan menempati Alut Keraton, sejumlah pedagang mengaku ada penurunan omzet. Namun, penurunan omzet bukan disebabkan mereka menempati pasar darurat melainkan merupakan siklus musiman.

Pedagang lainnya, Tri Suwarni, menjelaskan Pasar Klewer sisi timur adalah jujugan bakul dari berbagai daerah yang kulakan produk garmen. “Ini memang musimnya sepi. Jadi omzet turun bukan karena lokasi pasar tapi memang sedang siklusnya sepi,” kata Tri.

Tri pun mengaku pasrah dan menyerahkan urusan kelanjutan proyek pasar pada Pemkot Solo. “Biar bagaimanapun alun-alun bukan tempat kami, harapannya revitalisasi segera terealisasi dan pedagang bisa segera kembali ke pasar,” kata Tri. (Baca: Pemkot Solo Hentikan Lelang Proyek Revitalisasi Pasar Klewer Timur)

Seorang pedagang bakso, Hartanto, pemilik hak penempatan kios di Pasar Klewer sisi timur mengetahui perihal ketidakjelasan kelanjutan proyek revitalisasi dari pemberitaan di media massa. Kemungkinan pedagang akan berjualan lebih lama di pasar darurat menjadi keuntungan tersendiri bagi Hartanto. Dia bisa mengulur waktu untuk meneruskan usaha dagang baksonya.

Kebetulan dia punya hak kios di Klewer, namun setelah direvitalisasi, pedagang makanan tidak boleh berjualan di dalam pasar. “Jadi untuk melanjutkan usaha bakso nanti saya harus cari kios baru, sedangkan hak kios saya di Klewer nanti mau saya pakai untuk jualan pakaian,” kata Hartanto yang di satu sisi juga berharap Pemkot segera punya solusi untuk merealisasikan proyek Klewer.

 

Lowongan Pekerjaan
OPERATOR CETAK PT Solo Grafika Utama, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Dilema antara Pakem dan Showbiz

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/11/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Wayang yang kian dilupakan masyarakat jamak teringat kala mendekati momen…