Para petani mengikuti pelelangan cabai saat Pasar Lelang Cabai di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Belik Legi Kismantoro, Senin (14/11/2017) malam. (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos) Para petani mengikuti pelelangan cabai saat Pasar Lelang Cabai di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Belik Legi Kismantoro, Senin (14/11/2017) malam. (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos)
Selasa, 14 November 2017 22:35 WIB Ahmad Wakid/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

PERTANIAN WONOGIRI
Punya Pasar Lelang Cabai, Ini Keuntungan bagi Petani Kismantoro

Petani Kismantoro, Wonogiri, banyak diuntungkan dengan adanya pasar lelang cabai.

Solopos.com, WONOGIRI — Asosiasi Petani Cabai Kismantoro bersama Bank Indonesia Solo dan Dinas Pertanian dan Pangan Wonogiri menggelar Pasar Lelang Cabai di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Belik Legi Kismantoro, Senin (14/11/2017) malam.

Lelang cabai kali pertama itu membantu petani setempat menjual hasil pertanian dengan harga lebih tinggi. Asosiasi Petani Cabai Kismantoro, Wahid, mengatakan 26 petani dari lima desa di Kecamatan Kismantoro menjual hasil pertanian mereka melalui Pasar Lelang Cabai. (Baca: Diresmikan Senin, Kismantoro Punya Pasar Lelang Cabai)

Dari 26 petani itu terkumpul cabai 4,25 kuintal. Jenis cabai itu didominasi cabai merah keriting. Dari enam pembeli yang terdaftar, hanya dua pembeli yang datang yakni Jumari dari Pacitan dan Ratno dari Kismantoro.

“Alhamdulillah, cabai terjual dengan harga Rp26.500/kg. Penawaran harga tertinggi itu dimenangi Pak Jumari,” kata Wahid ketika dihubungi Solopos.com, Selasa (14/11/2017).

Wahid menyebut terjualnya cabai dengan harga Rp26.500/kg memberikan keuntungan kepada petani. Menurutnya, harga cabai di tingkat petani lokal rata-rata Rp22.000/kg sehingga para petani yang mengikuti lelang cabai itu mendapat keuntungan Rp4.000/kg.

Sebanyak 4,25 kuintal cabai yang dilelang ludes dibeli Jumari yang mengeluarkan uang Rp11,2 juta. Dia menilai pelelangan kali pertama tersebut sesuai harapan petani. Oleh karena itu, pelelangan cabai akan dilakukan setiap lima hari sekali tepatnya pada hari pasaran Pahing di tempat yang sama mulai pukul 18.30 WIB.

Menurutnya, pelelangan selanjutnya pada Sabtu (18/11/2017) jumlah petani dan desa yang terlibat akan semakin banyak. Kelima kelurahan/desa yang mengikuti pelelangan perdana yakni Kismantoro, Gedawung, Ngroto, Bugelan, dan Gambiranom.

“Informasi adanya Pasar Lelang Cabai ini kami sebarkan dari mulut ke mulut jadi nanti semakin banyak. Apalagi, masa panen cabai bervariasi ada yang sudah empat kali petik dan ada yang baru dua kali petik,” imbuhnya.

Pasar Lelang Cabai itu digelar untuk keseragaman harga di tingkat petani sehingga tidak ada petani yang cabainya dibeli dengan harga yang lebih rendah dari harga umumnya. “Ini juga sebagai pembelajaran bagi kami mengenai transparasi harga sehingga harga jual di kalangan petani sama. Selain itu, pasar lelang ini untuk memutus rantai tata niaga agar tidak panjang. Jadi, hasil pertanian petani langsung dijual melalui pasar lelang,” ujar Wahid.

Sementara itu, Kepala Seksi Hortikultura, Joko Riyanto, mewakili Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Wonogiri, Safuan, menambahkan pasar lelang tersebut ke depan tidak hanya menjual cabai, namun juga hasil pertanian lainnya, khususnya tanaman hortikultura. “Nantinya kalau musim cabai sudah habis, bisa diganti dengan tanaman lainnya,” kata dia.

 

Lowongan Pekerjaan
OPERATOR CETAK PT Solo Grafika Utama, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Dilema antara Pakem dan Showbiz

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/11/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Wayang yang kian dilupakan masyarakat jamak teringat kala mendekati momen…