Ilustrasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). (JIBI/Solopos/Antara) Ilustrasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). (JIBI/Solopos/Antara)
Selasa, 14 November 2017 07:40 WIB Kota Jogja Share :

Ini Lo Negatifnya Kalau Soal UN Pakai Esai

Pemerintah wacanakan penerapan soal esai dalam ujian nasional (UN).

Solopos.com, JOGJA— Pemerintah berencana menambah variasi soal dalam Ujian Nasional (UN) 2018 mendatang, salah satunya menambah jenis soal esai. Meski belum ada keputusan penggunaan jenis soal tersebut, Disdikpora DIY menyambut baik rencana tersebut dan sekolah sudah mempersiapkannya.

Namun masalahnya, soal esai dalam proses koreksi hasilnya sangat dipengaruhi subjektivitas guru.Kepala Disdikpora DIY Kadarmanta Baskara Aji mengakui adanya rencana pemerintah terkait penambahan variasi soal dalam UN 2018 meski belum ada keputusan resmi. Jika sebelumnya hanya mengedepankan soal pilihan ganda, maka UN 2018 diwacanakan ada beberapa jenis soal seperti esai, mengisi titik-titik dan pilihan benar atau salah. “Tetapi sampai hari itu juga belum dipastikan, diputuskan [oleh pusat],” terang Aji kepada Solopos.com, Senin (13/11/2017).

Belum adanya kepastian itu, lanjut dia, karena masih ada kesulitan teknis dari sisi koreksi. Mengingat subjektivitas koreksi sangat tinggi, lantaran harus dibaca oleh guru atau korektor. Sementara antara guru satu dengan lain yang sama-sama mengoreksi berbeda. Sehingga ada peluang ketidakpuasan antara kelompok satu dengan lainnya terkait hasil UN.

Meski belum ada kepastian, namun sekolah diimbau untuk mempersiapkan. Sekolah didorong dapat melakukan uji coba penggunaan soal jenis itu dalam berbagai evaluasi pelajaran. Terutama. Jika menggunakan basis komputer dalam pelaksanaan UN. Meski menggunakan komputer, soal esai dan jenis lainnya sudah ada, sehingga siswa tinggal menuliskannya melalui layar komputer dalam proses penjawaban. Kemudian guru yang mengoreksi akan melakukan dari komputer pula. Namun, karena bersifat nasional, maka secara teknis ada kendala jika ada soal esai terutama dalam proses koreksi. “Apa kita yakin, guru yang diserahi mengoreksi esai itu antara satu dengan lainnya memiliki pandangan yang sama, sebetulnya agak sulit,” kata dia.

Terkait wacana perubahan soal UN, Kepala SMK N 5 Jogja Wiwik Indriyani mengatakan, soal esai selama ini sudah menjadi kultur sekolah dalam melaksanakan ujian tengah semester maupun ulangan harian. Sehingga ia tidak mempersoalkan jika ada soal jenis tersebut. Apalagi, saat ini UN bukan satu-satunya penentu kelulusan. “Soal esai sudah jadi kultur penilaian. Permasalahannya jika memakai essay nanti pedoman skornya nilai harus jelas dan soal harus diverifikasi dan divalidasi dengan baik,” kata dia.

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…