Ilustrasi Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bersama bocah pelajar. (JIBI/Solopos/Antara/Dok. Setda Pemkot Semarang) Ilustrasi Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bersama bocah pelajar. (JIBI/Solopos/Antara/Dok. Setda Pemkot Semarang)
Selasa, 14 November 2017 07:50 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

19% Remaja Semarang Tak Bisa Sekolah sampai SMP

Pendidikan di Semarang masih cukup rendah dengan banyaknya remaja yang tak bisa sekolah sampai SMP.

Solopos.com, SEMARANG – Belum semua remaja di Kota Semarang mampu menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun. Terbukti, dari seluruh remaja usia 12-15 tahun di ibu kota Jawa Tengah (Jateng) itu baru sekitar 81% menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SMP.

Hal tersebut diungkapkan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, saat memimpin upacara di SMPN 7, Kota Semarang, Senin (13/11/2017).

“Data dari Biro Pusat Statistik [BPS] tahun 2015 menyebutkan baru sekitar 81% anak berusia 12 tahun-19 tahun di Kota Semarang yang mengenyam pendidikan tingkat SLTP. Artinya, ada teman-teman sebaya kalian, sekitar 19% tidak bisa sekolah di SMP,” tutur pria yang akrab disapa Hendi itu dalam siaran pers yang diterima Semarangpos.com dari tim media dan publikasi Hendrar Prihadi, Senin.

Hendi menyebutkan berbagai alasan yang menyebabkan para remaja itu putus sekolah. Mulai dari faktor kecerdasan, semangat melanjutkan pendidikan, hingga keterbatasan ekonomi orang tua.

“Saya kemarin sempat bertemu dengan anak seusia kalian saat di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Ia menjadi kuli panggul untuk mendapat uang. Saya tanya, ‘sekolah enggak? Enggak Pak. Lo kenapa? Kalau enggak sekolah ngapain?’ Dia jawab, ‘setiap pagi jadi kuli panggul bisa dapat Rp50.000-Rp100.000. Kalau sekolah enggak bisa dapat uang’. Jadi sudah puas. Padahal, dia tidak tahu kalau kehidupan akan berjalan sampai dia berusia 50 tahun, 70 tahun, bahkan 80 tahun,” cerita Hendi.

Selain itu, Hendi juga menceritakan pengalamannya bertemu dengan anak yang sedang mengemis di sebuah perempatan Kota Semarang. Saat ditanya, anak pengemis itu mengaku mau bersekolah seandainya ada biaya.

Namun, orang tua si anak itu tidak setuju anaknya bersekolah. Orang tua itu mau merelakan anaknya menempuh pendidikan dengan syarat ada yang memberikan ganti hasil mengemis Rp25.000-Rp50.000 per hari.

“Saya tanya ke ibunya,’Bu, besok anaknya saya sekolahkan. Biayanya gratis dari pemerintah?’ Ibunya malah balik bertanya,’Saya dapat apa?’ Maksude piye [maksudnya bagaimana]? Sudah dibayari masih njaluk,” tutur Hendi.

Melihat kondisi itu, Hendi pun meminta para remaja yang saat ini tengah mengenyam pendidikan SMP untuk belajar segiat mungkin demi meraih masa depan yang diimpikan. Ia juga mengajak seluruh warga Kota Semarang untuk bersama-sama menyukseskan program pengentasan kemiskinan dan pengangguran dengan cara mendorong anak muda untuk semangat bersekolah.

Selain memimpin upacara, dalam kesempatan itu, Hendi juga membagikan kartu T-Cash kepada para siswa SMPN 7 Semarang. Kartu T-Cash itu bisa digunakan para siswa untuk membayar bus rapid transit [BRT].

Lowongan Pekerjaan
OPERATOR CETAK PT Solo Grafika Utama, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Dilema antara Pakem dan Showbiz

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/11/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Wayang yang kian dilupakan masyarakat jamak teringat kala mendekati momen…