Seorang wanita yang melahirkan bayi di pinggir jalan Desa Pule beberapa waktu lalu dibawa petugas UPT Rehabilitasi Sosial Bina Karya Madiun setelah menjalani perawatan di RSUD Caruban, Senin (13/11/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Seorang wanita yang melahirkan bayi di pinggir jalan Desa Pule beberapa waktu lalu dibawa petugas UPT Rehabilitasi Sosial Bina Karya Madiun setelah menjalani perawatan di RSUD Caruban, Senin (13/11/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Senin, 13 November 2017 19:07 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

Wanita Melahirkan di Pinggir Jalan Warga Binaan UPT Rehabilitasi Madiun

Wanita yang melahirkan di pinggir jalan beberapa waktu lalu ternyata warga binaan UPT Rehabilitasi Sosial Bina Karya Madiun.

Solopos.com, MADIUN — Seorang wanita yang melahirkan di pinggir jalan Desa Pule, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Madiun, Jumat (10/11/2017), ternyata warga binaan UPT Rehabilitasi Sosial Bina Karya Madiun. Wanita yang tak diketahui identitasnya itu diketahui kabur dari tempat rehabilitasi tersebut sejak sepekan sebelumnya.

Kasi Pelayanan Sosial UPT Rehabilitasi Sosial Bina Karya, Didik Maryanto, mengatakan wanita tanpa identitas yang biasanya dipanggil Yati ini mengalami gangguan psikotik, tunarungu, dan tunawicara. Karena itu wanita yang diperkirakaran berusia 25 tahun ini tidak dapat menyebutkan identitasnya. (Baca: Gelandangan Perempuan Lahirkan Bayi Perempuan di Pinggir Jalan Tanpa Bantuan Medis)

Dia mengaku petugas dari UPT telah mencari Yati di sekitar Madiun dan Ponorogo. Namun tidak ditemukan. Justru keberadaan Yati ditemukan warga Desa Pule yang saat itu melahirkan di pinggir jalan.

“Yati merupakan gelandangan yang terjaring operasi penertiban Dinas Sosial Nganjuk. Setelah itu diserahkan kepada UPT Rehabilitasi Sosial Bina Karya milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Madiun,” kata Didik saat menjemput wanita itu di RSUD Caruban, Kabupaten Madiun, Senin (13/11/2017).

Dia menuturkan Yati diserahkan ke UPT Rehabilitasi Bina Karya Sosial sejak awal Januari 2017. Sedangkan kehamilan Yati diketahui petugas saat usia kandungan sudah tiga bulan.

Informasinya, kata dia, kehamilan ini merupakan kehamilan kedua. Sebelumnya wanita ini sudah pernah melahirkan dan anaknya diadopsi orang lain. Didik mengaku belum mengetahui siapa pria atau ayah kandung bayi yang dilahirkan Yati.

“Kami sulit untuk mendeteksi siapa yang menghamili Yati, karena yang bersangkutan tidak bisa bicara dan tuli,” ujar dia.

Pada suatu saat, Yati hanya memberikan isyarat yang menghamilinya seorang pria berkumis dan kerjanya sopir. Didik menuturkan petugas UPT tersebut ada 40 orang dan selalu mengawasi para pasien yang berjumlah sekitar 100 orang.

“Ini mau dibawa ke Dinas Sosial Nganjuk dan selanjutnya ke RSJ Lawang untuk mendapatkan perawatan,” ujar dia.

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten Madiun, Tatuk Mahmawati, mengatakan bayi yang baru saja dilahirkan Yati akan dibawa UPT Pelayanan Sosial Anak Balita (PSAB) Dinsos Jawa Timur di Sidoarjo. “Kami sudah koordinasi dengan UPT PSAB Dinsos Jatim. Kemarin sudah koorinasi dengan kepalanya, nanti setelah semuanya klir segera dijemput,” ujar dia.

 

Loading...

Kolom

GAGASAN
Dilema antara Pakem dan Showbiz

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/11/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Wayang yang kian dilupakan masyarakat jamak teringat kala mendekati momen…