Antrean mobil membayar uang jasa penggunaan di ruas jalan tol Bawen-Salatiga menjelang gerbang tol Salatiga, Jateng Selasa (20/6/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aloysius Jarot Nugroho) Antrean mobil membayar uang jasa penggunaan di ruas jalan tol Bawen-Salatiga menjelang gerbang tol Salatiga, Jateng Selasa (20/6/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aloysius Jarot Nugroho)
Senin, 13 November 2017 20:05 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

TOL SEMARANG
Pengguna Tol Berkurang sejak E-Toll Diberlakukan

Jalan tol dalam Kota Semarang menggalami penurunan semenjak diberlakukan e-toll card.

Solopos.com, SEMARANG – Pengguna ruas jalan tol dalam Kota Semarang mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan itu terjadi semenjak diberlakukannya kewajiban membayar tol secara nontunai atau dengan menggunakan e-toll card.

Semenjak 15 Oktober 2017, seluruh ruas jalur tol dalam Kota Semarang memang memberlakukan pembayaran dengan menggunakan e-toll card. Kebijakan itu imbas dari program pemerintah yang mencanangkan Gerakan Non Tunai di jalan tol demi mengantisipasi kemacetan.

Kepala Humas Jasa Marga Kota Semarang, Andy Susilo, mengatakan semenjak diberlakukan pembayaran dengan e-toll card, jumlah kendaraan yang masuk tol dalam Kota Semarang mengalami penurunan cukup signifikan. Jika sebelumnya rata-rata kendaraan masuk tol mencapai 150.000 per unit, semenjak diberlakukan e-toll card jumlah kendaraan yang masuk tol Semarang turun menjadi sekitar 135.000 unit per hari.

“Penurunannya cukup signifikan, yakni sekitar 10%. Penurunan terjadi pada kendaraan kelas II ke atas [truk, bus, dan angkutan berat]. Kalau yang kelas I, seperti kendaraan pribadi enggak terlalu signifikan,” beber Andy saat dihubungi Solopos.com, Senin (13/11/2017).

Menurunnya jumlah pengguna tol dalam Kota Semarang ini tentunya berimbas pada turunnya ke Jasa Marga Kota Semarang. Oleh karena itu, pihak Jasa Marga Kota Semarang terus berupaya menggelar sosialisasi pada pengguna kendaraan roda empat agar memiliki e-toll card.

“Memang kami akui pemasukan kami dari tol Semarang menurun. Tapi, itu konsekuensi yang harus dijalani demi menyukseskan program Gerakan Non Tunai yang dicanangkan pemerintah,” tegas Andy.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Dilema antara Pakem dan Showbiz

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/11/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Wayang yang kian dilupakan masyarakat jamak teringat kala mendekati momen…