Sejumlah peserta seleksi Panwascam menyampaikan keluhannya soal proses dan hasil seleksi ke Kantor Panwaslu Sleman, Senin (13/11/2017). (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja). Sejumlah peserta seleksi Panwascam menyampaikan keluhannya soal proses dan hasil seleksi ke Kantor Panwaslu Sleman, Senin (13/11/2017). (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja).
Senin, 13 November 2017 20:40 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Seleksi Panwascam di Sleman Diprotes Gara-Gara Ini

Peserta tak lolos keluhkan seleksi Panwascam.

Solopos.com, SLEMAN— Empat peserta seleksi Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) Sleman mengaku tak puas dengan proses dan hasil seleksi. Salah satu keluhan terkait adanya anggota Panwascam lolos seleksi yang tidak berdomisili di wilayah kerjanya.

Sejumlah peserta seleksi menyampaikan keluhannya dengan datang langsung ke Kantor Panwaslu di Sleman, Senin (13/11/2017). Keempat peserta tersebut berasal dari Kecamatan Turi, Pakem, Tempel, dan Moyudan yang sebelumnya pernah menjabat sebagai ketua panwascam daerah masing-masing. Eka Indarta salah satu peserta seleksi asal Moyudan mengaku tak puas dengan hasil seleksi yang diumumkan Panwaslu Sleman.

Pasalnya, dari tiga orang yang diterima, salah satunya tidak tinggal di Moyudan. “Padahal kalau diterima kan syaratnya harus kerja penuh waktu, 24 jam, sedangkan ada yang tidak tinggal di Moyudan,” ujar mantan ketua panwascam hingga empat periode ini ditemui seusai pertemuan kemarin.

Selain itu kata dia, dari hasil pengamatan sejumlah rekannya, peserta yang lolos tersebut juga tidak terlihat meyakinkan dalam menjalani seleksi tersebut termasuk kemampuan menggunakan komputer.

Ia juga semakin ragu karena peserta tersebut tidak berpengalaman sebagai panwascam sebelumnya. Meski tak lolos seleksi, pria yang sudah menjadi panwascam sejak 2004 silam ini mengaku tidak kecewa meskipun ia memutuskan mempertanyakan hasil seleksi.

Suharto, peserta seleksi asal Turi menyatakan datang untuk menanyakan kriteria penilaian Panwaslu dalam menentukan kelulusan. Pasalnya, ia merasa janggal tak lolos seleksi padahal bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Terlebih lagi, saat proses wawancara ia hanya ditanyai oleh satu komisioner dari tiga orang yang melakukan pengujian. “Pengujinya saja tidak nanya apa-apa kok bisa tidak lolos,” ujarnya bertanya-tanya. Ia menilai kemungkinan adanya kejanggalan dalam proses yang dijalankan dalam mendapatkan 52 orang panwascam itu.

Ketua Panwaslu Sleman, Ibnu Darpito mengatakan jika penilaian kelulusan dibagi menjadi tiga yakni ujian tulis, wawancara, dan keahlian dalam bidang komputer. Dalam proses wawancara memang dilakukan oleh tiga orang dengan porsinya masing-masing. Ia mengatakan jika peserta yang lolos sebagian besar memang petahana meski ada sejumlah wajah baru.

Untuk detail hasil penilaian sendiri memang tidak diumumkan ke publik selain nama-nama yang lolos. Terkait adanya sejumlah keluhan ini, ia mengatakan sudah menerangkan segala hal yang ditanyakan. “Sebenarnya semuanya mampu tapi kan harus dipilih tiga, jika ada yang kinerjanya tidak bagus pun otomatis ranking di bawahnya naik,” katanya.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Dilema antara Pakem dan Showbiz

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (8/11/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Wayang yang kian dilupakan masyarakat jamak teringat kala mendekati momen…